Teluk Samawi

Bandar Teluk Samawi
Daerah ini pada masa kemudian dikenal dengan Lhokseumawe, sebuah kota di pantai utara Aceh. 
Von Schmidt, seorang kapten laut Belanda, mencatat dalam bukunya, Telok Semawe, de Beste Haven op Atjeh's Noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), 1887, bahwa Teluk Samawi terletak sekitar 6 mil sebelah barat Diamont Point (titik timur laut pulau Sumatra), dan telah diperuntukkan untuk perdagangan. Pantai sebelah baratnya merupakan kedudukan dari Negeri Teluk Samawi. 
Sambil memuat sebuah peta Teluk Samawi dalam bukunya itu, Kapten laut ini juga menyatakan bahwa Teluk Samawi memiliki lokasi yang bagus, di mana dalam waktu yang sama, ratusan kapal besar dapat menemukan tempat berlabuh yang bagus, dan kapal-kapal kecil dalam jumlah yang banyak dapat bersandar di dekat pantai. Bahkan, dalam kondisi angin timur laut yang bertiup terus menerus, rumpun-rumpun bambu dan pantai dapat bertahan di sepanjang laguna yang tidak hanya cocok untuk kapal-kapal kecil, tapi juga untuk kapal yang dapat dilayari. 
Peta dari buku Telok Semawé de beste haven op Atjeh's noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), 1887. Oleh J.H.P. von Schmidt auf Altenstadt.
Von Schmidt menerangkan pula bahwa untuk kapal uap dan kapal layar yang menuju Straits Settlements (Semenanjung Melayu), Cina, Jepang dan lainnya, atau kembali dari sana lewat Selat Malaka menuju jalur Cedar (Sedre Passage) atau bagian dekat Pulau Weh dan Pulau Breuh, Teluk Samawi dapat digunakan sebagai pelabuhan singgahan untuk berbagai perbaikan, menyuplai perbekalan, dan memasok batu bara atau air. 
Bagaimanapun, kepentingan Teluk Samawi di jalur pelayaran Dunia sebenarnya telah diketahui sejak ratusan tahun sebelum Von Schmidt. Sedikitnya sejak abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi), sebuah kerajaan Islam telah memantapkan keberadaannya di pesisir teluk itu. 
Sebelum abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi), daratan di lekuk laut pantai utara Aceh itu, tampaknya, telah mengundang ketertarikan banyak orang dari daratan benua Asia untuk berkunjung lantas menetap di sana.
Nama satu kawasan besar di bagian timur Teluk Samawi, yang hari ini menjadi wilayah-wilayah administratif Kecamatan Syamtalira Bayu, Kecamatan Samudera, Kecamatan Syamtalira Aron, memberitahukan secara pasti akan adanya sebuah toponimi kuno berkenaan dengan daratan ini. Toponimi kuno itu adalah Syamtalira. 
Setelah dilakukan pelacakan ke asal usul bahasa dari nama ini, ternyata, ditemukan bahwa nama ini berasal dari bahasa Kurdi; "Syamata" (Şamata) yang berarti tanah mengandung garam, dan "Liyrah" yang berarti di sini (Fazel Nizameh Din, Ferhengê Estêre Geşe, 2003). Nama ini dengan demikian bermakna "Di sini, tanah mengandung garam", dan sama sekali tidak menyimpang dari kenyataan alamiah di mana daratan di pesisir timur teluk ini memang merupakan daerah yang dapat menghasilkan garam. Garam, tampaknya, telah menjadi satu di antara sejumlah pertimbangan yang mendorong banyak orang di masa lampau untuk memilih pesisir teluk ini sebagai tempat tinggal dan menetap sampai dengan sebuah kerajaan Islam berdiri dan mengukuhkan nama Syummutrah yang juga berasal dari kata Şamata (tanah mengandung garam).
Syummuthrah atau Syammutrah kemudian berkembang pesat menjadi kota pelabuhan serta pusat da'wah Islam ternama di Asia Tenggara selama di bawah pemerintahan dinasti yang dibangun oleh Sultan Al-Malik Ash-Shalih (wafat 696 H/1297 M). Dinasti ini memerintah sampai dengan permulaan abad ke-10 H (ke-16 M), dan oleh karena keterkenalan kota ini pula, pulau besar paling barat Asia Tenggara dikenal dengan Sumatra.

*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa.
Dikutip dari group Mapesa.
Keuh atau mata uang terbuat dari timah hitam yang diterbitkan oleh Sultan Aceh Darussalam, Jauharul 'Alam Syah, di Teluk Samawi (hari ini: Lhokseumawe). Pada mata uang ini, tercetak dengan huruf Arab (Jawiy) nama "Jauharul 'Alam Syah" pada sisi depan, sementara pada sisi belakang nama tempat dikeluarkan: "Teluk Samawi" serta tahun pengeluarannya pada 1229 Hijriah (1814 Masehi).

* Baca postingan sebelumnya:
Peta Telok Semawe dibuat pada Juni 1880 dengan skala 1: 20.000. 
Sumber: ANftl Aceh No. 40/1894

NISAN ahli Pelayaran/navigator bernama Idapun Ahmad bin Idapun Ahmad.
Pada batu nisan terpahat kalimat-kalimat tauhid dengan kaligrafi yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai bentuk-bentuk kapal/jung yang populer di masa itu. Nisan ini bersama ratusan
nisan-nisan makam bersejarah lainnya berada di Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat.
Sumber: Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH).
Nonton Film Dokumenter: 
Oleh: CentralInformation for Samudra Pasai Heritage (CISAH) diupload melalui saluran Youtube MISYKAH TV.
Teluk Lhokseumawe. Foto by Irfan M. Nur.

Teluk Lhokseumawe. Foto by Irfan M. Nur.

Share this:

 
Copyright © MAPESA. Blog Templates Designed by OddThemes