Full width home advertisement

Meuseuraya

Nisan Aceh

Video

Numismatik

Manuskrip

Poster Sejarah

Post Page Advertisement [Top]


Umum sudah mengetahui bahwa di tepi kanan kuala Aceh terdapat satu kompleks makam teramat bersejarah dan memiliki kedudukan penting di hati Umat Islam di Asia Tenggara, yaitu kompleks makam Al-'Alim Al-'Allamah Syaikh 'Abdur Rauf As-Sinkiliy Al-Fanshuriy. Namun tidak banyak orang tahu bahwa sepanjang pesisir pantai mulai Tibang, Diwai, Lampulo sampai dengan Bidoek merupakan kawasan bersejarah yang masih banyak meninggalkan jejak-jejak peradaban Aceh Darussalam dari masa ke masa. Jejak-jejak yang secara keseluruhan menjadi bukti demikian pesat dan ramainya Bandar Aceh di masa sejarahnya yang lampau.

Menurut beberapa saudara saya yang sudah meminati sejarah Aceh dan peninggalannya semenjak 80-an dan 90-an abad lalu, yakni jauh sebelum musibah tsunami, semisal Kanda Faisar Jihadi, Adinda Syahrial Qadri dan Arkeolog piawai Kanda Deddy Satria, bahwa di bagian pesisir Aceh mulai pulau Pohama sampai Kuala Aceh terdapat banyak diwai-diwai dan sebaran nisan. Sebuah penelitian sangat bermutu, bahkan, berhasil dikerjakan oleh Arkeolog Deddy Satria tentang tinggalan sejarah di Gampong Tibang, dan hasil penelitian itu untuk hari ini dapat dikatakan sebagai satu-satunya rekaman tentang Tibang sebelum Desember 2004.

Dalam sebuah peninjauan singkat di tahun 2013 ke kawasan pesisir ini, yang meliputi Bidoek, Lampulo, Diwai Makam dan Tibang, kita mengamati banyak tinggalan sejarah yang masih bertahan meski dalam genangan air pasang dan hawa laut yang asin. Kumpulan-kumpulan nisan (kompleks-kompleks makam) tersebar di seluruh kawasan membentuk titik-titik konsentrasi yang saya kira masih memungkinkan kita untuk melakukan kajian tentang pola tata ruang Bandar Aceh Darussalam di zaman lampau. Itu masih di permukaan, dan belum lagi kita memperkirakan data-data sejarah yang dapat kita temukan dalam lapisan-lapisan tanah yang merekam jejak kebudayaan Aceh dari masa ke masa.

Untuk menyelamatkan kawasan sejarah ini tentu perlu kerja besar, terutama yang perlu dipikirkan adalah konservasi lingkungannya. Meski banyak sekali yang sudah musnah ditelan zaman, namun saya yakin masih banyak pula yang dapat kita renggut kembali, dan untuk kemudian dapat disuguhkan sebagai khazanah sejarah kemaritiman di Asia Tenggara.
Kita telah sama-sama maklumi bahwa Aceh Darussalam adalah negara yang berperang melawan dan berhasil mengusir imperialisme Portugis. Itu adalah karena kekuatan armada lautnya yang tidak tanggung-tanggung. Pesisir Bandar Aceh dengan demikian merupakan garis konfrontasi dalam peperangan sebagaimana ia juga merupakan wilayah utama dalam perdagangan. Rekaman berbagai peristiwa itu tentu telah tertinggal di atas panggungnya.

Kemarin, Adinda saya yang mulia Mizuar Mahdi Al-Asyi telah meminta saya untuk mempublikasi beberapa hasil peninjauan singkat kami di Gampong Bidoek pada 2013. Tentu, saya tidak dapat menolak keinginannya karena memang sangat beralasan.
Baiklah, maka suatu hal yang dapat saya informasikan dari Bidoek ialah bahwa kami telah melihat banyak sekali kumpulan-kumpulan nisan yang kondisinya jelas memprihatinkan. Selain karena memang tidak pernah menjadi bagian yang diperhatikan, kondisi lingkungannya yang merupakan daerah rendaman pasang laut telah mengakibatkan banyak kerusakan pada nisan-nisan kubur peninggalan zaman lampau itu. Namun di antaranya masih relatif bertahan, dan saya kira apabila kita sudah mulai melakukan pelestarian terhadap warisan itu, maka kita akan menemukan banyak data sejarah yang penting.

Salah satu peninggalan yang berhasil ditemukan di kawasan situs Gampong Bidoek, meski dalam peninjauan singkat, ialah sebuah nisan yang mencatat tarikh wafat pada 963 H atau 1556, yang dengan demikian jauh sebelum masa Syaikh 'Abdur Rauf. Inskripsi berbunyi:
هجرة النبي صلعلم سنة ثالث وستين وتسعمائة
(Hijrah Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam--dibentuk dengan An-Naht: Shal'alam--tahun 963 H)
Sebuah nisan lain yang sudah terbenam ke dalam tanah, dan setelah diangkat, ternyata memuat nama pemilik makam, namun sayang sampai saat ini saya belum dapat memastikan nama pemilik kubur itu karena beberapa kendala pada bagian inskripsinya.

Namun saya yakin apabila dilakukan penelitian yang tekun dan baik, kita akan memperoleh banyak informasi sejarah.

Berikut ini saya lampirkan beberapa gambar dari karya-karya kebudayaan yang dihasilkan zaman Aceh Darussalam di Gampong Bidoek, dan hanya Bidoek, belum Lampulo, Diwai Makam dan Tibang.

























Oleh: Musafir Zaman
(Dikutip dari akun facebook Musafir Zaman di Group Mapesa)

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib