.
Loading...

Patriot Aceh dalam Surat Elizabeth I

Petikan teks surat Elizabeth I kepada Sultan Aceh,
'Alauddin Ri'ayat Syah bin Firman Syah (1602).
"Pertikaian yang baru akhir-akhir ini tampak bagi kami, di mana Yang Mulia beserta keluarga kerajaan, Bapak-bapak dan Kakek-kakek Tuan, telah dikenal (dengan karunia Tuhan dan keberanian mereka) tidak hanya membela kerajaan Tuan sendiri, tetapi juga melancarkan perang terhadap orang-orang Portugis di negeri-negeri yang mereka kuasai, sebagaimana yang terjadi di Malaka pada tahun pembebasan kemanusian, 1575, di bawah komando Kapten Ragamacota yang gagah berani, yang mengakibatkan kerugian besar di pihak mereka (Portugis), serta kehormatan abadi bagi mahkota dan kerajaan Yang Mulia." (Elizabeth I).

Kepahlawanan yang Terdengar sampai Jauh

Telah sampailah bacaan saya sejak beberapa malam yang lewat pada baris-baris kalimat yang ditulis oleh Almarhum H. Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, jilid 1, halaman 242 (1981). Luputlah sudah dari ingatan berapa kali sudah saya sampai kepada baris-baris tersebut tanpa menggerakkan apapun dalam diri saya. Kali ini, baris-baris itu memaksa saya untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu saya hentikan.

Baris-baris tersebut berbunyi begini:
"Mengenai surat menyurat Ratu Elizabeth dan Sultan Aceh masing-masing pihak telah membumbui suratnya dengan pujian atas kebesaran masing-masing. Ratu Elizabeth memuji kegagahan Sultan menyerang Portugis di Malaka dalam tahun 1575 di bawah panglima perangnya yang gagah berani, menurut surat Elizabeth itu, namanya Ragamakota."

Sesuatu yang telah menggerakkan saya dengan hebat dalam baris-baris itu tidak lain adalah sebuah nama: Ragamakota.

Mohammad Said tidak memberikan catatan mengenai sumber keterangannya tersebut. Penulis yang istimewa itu, di sini, juga terkesan ingin mencukupkan keterangannya mengenai panglima perang tersebut sampai di situ.

Karena "Ragamakota" adalah nama yang telah menggerakkan minat yang hebat, maka sudah tentu saya harus mendapatkan sumber keterangan tersebut, dan tentunya lagi, sumber itu adalah teks surat Ratu Elizabeth I.

Saya lantas teringat sebuah artikel bermanfaat yang dikirim oleh Annabel Teh Gallop beberapa waktu yang lalu. Artikel itu dibuat oleh A.C.S. Peacock (2016) dengan tajuk: "Three Arabic letters from North Sumatra of the sixteenth and seventeenth centuries" (Tiga surat berbahasa Arab dari utara Sumatra pada abad ke-16 dan ke-17). Di dalamnya, penulis artikel mengkaji tiga surat dari Aceh, di antaranya adalah surat dari Sultan 'Alauddin Ri'ayat Syah bin Firman Syah kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris.

Dalam satu catatannya, Peacock menyebutkan bahwa terjemahan Surat 'Alauddin kepada Elizabeth telah dipublikasi bersama surat Elizabeth kepada Sultan Aceh dalam Purchas 1625 dan dicetak kembali oleh Shellabear (1898). Saya kemudian telah memeriksa, baik dalam Hakluytus Posthumus Or Purchas His Pilgrimes oleh Samuel Purchas, B. D., Vol IV, maupun dalam An Account of some of the oldest Malay MSS. now extant oleh W. G. Shellabear dalam Journal of the Straits Branch of Royal Asiatic Society yang terbit pada Juli 1898, dan gagal menemukan Surat Elizabeth kepada Sultan Aceh dalam kedua rujukan tersebut. Namun bacaan-bacaan tersebut secara tidak langsung telah mengarahkan saya kepada The Voyages of Sir James Lancaster to The East Indies, yang diterbitkan oleh The Hakluyt Society.

Dalam The Voyages of Sir James Lancaster to The East Indies itulah saya menemukan teks lengkap surat Elizabeth I kepada Sultan 'Alauddin Ri'ayat Syah bin Firman Syah, dan di sini, saya hanya akan menukilkan kalimat-kalimat Ratu Elizabeth I berkenaan dengan nama "Ragamakuta" sebagaimana dimuat dalam sumber tersebut (hal. 79):
"The contrarie whereof hath very lately appeared unto us, and that your highnesse and your royalle familie, fathers, and grandfathers have (by the grace of God and their valour) knowne not onely to defend your owne kingdomes, but also to give warres unto the Portugals in the lands which they possesse, as namely in Malaca, in the yeere of Humane Redemption, 1575, under the conduct of your valient Captaine Ragamacota, with their great losse and the perpetuall honour of your highnesse crowne and kingdome."

Saya mencoba menerjemahkan kalimat-kalimat itu semampu saya:
"Pertikaian yang baru akhir-akhir ini tampak bagi kami, di mana Yang Mulia beserta keluarga kerajaan, Bapak-bapak dan Kakek-kakek Tuan, telah dikenal (dengan karunia Tuhan dan keberanian mereka) tidak hanya membela kerajaan Tuan sendiri, tetapi juga melancarkan perang terhadap orang-orang Portugis di negeri-negeri yang mereka kuasai, sebagaimana yang terjadi di Malaka pada tahun pembebasan kemanusian, 1575, di bawah komando Kapten Ragamacota yang gagah berani, yang mengakibatkan kerugian besar di pihak mereka (Portugis), serta kehormatan abadi bagi mahkota dan kerajaan Yang Mulia."

Penegasan Elizabeth I bahwa Sultan Aceh serta seluruh keluarga kerajaan dan bahkan para sultan sebelumnya, telah terkenal sebagai orang-orang yang tidak semata-mata mempertahankan negeri mereka sendiri, adalah suatu penegasan yang menarik untuk diberi sorotan dan ulasan yang lebih luas, namun hal itu biarlah dilakukan pada waktu yang kemudian. Sekarang biarlah kita beri perhatian kepada tokoh pahlawan yang disebut oleh Elizabeth I dalam suratnya sebagai kapten yang gagah berani, yang telah memegang komando penyerangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun "pembebasan kemanusiaan", 1575.

Mohammad Said telah mengadaptasikan nama "Ragamacota" sebagaimana tertulis dalam The Voyages of Sir James Lancaster dengan Ragamakota; yakni dengan hanya menggantikan "c" dalam bahasa Inggris dengan "k" dalam bahasa Melayu. Menurut saya, bila Ragamacota benar-benar diadaptasikan ke nama dalam bahasa Melayu, maka ia akan menjadi Raja Makuta (Aceh: Raja Meukuta). Inilah, menurut saya, nama sejati tokoh yang disebutkan bersama pujian oleh Elizabeth I di dalam suratnya kepada Sultan 'Alauddin Ri'ayat Syah bin Firman Syah.

Tahun penyerangan ke Malaka atau pembebasan kemanusiaan, 1575, yang tersebut dalam surat Elizabeth I adalah masa antara Ramadhan 982 Hijriah dan Ramadhan 983 Hijriah. Kerajaan Aceh dalam masa itu masih dalam pemerintahan Sultan 'Ali Ri'ayat Syah bin 'Alauddin Ri'ayat Syah yang kemudian wafat pada 12 Rabi'ul Akhir tahun 987 Hijriah (7 Juni 1579). Surat Elizabeth I membeberkan kemenangan Aceh dalam perang yang dipimpin seorang kapten laut Aceh yang gagah berani. Patriotisme dan kepahlawanan pemimpin perang ini terdengar sampai jauh dan berita kemenangannya masih terus saja tenar sekalipun telah berselang tahun-tahun yang lama; 1575 ke 1602.

Siapakah pemimpin legendaris ini sebenarnya?
Satu nisan jirat yang terdapat di kompleks makam yang dikenal dengan Makam Raja-raja Gampong Pande, di Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, telah mengabadikan sebuah nama sebutan untuk seorang wanita yang dijunjung dengan gelar: Sayyidatuna, yakni Empuan Kami. Nama kelahiran wanita ini, tampaknya, sudah kalah penting dengan nama panggilannya sehingga pada batu penanda kuburnya telah dicukupkan dengan nama panggilannya saja. Wanita ini dipanggil dengan (kunyah) Ummu Bangta Raja Meukuta 'Alam, ibunda dari Bangta Raja Meukuta 'Alam. Tampak sekali jika Bangta Raja Meukuta 'Alam merupakan sumber kebanggaan sang ibunda. Ia benar-benar seorang putra sebagaimana harapan ibundanya; seorang pahlawan yang gagah berani.
Lantas siapakah sang ibunda?

Inkripsi pada batu jirat tokoh wanita ini berbunyi:


1. بسم الله الرحمن الرحيم
2. هذه قبر سيدتنا أم بغت راج مكت عالم بنت
3. السلطان علي رعاية شاه
4. بن السلطان علاء الدين
Terjemahan:
1. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih
2. Inilah kubur Empuan kami Ummu (ibunda) Bangta Raja Meukuta 'Alam binti
3. Sultan 'Ali Ri'ayat Syah
4. bin Sultan 'Alauddin
Ternyata, wanita itu adalah putri Sultan 'Ali Ri'ayat Syah bin Sultan 'Alauddin, dan Bangta Raja Meukuta 'Alam adalah cucu dari Sultan 'Ali Ri'ayat Syah dan para pembela tanah air Islam di Asia Tenggara dalam abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi).

InskripsiUmmu Bangta Raja Meukuta 'Alam binti
 'Sultan 'Ali Ri'ayah Syah.
Saya yakin sekali, Bangta Raja Meukuta 'Alam inilah patriot legendaris yang disebut dalam surat Elizabeth I dari Inggris sebagai Kapten Ragamacota. Kepangkatannya sebagaimana dalam surat tersebut serta kedudukan dalam silsilah keturunannya sebagai cucu dari Sultan 'Ali Ri'ayat Syah yang pada 1575 (982/983 Hijriah) masih hidup, kiranya dapat memberikan kepada kita sebuah petunjuk bahwa Bangta Raja Meukuta 'Alam atau Ragamacota, dalam masa memimpin perang ke Malaka itu masih dalam usia muda belia. Kemenangan pemimpin muda ini dalam membela tanah air Islam di Asia Tenggara telah mengesankan Dunia hingga Ratu Inggris, Prancis dan Irlandia pada masa itu, Elizabeth I, tidak dapat melewatkan nama sang patriot ini dalam suratnya kepada Sultan Aceh yang sudah berganti, tapi tetap senang hatinya dengan surat tersebut.

Maka semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati dan mengampuni Sang Patriot Aceh, Bangta Raja Meukuta 'Alam dan kedua orangtuanya serta seluruh para pendahulu Aceh Darusalam yang mulia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin.
A'dahu-Llah 'alaina wa 'alaikum wa 'alal Ummah bil yumni wal barakat.
Bandar Aceh Darussalam, 1 Syawwal 1438.

Oleh: Musafir Zaman
Dikutp dari group facebook Mapesa.

Nisan jirat Ummu Bangta Raja Meukuta 'Alam binti
 'Sultan 'Ali Ri'ayah Syah.
 
Sejarah 927010556491080601

Post a Comment

Home item

Google+ Badge

Follow by Email

Popular Posts