Full width home advertisement

Meuseuraya

Nisan Aceh

Video

Numismatik

Manuskrip

Poster Sejarah

Post Page Advertisement [Top]

Lembaran naskah yang dikatakan adalah bagian lepas dari “Izhharul Haq” ini telah dipublikasi oleh Hasjmy dalam Kebudayaan Aceh dalam Sejarah dari sumber M. Yunus Jamil.

Lembaran ini telah menjadi acuan utama bagi penulisan sejarah raja-raja Peurlak—disebabkan tidak adanya data-data artefak—dan pertanggalan yang terdapat dalam naskah telah dijadikan sebagai landasan atas klaim bahwa kerajaan tersebut sudah muncul sejak abad ke-3 H (ke-9 M). Karena itu, menarik untuk membaca dan mencermatinya.

M. Yunus Jamil telah melakukan transkripsi naskah ini, namun saya tertarik untuk melakukannya lagi supaya dapat menjadi perbandingan. Kata-kata yang khusus dari transkripsi M. Yunus Jamil akan saya beri tanda dengan Trans. Yunus.
Teks naskah:
[1] semilan (?)..
[2] bulan...
[3] jua adanya
[4] 1 hijrah Nabi shad alif mim (sic; Trans.Yunus: saw.) dua ratus
[5] dua puluh lima tahun pada tahun (kalimat “pada tahun” tidak terdapat pada Trans. Yunus)
[6] pada hari Selasa maka naiklah raja Sultan
[7] Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz
[8] Syah Zhillullah fil ‘Alam (naungan Allah di muka bumi), dan adalah lama dalam tahta kerajaan
[9] dua puluh empat tahun maka ia pun matilah ia pada hari Ahad
[10] dua hari bulan Muharraam (sic) pada waktu Dhuhur. Intaha kalam (selesai pembicaraan).
Transkripsi M. Yunus Jamil. Ditandatangani.
[11-pinggir kanan] 2 pada hijrah Nabi shad alif mim (sic; Trans.Yunus: saw.) dua ... (Trans. Yunus: ratus) empat puluh sembilan tahun maka naiklah raja Sultan ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdurrahim Syah Zhillullah fil ‘Alam. Adalah ia lama dalam tahta kerajaan itu dua puluh lima tahun enam hari. Maka matilah ia pada hari Jum’at tujuh hari bulan Rajab waktu ... (Trans. Yunus: Dhuha). Intaha Kalam. [12] Maka pada hijrah Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam... (kata yang dicoret) dua ratus lapan puluh lima tahun pada hari
[13] Sabtu pada lapan hari bulan Rajab naiklah raja Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ... (Trans. Yunus: ‘Abbas) Syah
[14] Zhillullah fil ‘Alam, dan lama ia dalam tahta kerajaan lima belas tahun tujuh bulan enam hari jua maka... (Trans. Yunus: matilah)
[15] ia pada hari Selasa tujuh hari bulan Rabi’ul Awal waktu Dhuha. Maka pada hijrah Nabi shad alif mim (sic; Trans.Yunus: saw.) tiga ratus dua tahun
[16] naiklah raja Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid ‘Ali Mughayat Syah Zhillullah fil ‘Alam, dan lama ia dalam
[17] tahta kerajaan tiga tahun enam bulan tiga hari. Maka matilah ia ia pada tujuh hari bulan Syawwal hari Ahad jua
[18] pada waktu Shubuh. Maka pada hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tiga ratus lima tahun maka naiklah raja Sultan Marhum
[19] ‘Alauddin ‘Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam pada hari Khamis tujuh belas hari bulan Rabi’
[20] Al-Akhir, dan adalah lama dalam tahta kerajaan dua lapan (dulapan?) bulan tiga hari maka matilah ia pada hari Sabtu
[21] pada waktu Zhuhur. Maka pada hijrah Nabi shad alif mim (sic; Trans.Yunus: saw.) tiga ratus sembilan tahun maka naiklah raja Sultan Marhum ‘Alauddin
[22] Muhammad Amin Syah Zhillullah fil ‘Alam dan lama ia dalam tahta kerajaan dua puluh tiga tahun maka pada hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi
[23] wa Sallam tiga ratus dua puluh tujuh tahun. Maka naiklah raja Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Zhillullah fil ‘Alam
[24] dan lama ia dalam tahta kerajaan dua puluh tujuh tahun. Maka matilah ia pada hari Selasa pada sehari bulan Shafar pada waktu
[25] Zhuhur jua. Maka pada hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tiga ratus empat puluh semilan tahun pada tahun alif (alf?) lima hari
[26] bulan Muharam pada hari Jum’at waktu Zhuhur maka naiklah raja Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Mahmud Syah
[27] Zhilullah fil ‘Alam dan lama dalam tahta kerajaan dua belas tahun. Maka matilah ia pada hari Ahad jua.

Tambahan M. Yunus Jamil yang tampaknya adalah tulisan tangannya sendiri:
Muhamma Yunus Jamil
12-3-1953
Penyalin Akub Penaron Gayo
Halaman lepas daripada kitab Izhharul Haq silsilah Raja Perlak dan Pasai Abu Ishaq Al-Makaraniy Fasiy.

Catatan-catatan:
1. Dalam naskah manuskrip sama sekali tidak tersebut nama kitab Izhharul Haq begitu pula tentang apapun keterangan yang menyatakan bahwa inilah silsilah raja-raja Peurlak. Hanya sanya pada tanggal 12 Maret 1953, M. Yunus Jamil menuliskan keterangan di atas lembaran naskah bahwa inilah silsilah raja-raja Perlak yang disalin oleh Akub Penaron Gayo, dan lembaran ini merupakan lembaran lepas dari Izhharul Haq dst. Mengenai siapakah Akub Penaron, belum dapat diketahui dengan saksama.

2. Dalam naskah juga tidak ditemukan sama sekali pernyataan bahwa ‘Abdul ‘Aziz Syah adalah sultan pertama, atau apa pun keterangan semisalnya menyangkut hal tersebut, bahkan sebelum baris-baris yang menyebutkan tentang kenaikan ‘Abdul ‘Aziz Syah ke tahta kerajaan (baris 4-8), terdapat baris-baris tulisan yang tampaknya juga menjelaskan tentang tarikh kematian seseorang sebelum ‘Abdul ‘Aziz Syah. Dengan demikian, penjelasan dalam lembaran ini merupakan sambungan penjelasan yang terdapat dalam lembaran sebelumnya.

3. Tanpa mengetahui isi lembaran sebelumnya, kita menemukan pertanggalan peristiwa dalam lembaran ini dimulai dari tahun pemerintahan ‘Abdul ‘Aziz Syah, 225 hijriah, sampai dengan kematian Mahmud Syah, yakni 12 tahun setelah kenaikannya ke tahta kerajaan pada tahun 349 hijriah. Rentang waktu yang ditampilkan lembaran ini dengan demikian adalah sekitar 136 tahun mulai dari abad ke-3 hijriah sampai dengan paroh pertama abad ke-4 hijriah.

Namun segera perlu dinyatakan bahwa sekalipun peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam naskah—sebagaimana yang tampak pada lembaran ini secara khusus—diberi pertanggalan abad ke-3 dan ke-4 H, tapi naskah ini dapat dipastikan secara mutlak bukan berasal dari abad-abad tersebut. Khath Arab yang digunakan sama sekali tidak memungkinkan hal itu. Bahkan sebaliknya, dari sisi khath yang digunakan justru terang sekali berasal dari era yang sangat kemudian. Dan mengenai hal ini, akan sangat meremehkan kemampuan Pembaca andai kata saya menjelaskannya dengan rinci.

Lain dari itu perlu juga diamati kejanggalan-kejanggalan yang terdapat pada naskah antara lain pada baris ke-5, tertulis: “dua puluh lima tahun pada tahun”, sementara lanjutannya pada baris ke-6 tertulis: “pada hari Selasa maka naiklah raja Sultan”. Tampaknya ada yang terputus pada baris ke-5, “dua puluh lima tahun pada tahun”, pada tahun apa? Dan ini diabaikan saja oleh M. Yunus Jamil dalam transkripsinya.

Kejanggalan juga ditemukan pada baris ke-12 karena ada satu kata yang dicoret sebelum kalimat “dua ratus lapan puluh lima tahun pada hari”, dan kata itu samar-samar seperti bentuk kata “seribu” dalam tulisan Arab-Jawi.

Sebuah perbaikan lainnya juga terlihat pada baris ke-15 di mana penyalin naskah tampaknya terlanjur menulis “dua” pada tempat yang seharusnya tertulis adalah “tiga”. Penyalin lantas melakukan perbaikan dengan merombak tulisan “dua” ke “tiga” sedemikian rupa sehingga tampaklah bentuk “tiga” yang aneh. Penyebab keterlajuran penyalin dapat dimaklumi yaitu karena penanggalan sebelumnya adalah “dua ratus lapan puluh lima tahun” dan ia lengah pada saat yang seharusnya ia menulis “tiga ratus..”. Selain itu, ia juga lengah dan terjebak dalam kekeliruan yang tampaknya tidak ia sadari ketika berulang kali menuliskan nama bulan Arab “Muharram” dengan memberikan alif di depan ra’: “Muharr[aa]m”. Hal sepele semacam ini sebenarnya juga dapat menandakan tingkat kemampuan intelektualitas yang ia miliki.

Kemudian, sepanjang teks yang disalin dalam lembaran ini hanya satu kali tersebut kalimat “pada tahun alif”, yaitu pada baris ke-24. Agaknya sering pula saya menemukan kalimat serupa dalam literatur Arab-Jawi, namun terus terang saya belum mendapatkan pemahaman yang pasti apakah yang dimaksud dengan “alif” itu adalah semacam penyimbolan dengan Hisab Al-Jummal ataukah yang dimaksud sebenarnya adalah “alf” yang berarti seribu; “pada tahun alf” yakni pada tahun seribu, yang dengan demikian maksud kalimat pada baris ke-24 adalah 1349.

4. Sebuah kejanggalan lain yang kiranya terpaksa saya sebutkan secara khusus dan terpisah dari beberapa kejanggalan yang telah disebutkan adalah cara pemendekan atau penyingkatan kalimat shalawat, “Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” dengan huruf-huruf: shad , alif, mim (ص آ م). Bentuk huruf kedua memang sedikit aneh namun saya menduga itu adalah alif ( آ). Ini sangat menarik perhatian, dan sejauh yang saya ketahui tidak lazim.

Penyingkatan yang demikian, dengan huruf-huruf yang terpisah satu sama lain, dekat sekali dengan cara penyingkatan dalam bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa beraksara latin lainnya. Penyingkatan Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang biasa ditemukan adalah dengan huruf shad (ص) atau shad dan mim yang disambung (صم) atau dengan cara yang disebut dalam ilmu bahasa Arab “An-Naht”: صلعم ، صلعلم, yang oleh para ulama Hadits seperti Ibnu Ash-Slalah dan As-Sikhawi melarang apa pun bentuk penyingkatan kalimat shalawat.

Penyingkatan dengan 3 huruf terpisah seperti dalam naskah tampaknya adalah suatu hal yang sangat kemudian, dan dipengaruhi oleh cara penyingkatan dalam bahasa-bahasa beraksara latin dalam abad ke-20 M. Selain itu, jika benar huruf yang kedua adalah alif sebagaimana diduga, maka mudah-mudahan yang dimaksud dengan huruf alif itu adalah lafazh “Allah” karena tidak mungkin yang dimaksud adalah “a” dalam singkatan “saw.” Tapi bagaimana pun penyingkatan seperti ini tetap saja aneh, dan memberikan kesempatan besar bagi kita untuk meyakini bahwa naskah tersebut baru disalin pada abad ke-20 M.

4. Dikarenakan angka-angka tahun pertanggalan yang tersebut dalam lembaran ini berada dalam abad-abad permulaan sejarah Islam (abad ke-3 dan ke-4 hijriah), maka perlu diperhatikan beberapa persoalan prinsipil berkenaan dengan sejarah Islam:
Pertama, kapan pertama sekali dalam sejarah Islam gelar Sultan digunakan?
Kedua, kapan gelar-gelar yang dibentuk dari sebuah kata yang di-idhafah-kan kepada kata Ad-Din mulai popular dalam sejarah Islam, seperti gelar Syamsuddin, Syihabuddin, Mu’izzuddin, Tajuddin, dan terutama lagi dalam konteks ini adalah gelar ‘Alauddin?

Dan ketiga, kapan pertama sekali gelar Zhillullah fil ‘Alam digunakan dalam sejarah Islam?
Di sini akan dijawab secara ringkas. Luasnya dapat dirujuk ke “Al-Alqab Al-Islamiyyah fi At-Tarikh wal Watsa’iq wal Atsar” (Gelar-gelar Islam dalam Sejarah, Arsip dan Benda-benda Purbakala) oleh Hasan Al-Basya (1989) serta beberapa kepustakaan lainnya.

Gelar sultan pertama sekali digunakan untuk para pembesar negara pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, 170-192 H (786-809 M), ketika ia memberikan gelar tersebut kepada Khalid bin Marbak. Gelar sultan pada masa itu hanya merupakan sebuah gelar kebesaran yang khusus. Gelar ini kemudian digunakan oleh raja-raja dari timur yang punya pengaruh besar terhadap khalifah semisal Bani Buwaih, 334-447 H (945-1055 M), dan setelah itu barulah menjadi gelar bagi penguasa-penguasa wilayah Islam yang memerintah secara merdeka untuk membedakan antara mereka dengan para penguasa yang berada di bawah perlindungan atau taklukan. Dengan demikian, gelar “sultan” baru populer setelah kemunculan Dinasti Buwaih pada abad ke-4 dan ke-5 H.

Gelar yang dibentuk dari kata yang di-idhafah-kan kepada Ad-din merupakan gelar kehormatan yang mulai dipopulerkan dan menyebar luas pada masa Atabik (dinasti yang dibangun oleh ‘Imaduddin Zanki bin Uq Sunqur di Mausil pada 522 H/1128 M) seperti Zhahiruddin, Syihabuddin, Muzhaffaruddin. Dan gelar ‘Alauddin merupakan gelar yang banyak sekali digunakan antara lain untuk Sultan ‘Alaud Dulah wad Din Kaiqubad bin Kai Khusrau yang wafat pada 634 H/1237 M.
Sementara gelar Zhillullah fil ‘Alam secara khusus, yakni bukan Zhillullah fil Ardh atau lain semisalnya, telah disebutkan untuk Sultan ‘Alauddin Abi Kaiqubad pada prasasti bangunan bertarikh 629 H (1232 M), dan prasasti ini tampaknya merupakan prasasti paling awal yang menyebutkan seorang sultan bergelar Zhillullah fil ‘Alam.

Dari itu semua dapat dipahami dengan terang bahwa adalah suatu hal yang sama sekali tidak masuk di akal jika gelar-gelar tersebut sudah digunakan di Peurlak—bahkan di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan—dalam abad ke-3 dan ke-4 hijriah, mendahului penggunaannya di kawasan Timur Tengah sedangkan peradaban Islam jelas-jelas datang dari sana.

Lantas bagaimana dengan naskah ini, apakah sepenuhnya palsu dan tidak punya arti apa-apa? Jika kita bersikeras untuk mempertahankan bahwa nama-nama penguasa yang disebut dalam naskah ini adalah para sultan dalam abad ke-3 dan ke-4 H, maka kita terpaksa menyatakan bahwa naskah ini sama sekali tidak memuat kebenaran apapun dan mesti disingkirkan. Namun jika kita dapat mengusulkan-sementara sebelum ditemukan bagian lain dari naskah manuskrip ini—bahwa pertanggalan yang benar adalah tahun-tahun setelah tahun seribu hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka kandungan naskah ini masih mungkin untuk dibenarkan dan berpeluang menjadi sumber sejarah.

Usulan tersebut menjadikan pertanggalan kenaikan para sultan ke tahta kerajaan adalah sebagai berikut:
1. Sultan Marhum ‘Alauudin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Syah Zhillullah fil ‘Alam pada tahun 1225 hijriah (1810 M).
2. Sultan ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abdurrahim Syah Zhillullah fil ‘Alam 1249 hijriah (1833 M).
3. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Maulana ‘Abbas Syah Zhillullah fil ‘Alam1285 hijriah (1868 M).
4. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid ‘Ali Mughayat Syah Zhillullah fil ‘Alam1302 hijriah (1885 M)
5. Sultan Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Qadir Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam 1305 hijriah (1887 M).
6. Sultan Marhum ‘Alauddin Muhammad Amin Syah Zhillullah fil ‘Alam 1309 hijriah (1892 M).
7. Marhum ‘Alauddin ‘Abdul Malik Syah Zhillullah fil ‘Alam 1327 hijriah (1909 M)
8. Sultan Marhum ‘Alauddin Sayyid Mahmud Syah Zhilullah fil ‘Alam 1349 hijriah (1930 M).
Pertanyaan yang muncul kemudian ialah siapakah mereka dan di manakah mereka memerintah? Dari dalam naskah tidak ditemukan keterangan apapun tentang ini, tidak untuk Peurlak maupun lainnya.
Atas dasar beberapa asumsi yang dikantongi sekarang, kiranya perlu diusulkan untuk membuka penyelidikan dan pengkajian yang lebih luas tentang Negeri Pedir. Tampaknya, naskah ini berasal dari sana.

Dimohon komentar sejarawan Bapak Nab Bahani As.

Oleh: Musafir Zaman
(Dikutip dari postingan akun facebook Musafir Zaman di Group Mapesa)

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib