Full width home advertisement

Meuseuraya

Nisan Aceh

Video

Numismatik

Manuskrip

Poster Sejarah

Post Page Advertisement [Top]



Tim Mapesa seusai Meuseuraya di situs Syaikhul 'Askar Jamaluddin
Gampong Pande, Banda Aceh.

Sekalipun itu jauh di sudut-sudut temaram. Sekalipun itu suara-suara, atau malah bisik-bisik, yang lamat-lamat terdengar dari kegelapan di balik tirai. Tapi, sesekali, itu semua juga perlu diberi perhatian, walaupun sekadarnya.

Ada beberapa tanggapan negatif untuk apa yang dilakukan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) sekalipun ramai pula yang memberikan dukungan dan mengapreasiasi upaya lembaga swadaya masyarakat ini dalam rangka menyelidiki dan menyelamatkan berbagai peninggalan sejarah Aceh.
Mengenai dukungan dan apreasiasi yang dituai Mapesa, itu disadari sebagai sesuatu yang datang bukan dari satu alasan, tapi dari beragam alasan. Sebagian orang mengaitkan kerja Mapesa dengan hal-hal bersifat supernatural; menyangkut hal-hal yang sulit untuk dicerna dan diperkatakan. Sebagian orang mengaitkan kerja Mapesa dengan hal-hal berkenaan dengan pengagungan tokoh-tokoh bangsawan (aristokrat) Aceh tempo dulu; tentang darah biru, keturunan raja-raja, mahkota-mahkota dan semacamnya. Sebagian yang lain, kerja Mapesa dilekatkan dengan benda cagar budaya Batu Nisan, sehingga Mapesa terkesan sebagai sekelompok orang yang hanya mengurusi batu-batu nisan kuno.
Oleh sebab berbagai hal yang dikaitkan dengan kerja Mapesa--dan mungkin di sana masih banyak lagi pengaitan semacam itu-- muncul tanggapan-tanggapan negatif, terdengar selentingan-selentingan yang mencibir dan mencemoohkan. Bahkan, sampai ada yang mempertanyakan, apakah orang-orang Mapesa sudah selesai mengerjakan amalan-amalan sunat yang lain sehingga sekarang mereka pergi untuk mengangkat batu-batu kubur? Sebuah pertanyaan yang dengan terang menyingkap apa yang sesungguhnya tersembunyi di dalam hati! Semisal itu, dan yang lebih dari itu tentu banyak. 
Apa sesungguhnya yang ditujui oleh Mapesa?
Saya tidak mewawancarai dua tokoh sentral dalam Mapesa, Ketua dan Sekretarisnya, Adinda Mizuar Mahdi Al-Asyi dan Ayi AL Yusri, untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini. Tetapi, saya telah mengikuti jejak langkah-langkah dari kedua tokoh muda ini sejak mereka belum menjabat sebagai ketua dan sekretaris. Dari apa yang saya amati, kiranya, saya telah dapat memahami ke mana arah yang sesungguhnya diinginkan oleh Mapesa, bahkan dari mana Mapesa berangkat.
Izinkan saya menerangkan itu di sini, dan Adinda Mizuar atau Yusri sepenuhnya berhak mengoreksi dan meluruskan keterangan ini jika keliru atau salah.
Saya yakin, salah satu pangkalan logika paling awal atau "basement" pemikiran yang paling mendasar, di mana dari sana Mapesa beranjak dan bergerak intens dan kontinu dalam periode kepengurusan ini, pada hakikatnya, adalah karena sebuah pertanyaan subtansial: Mengapa Aceh, hari ini, begini; menjadi terbelakang dan pengekor; rela menjadi bagian buntut dari suatu badan yang sesungguhnya berkepala linglung dan bingung?
Artinya, Mapesa berangkat dari sebuah kesadaran terhadap sejumlah besar ketidakpatutan atau ketimpangan dalam realita kehidupan Aceh hari ini, serta kemestian untuk melakukan berbagai perubahan.
Itu sebuah kesadaran yang tentunya tidak dapat dimaklumi oleh orang-orang yang memandang dan meyakini bahwa kesuksesan itu adalah "keselamatan hidup" masing-masing orang secara individual. Nasib masa depan bangsa, ummah dan bahkan Agama, tentu sama sekali tidak punya ruang dalam pandangan mereka. Sehingga, mereka tidak perlu membuat sejarah sebagaimana para pendahulu. Sejarah bagi mereka hanyalah sesuatu yang konyol, dan mereka lebih memilih untuk hidup dalam ruang yang telah dipolakan oleh selain mereka. Tidak peduli apapun bentuk pola itu! Rumusan dari pandangan ini ialah "yang penting kita bisa hidup, makan, bersenang-senang, terpandang, dan sudah! Bahagia di dunia dan akhirat!"
(Bahagia di Akhirat?! Apakah ayat Al-Qur'an berikut ini sudah dimansukhkan atau kita perlu orang kafir untuk mengingatkan bahwa ada ayat ini dalam Al-Qur'an?!!
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." Al-Baqarah: 214)
Dari basement pemikiran seperti tersebut, saya kira kemudian dapat dipahami bahwa rancang bangun kesadaran (al-wa'yu) yang direncanakan dan mulai dipersiapkan oleh Mapesa dengan "proyek" kecil-kecilannya selama ini adalah sebuah rancang bangun kesadaran untuk masa depan yang mudah-mudahan dapat mengangkat bangsa dan ummah dari kerendahan ke ketinggian, serta meninggikan Agama Allah yang memang tinggi.
Ya, barangkali, bagi sebagian orang akan sulit memahami bagaimana kerja mengangkat batu nisan yang sudah dilakukan Mapesa sejak beberapa tahun lalu dapat berhubungan dengan cita-cita ideal seperti itu. Apakah ini mengada-ada dan sengaja dikait-kaitkan untuk menutupi yang lain?

Proses pengangkatan nisan Syaikhul 'Asykar Jamaluddin setelah ditemukan dalam lumpur.
Gampong Pande, Banda Aceh.
Untuk dapat memahami keterkaitan antara kerja yang dilakukan Mapesa hari ini dengan cita-citanya di masa depan diperlukan kecakapan dan jangkau pandang yang sedikit lebih jauh. Menguraikan keterkaitan tersebut sesungguhnya butuh ruang dan waktu yang lebih lebar. Tapi, di sini, saya akan memperlihatkan simpul-simpul dari keterkaitan itu seraya berharap semoga dapat dicerna dengan baik dan dicermati secara mendalam.
Nasib bangsa, ummah dan Agama di masa depan akan sangat ditentukan oleh apa yang kita pikir, yakini dan lakukan hari ini, dan bukan oleh apa yang hanya kita angan-angankan. Persoalan dimulai dari masalah bagaimana kita berpikir dan apa yang kita yakini. Ini menyangkut alam pikir yang kita miliki serta keadaan batin yang tercipta oleh alam pikir tersebut. Ketika alam pikir terisi oleh hujjah-hujjah yang kuat, maka keadaan batin menjadi tenang (muthma'in) dan muncul suatu keyakinan yang kuat. Sebaliknya, alam pikir yang tidak terisi dengan hujjah-hujjah yang kuat akan melahirkan berbagai bentuk keraguan, goyah dan bimbang, dan tidak ada apapun keyakinan di sana.
Dari itu, alam pikir yang kita miliki perlu kepada perhatian yang tinggi. Kasarnya, otak kita terisi dengan apa, itu merupakan suatu hal yang mesti diketahui dengan pasti dan diperbaiki. Suatu pemeriksaan terhadap isi otak perlu dilakukan untuk melihat apa yang kurang dan apa yang tidak perlu dan cuma suatu kesia-siaan; apa yang selama ini telah diabaikan dan apa yang perlu ditambahkan; apa yang telah disusupkan dan apa yang perlu dirombak dan diganti dengan yang lurus dan terlebih baik. Semua ini agar kita memiliki alam pikir yang mampu menentukan gerak dan langkah yang tepat dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik.
Singkat kata, kritik terhadap akal yang kita miliki merupakan suatu sikap rendah hati yang akan membukakan banyak peluang bagi terbentuknya alam pikir yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Satu "kiat" yang saya sarankan dalam hal ini guna Pembaca dapat memaklumi dengan baik sudut pandang ini: berupayalah untuk berpikir dengan kemerdekaan yang dituntun oleh Iman, dan cobalah untuk mengabaikan apapun pernyataan dari generasi yang disusui dan dibesarkan oleh rezim orde baru; mereka adalah masa lampau di seberang yang lain!
Untuk memperbaharui alam pikir, bahkan untuk membangun alam pikir yang baru, maka sejarah, yakni, mengetahui, memahami dan menyadari riwayat perjalanan bangsa dan ummah adalah satu perkara atau materi paling pokok yang mesti memperoleh ruang utama dalam alam pikir. Alam pikir yang tidak terisi materi ini adalah alam pikir yang mengambang di awang-awang dan akan menyeruduk ke mana suka; bahkan terkadang pemiliknya adalah makhluk yang sesungguhnya tidak teridentifikasi dan ganjil di punggung dunia ini!
Dari sudut pandang ini, maka kepentingan sejarah sama sekali tidak seperti dipersepsikan oleh orang-orang yang mengaitkan kerja Mapesa dengan hal-hal sebagaimana telah diungkapkan tadi. Kepentingan sejarah, di sini, adalah karena menyangkut pembentukan alam pikir yang mampu merekayasa masa depan bagi bangsa, Ummah dan Agama. Boleh saja seseorang tidak yakin dengan pernyataan, yang katanya, teoritis ini, dan lebih cenderung mengaitkan energi yang dimiliki Mapesa dalam melakukan kerja-kerjanya sebagai sesuatu yang diperoleh dari hal yang "agak supranaturalis" atau semacamnya. Silakan orang itu menganggapnya demikian, tapi sesungguhnya itu jauh sekali meleset dari kenyataan!
Untuk sebuah harapan di masa depan, itu bukanlah sesuatu yang teoritis, tapi itu adalah visi sekaligus sumber dorongan dan energi. Karena satu hal yang perlu disadari bahwa dalam keadaan seterpuruk apapun, masih banyak mata yang akan menitikkan tetes-tetes keharuan saat mengingat Aceh dan perjalanan sejarahnya yang panjang lagi mengesankan--bahkan, tidak hanya mengesankan bagi generasi Aceh yang kemudian, tapi juga bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Masih banyak pula orang yang bertanya: masih mungkinkah Aceh mengulang sejarahnya di masa depan? Jadi, Mapesa dan cita-citanya untuk masa depan bangsa, Ummah dan Agama, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis, tapi justru inti perkara dari semua yang dilakukannya.
Untuk itu, maka sejarah mesti merupakan kenyataan-kenyataan di masa lampau yang dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya dan mengandung sebanyak-banyaknya pelajaran yang mencerahkan. Sebuah garis pemisah yang tegas mesti ditarik antara sejarah dan cerita-cerita hiburan atau dongeng-dongeng pengantar tidur, sebagaimana hujjah-hujjah mesti dipisahkan dari khayal-khayal.
Kenyataan-kenyataan di masa lampau yang dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya hanya akan dapat disingkap lewat sumber-sumber yang autentik dan bukti-bukti fisik yang terjamin keasliannya. Di sinilah letaknya mengapa Mapesa terlihat akrab dengan batu-batu nisan peninggalan sejarah. Mapesa pada kenyataannya sedang melacak jejak-jejak yang ditinggalkan masa silam, menyingkap dan merunut bukti-bukti untuk dijadikan hujjah-hujjah, dan membaca berita-berita yang disampaikan oleh orang-orang yang sudah terlebih dahulu memiliki kesadaran terhadap masa depan serta telah menyediakan diri mereka untuk menjadi sumber pelajaran dan pengalaman bagi generasi-generasi yang datang di kemudian.
Semua itu dilakukan adalah untuk dapat melahirkan narasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus mampu membangun alam pikir yang terikat kuat dengan Pemilik Risalah, Al-Mushthafa, Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam, serta menyadari tanggung jawabnya terhadap masa depan bangsa, Ummah dan Agama. Inilah yang dituju oleh Mapesa, dan oleh karena itu pula ia mengajak masyarakat yang peduli untuk membaca lembaran-lembaran sejarah dari sumber-sumbernya yang autentik.

 
Gambar:
Ini adalah salah satu batu nisan peninggalan sejarah di kawasan situs Lamuri, di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Pembaca diundang untuk memberikan analisa tentang batu nisan ini, serta menyimpulkan tentang siapakah kita sebenarnya dan apa yang semestinya kita lakukan.
Bitai, 16 Rajab 1438
Oleh: Musafir Zaman
Dikutip dari group facebook Mapesa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib