Full width home advertisement

Meuseuraya

Nisan Aceh

Video

Numismatik

Manuskrip

Poster Sejarah

Post Page Advertisement [Top]

Buki Lamreh - Aceh Besar.
Foto: Mawardi Ismail/Abel Pasai

"Dinamika pertautan cinta sejarah pada waktu itu sedang berlangsung dengan sangat indahnya antara generasi tua dan generasi muda. Tua membutuhkan muda untuk menyambung dan melanjutkan jalannya. Muda dengan segenap cinta dan penghormatannya kepada yang tua dengan sigap maju ke posisi di mana telah tiba waktunya ia dibutuhkan, serta dengan penuh santun ia memasrahkan diri untuk dibimbing".

Kimia Pertautan

Apakah kita benar-benar putus?

Tidak. Sudah tentu, tidak. Waktu dapat memisahkan. Tempat juga bisa berjauhan, bahkan dibelah oleh lautan sekalipun. Namun, kita tidak pernah benar-benar putus. Selalu ada pertautan. Ada berbagai tingkat pertautan mulai umum, khusus, sangat khusus, bahkan sampai ke tingkat persenyawaan—yang terakhir ini kira-kira seperti slogan Alexandre Dumas dalam The Three Musketeers: “One for all and all for one.”

Di antara seluruh pertautan tentu tidak akan ada tingkat yang lebih tinggi, murni dan cemerlang daripada pertautan dalam “I’tisham bi Habli-Llah” (memelihara diri dengan Tali Allah, yakni Agama-Nya). Pertautan ini menjamin kedamaian duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Tidak mungkin tidak. Sebab, merupakan pertautan dalam megenggam kuat “Tali” yang diulurkan oleh Maha Pemilik alam semesta lagi Maha Kaya.

Gambar yang saya kirim ini telah menyita waktu saya seharian. Ada makna-makna yang ditumpahkan namun saya begitu lemah untuk menemukan “asma’” yang dapat mengungkapkannya. Saya tidak memiliki cukup persediaan lafal-lafal untuk makna-makna yang tumpah itu sekalipun ia begitu terang, malah amat berkilau.

Saya juga tidak sempat untuk mengulang Kimiya’ As-Sa’adah (kimia kebahagian) karya Imam Abu Hamid Al-Ghazaliy (wafat 505 H/1111 M) untuk sekadar meniru-niru lafal dan ungkapannya dalam menyifatkan hal-hal yang rohaniah seperti ini. Namun baiklah kiranya saya meniru judulnya saja, kendati mungkin jauh dari ketepatan. Ini untuk mengesankan bahwa makna-makna yang tertangkap dari gambar ini adalah semisal soal-soal rohaniah yang diketengahkan Kimiya’ As-Sa’adah.

Pemetik gambar ini jelas saja ingin mengabadikan satu momen yang bukan momen foto bersama. Sebuah momen yang terjadi begitu saja antara dua person, tanpa didahului rencana bahkan mereka berdua sama sekali tidak tahu bahwa momen ini telah dibidik oleh seseorang yang mengamati gerak-gerik mereka.

Momen ini berlangsung di kawasan situs sejarah Lamuri di Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar, pada 2013 silam. Gambar direkam oleh Abel Pasai atau Mawardi Ismail Al-Asyi, dan saya juga baru melihatnya.

Dalam gambar, satunya adalah anak muda yang tinggal di Bitai, Banda Aceh, dan satunya lagi adalah seorang laki-laki yang sudah menjelang usia senja dan berasal dari daratan seberang lautan, di Semenanjung Tanah Melayu. Waktu dan tempat di mana masing-masing mereka menghabiskan hari-hari jelas berjauhan. Sesunggunya hanya dikarenakan dua pertautan mereka berjumpa dalam momen pertemuan yang direkam ini.

Satu di antara dua pertautan tentu tidak lain adalah karena mereka berdua sama-sama dalam “I’tisham bi Habli-Llah”. Jika bukan karena pertautan ini, maka saya sedikit menyangsikan momen yang sepersis ini bisa terjadi. “I’tisham bi Habli-Llah” yang berkedudukan dalam hati mereka berdua telah mendorong satu gerak kesertamertaan untuk saling mengulur dan menggenggam, serta menciptakan sebentuk jalinan di mana orang-orang yang memiliki jalinan seperti ini akan dinaungi Allah, kelak, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya.

Pertautan yang kedua adalah pertautan khusus. Saya melabelkan pertautan ini dengan nama: “pertautan cinta sejarah”, yakni pertautan di antara unsur kimia sejenis yang diperlihatkan dengan terang oleh gambar ini.

Bagaimana pertautan ini tercipta, saya kira juga suatu keajaiban. Saya akan mencoba menguraikan kimianya sebisa mungkin.

Anak muda ini telah menyelesaikan pendidikannya di luar ruang khusus sejarah, malah terbilang jauh dari ruang tersebut.

Setelah musibah gempa dan stunami Aceh 2004, ia ditakdirkan untuk menjalani hidupnya sebatang kara sekalipun Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih telah melimpahkan kasih-sayang-Nya lewat orang-orang yang menyayanginya seukuran ia dapat bertahan dalam terpaan kesedihan karena ditinggalkan secara sekaligus oleh orang-orang yang amat dikasihi. Tak jarang badai kesedihan mendadak menerpanya kembali dalam saat-saat kesendirian. Rindu terkadang mendidih dan melumatkan baja ketabahan. Karena kesebatangkaraan itu maka ia berusaha menghidupi dirinya dengan berbagai pekerjaan yang lagi-lagi di luar ruang sejarah, bahkan sangat jauh; sejarah di satu lembah dan pekerjaannya sehari-hari di lembah yang lain.

Namun begitu, ia memiliki satu unsur yang paling dominan dalam dirinya. Yakni, unsur “cinta sejarah”. Unsur ini begitu kuat dan telah mendorongnya untuk meletakkan sejarah negerinya sebagai salah satu pusat perhatiannya di tingkat pertama.

Adapun laki-laki baya itu adalah seorang yang hampir seluruh hidupnya berada dalam ruang sejarah. Dari masa muda sampai dengan di usianya kini. Tidak berlebihan untuk dikatakan, hidupnya memang telah disumbangkan untuk bidang studi ini; mempelajari, mengkaji, meneliti, mengajarkan dan menulis. Hidupnya terikat kuat dengan sejarah. Namun semua predikat yang diperolehnya tidak mugkin dicapai jika ia tidak memiliki satu unsur. Yaitu, unsur “cinta sejarah”. Unsur yang telah dikandungnya sejak lama, mulai masa muda sampai masa tuanya. Inilah pula yang membuat laki-laki baya ini sangat istimewa. Unsur tersebut telah memberikan kepadanya pengetahuan yang luas serta pengalaman yang sangat kaya.

Muda dan tua ini sama-sama memiliki unsur “cinta sejarah” yang dominan dalam diri mereka.

Dalam sekali kesempatan di kawasan situs sejarah Lamuri di Lamreh, anak muda yang tahu seluruh seluk beluk kawasan situs dan orang tua yang datang dari jauh-jauh untuk berkunjung dan meninjau ke kawasan situs, keduanya berjumpa. Dalam satu momen yang telah ditetapkan dalam ilmu dan iradah Allah, unsur cinta sejarah yang sama-sama mereka miliki ini berinteraksi satu sama lainnya dan menjelmakan satu pertauan. Pertautan “cinta sejarah”.

Bagaimana dinamika pertautan itu terjadi, adalah sebagaimana tampak pada gambar.

Menuruni tebing-tebing bukit yang adakalanya sangat terjal dan dipenuhi tetumbuhan berduri tentu menyulitkan seorang yang sudah berusia lanjut dan tidak terbiasa dalam kesehariannya. Sedangkan bagi anak muda, ia memang “raja” di kawasan itu. Apa pun bentuk kemiringan dan keterjalan di kawasan situs sudah pernah ditanjaki dan dituruninya, apakah itu di bawah siraman panas matahari maupun di bawah siraman dingin hujan. Lama sudah ia menjadikan kawasan itu seolah-olah rumah keduanya.

Dalam kondisi dan situasi demikian, kimia pertautan unsur “cinta sejarah” itu menjelma dan menampakkan wujudnya nan indah lagi mempesona, dan akhirnya tertangkap kamera untuk terabadikan.

Orang tua pemilik pengetahuan dan pengalaman yang kaya dan luas dalam lapangan sejarah, dan yang dalam gambar ini nampak berjalan di depan, ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam sesuatu di belakang. Ini pertanda sebuah kesadaran bahwa dirinya sudah tidak seperti waktu mudanya lagi manakala ia menjadi bintang muda di lapangan. Ia mencoba menggapai sesuatu di belakangnya untuk berpegangan.

Dalam pada itulah, anak muda dengan sigap dan spontan menyambut tangan itu, tidak mengabaikannya. Anak muda membiarkan orang tua menggenggam erat tangannya dan menarik dirinya ke jalur yang telah dirintis.

Dinamika pertautan cinta sejarah pada waktu itu sedang berlangsung dengan sangat indahnya antara generasi tua dan generasi muda. Tua membutuhkan muda untuk menyambung dan melanjutkan jalannya. Muda dengan segenap cinta dan penghormatannya kepada yang tua dengan sigap maju ke posisi di mana telah tiba waktunya ia dibutuhkan, serta dengan penuh santun ia memasrahkan diri untuk dibimbing.

Sungguh, apabila saya melihat gambar ini tanpa mengenal siapa mereka dan di mana tempat mereka berada, maka saya akan sangat sulit untuk menentukan “adegan” yang sebenarnya: apakah orang tua yang bertumpu pada anak muda, ataukah anak muda yang sedang dituntun oleh orang tua. Tapi demikianlah dinamika pertautan yang terjadi, ia memang sesuatu yang sulit untuk dibedakan dan dipilahkan sebab ia terjadi secara serentak, saat unsur cinta sejarah dari kedua pemiliknya ini saling menangkap dan mendekap satu sama lainnya.

Bagaimana pun, demikianlah sesungguhnya hubungan yang diharapkan terjalin antara generasi tua dan generasi muda. Hubungan yang menjelmakan dinamika kimia pertautan.

Sampai di sini, paling tidak, saya telah mencoba mengungkapkan apa yang bercokol dalam benak saya selama hampir seharian, walaupun tidak selebar genangan pemikiran yang diakibatkan oleh makna-makna yang tumpah dari gambar ini tentang hubungan generasi tua dan muda dalam lapangan merawat dan melestarikan warisan sejarah.

Saya berharap dapat merasa lega dengan pengungkapan ini kendati saya sadari sendiri bahwa ini adalah pengungkapan yang tidak sedemikian lancar.

Sampai di sini, menerangkan identitas mereka berdua juga tidak saya pandang sebagai suatu hal yang diperlukan. Sebab, penekanannya adalah pada kimia pertautan yang menjelma dengan sangat mencolok di antara mereka.

Namun, untuk menghindari kejengkelan Pembaca yang telah sabar mengikuti baris-baris ini, maka baiklah saya perkenalkan secara singkat:

Anak muda itu adalah tokoh muda Aceh pemerhati warisan sejarah yang sudah tidak asing lagi bagi Anda. Ia adalah Mizuar Mahdi, Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh—semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkati hidupnya.
Sampul buku Batu Aceh: Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia
Sumber: www.wikiwand.com
Sementara orang tua itu adalah seorang tokoh terkenal di tingkat internasional dalam lapangan arkeologi. Ia guru besar arkeologi dari University of Malaya, Malaysia, yang menempatkan dirinya sebagai “Payung” bagi orang muda. Kontribusinya dalam dunia arkeologi di Asia Tenggara sudah sangat besar. Ia adalah penulis Batu Aceh: Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia (1988), sebuah buku yang telah ikut mengabadikan batu [nisan] Aceh sebagai salah satu istilah ilmiah dalam ilmu arkeologi. Ia adalah Prof. Dato’ Dr. Othman Yatim-semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat serta sehat sejahtera kepadanya.

Oleh: Musafir Zaman

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib