Makam Ulama Yang Hidup Masa Sultan Al-Malik Ash-Shalih Ditemukan

Makam Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad
Gampong Paya Leupah, Simpang Keuramat, Aceh Utara.


Lembah Bersejarah dan Sandarannya
(Menjumpai Tokoh yang Wafat pada Masa Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih, Abad ke-8 Hijriah)
Di sebelah barat daya wilayah yang pada zaman lampau lebih dikenal dengan Teluk Samawi; kini, Kota Lhokseumawe. Di belakang serentang panjang perbukitan yang terlihat di sebelah kanan orang yang melalui wilayah Kota Lhokseumawe dari arah Banda Aceh, mulai Batuphat (Batu Pahat) sampai Punteut, atau di sebelah kiri dari arah kebalikan. Di sanalah, sebuah lembah subur menyembunyikan dirinya, berbaring dengan tenang dan nyaman, membujurkan badannya dari tenggara ke barat laut sambil mencelupkan kakinya di laut Selat Malaka.
Ke arah barat daya, wilayah Kota Lhokseumawe mencapai batas akhir bersama berakhirnya perbukitan yang berlekuk padat itu. Lembah permai kemudian segera menyambut setiap yang datang. Ia bak dara elok yang selalu dalam pingitan, terhijab oleh topografi perbukitan yang mendindinginya dari segala arah, dan hanya mempunyai satu celah untuk pergi memanjakan dirinya dengan hembusan angin laut Selat Malaka. Lewat celah itu, seluruh jalur air dan sungai yang dimilikinya dibawa serta menuju laut. Celah itu bernama Krueng Geukuh (harfiah: sungai yang digali). Sebuah kota pesisir berada di sana, dan Keude Krueng Geukuh telah lama menjadi pusat wilayah Dewantara - toponimi yang membisikkan tentang sebuah kota lama.
Dalam masa kemudian, lembah permai itu telah membagikan dirinya untuk tiga wilayah kecamatan: Simpang Keramat, Kuta Makmur dan Nisam. Semuanya berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Aceh Utara. Bagian atasnya yang berada di tenggara, atau sejajar kawasan dermaga Teluk Samawi di utara, telah diperuntukkan untuk Simpang Keramat. Tengah untuk Kuta Makmur, dan bagian akhirnya untuk Nisam.
Di wilayah-wilayah itulah kemudian CISAH telah menemukan ratusan kompleks makam Muslim dengan ribuan nisan kubur spesifik peninggalan sejarah masa pemerintahan Dinasti Al-Malik Ash-Shalih (ke-7 H s/d ke-10 H) atau bahkan, mungkin, jauh sebelumnya.
Ribuan nisan kubur itu merupakan bukti signifikan dari tingginya tingkat populasi yang pernah terjadi di wilayah-wilayah tersebut di zaman lampau. Lahan basah yang menjadi jantung lembah dan sangat baik untuk persawahan tentu merupakan daya tarik utama. Kerumunan manusia di lembah itu, dengan demikian, tidak sulit dipahami. Lahan basah yang luas itu menjadi faktor utama yang mendorong pembengkakan populasi sekaligus juga merupakan penyangga bagi sebuah kehidupan yang makmur.
Kepadatan penduduk yang diketahui lewat ribuan nisan kubur spesifik itu, pada akhirnya, merangsang kita untuk membuat dugaan bahwa kehidupan di sana, barangkali, telah berlangsung jauh lebih awal dari masa pemerintahan Dinasti Al-Malik Ash-Shalih (ke-7 H s/d ke-10 H). Benang merah yang mengaitkan nisan-nisan kubur Muslim itu dengan masyarakat yang hidup pada masa pra-Islam dapat saja ditarik, tapi untuk memastikannya, kita masih memerlukan sejumlah bukti yang lebih tegas.
Dalam kepadatan tersebut; di tengah-tengah "kerumunan" itu, satu kompleks makam peninggalan sejarah dalam wilayah Simpang Keramat telah memeluk jasad seorang ulama yang namanya diawali julukan "Qiwam".
"Qiwam", satu kata dalam bahasa Arab yang di antara maknanya ialah sandaran.
هو قوام أهل بيته
(Ia sandaran dan orang yang mengurusi keluarganya)
Ketika julukan tersebut diberikan kepada seorang ulama, maka dengan mudah dapat dipahami bahwa ia adalah sandaran masyarakatnya; seorang yang membimbing, mengasuh dan mengayomi mereka. Demikianlah sesungguhnya kedudukan ulama dalam masyarakat, dan sungguh tidak terhitung kisah teladan terkait hal ini dalam sejarah Islam - saat baris ini ditulis, pikiran saya secara serta merta tertuju kepada sikap-sikap teladan dari Syaikh Asy-Syafi'iyyah, Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy (wafat 676 H), pengarang Minhaj Ath-Thalibin dan Ar-Raudhah, Rahimahu-Llah!
Sekarang, izinkanlah saya memandu Pembaca mengunjungi Sang Sandaran yang hidup di masa lampau lembah yang sedang dibicarakan ini.
Gambar-gambar yang dipublikasi di sini berasal dari dokumen CISAH; direkam dalam kunjungan kedua sejak beberapa tahun yang lalu (permulaan 2015). Tapi di sini saya mencoba mengumpulkan ingatan yang tersisa dari kunjungan pertama, yakni saat ditemukan pertama sekali sejak beberapa tahun sebelum kunjungan kedua.
Dari pantai Lhokseumawe ke Simpang Keramat sekitar 11-12 km ke selatan. Kompleks makam itu, kiranya, terletak di Gampong Paya Leupah. Di sana, sebuah lorong memisahkan diri dari jalan yang menuju Keude Simpang Peut, yakni pekan dan pusat Kecamatan Simpang Keramat. Lorong itu berlajur lurus ke arah barat, mengantarkan kita ke sebuah kebun yang kala itu tidak terawat. Kendaraan mesti dihentikan saat mencapai kebun itu, dan ziarah mesti dilanjutkan dengan jalan kaki ke sisi barat kebun.
Sejenak kemudian, petakan sawah mulai tampak di ujung barat, dan hanya beberapa meter sebelum sampai ke permulaan areal sawah, pohon-pohon kecil yang tidak beraturan dan semak-semak telah menghalangi pandangan dari batu-batu nisan makam yang hendak dikunjungi.
Setelah penghalang pandangan itu disibak, yang pertama sekali terlihat adalah batu nisan sebelah kepala atau sebelah utara (A).
Pada sisi utara batu nisan kepala (A.A.) itu terdapat inskripsi berbunyi:
أ. أ.
1. يحيطون
2. الأرض من ذ [ا] / الذي يشفع
3. عنده إلا بإذ / نه يعلم ما بين أ
4. يديهم وما خلفهم / ولا (^) بشيء من علمه

Sisi utara batu nisan kepala Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad

Sebagaimana dimaklumi, ini adalah bagian dari Ayat Al-Kursiy (Al-Baqarah: 255).
Dapat dikatakan, secara keseluruhan dan sangat umum, baris-baris inskripsi pada batu nisan peninggalan sejarah di Aceh dimulai dari atas (puncak) lalu turun ke bawah, dan tidak sebaliknya.
Di sini, pada baris paling atas terlihat:
يحيطون
Melihat kata ini dipahat pada baris atas atau puncak, wajar saja apabila kita secara spontan mengira, itu merupakan sambungan dari kalimat yang terpahat di sisi satunya lagi, yakni di sisi selatan dari batu nisan yang sama. Yakni, sambungan dari kalimat:
يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا
Dan sambungan setelah
يحيطون
adalah:
بشيء من علمه
yang kita duga akan kita jumpai pada baris kedua.
Namun kenyataannya, pada baris kedua, kita justru menemukan kalimat:
الأرض من ذ [ا] / الذي يشفع
Dan ini tentu sambungan dari:
له ما في السموات وما في
Bukan sambungan dari:
يحيطون
Dari sini, kita segera menyadari bahwa perkiraan kita tadi keliru. Di sini, kita tentunya telah menemukan sebuah kejanggalan.
Setelah kita melalui baris ketiga dengan aman, pada baris keempat barulah kita menyadari bahwa "yuhithun" yang ditempatkan pada baris pertama (bagian puncak) bukanlah kejanggalan yang disebabkan kesilapan atau kesalahan, melainkan memang mutlak kesengajaan. Bukti kesengajaan itu adalah karena pada baris keempat, seniman seharusnya memahat:
وما خلفهم ولا يحيطون بشيء من علمه
Tetapi ia justru memahat:
وما خلفهم ولا بشيء من علمه
Tanpa kata:
يحيطون
Secara mencolok, ia mengisyaratkan bahwa kata tersebut telah dipindahkan ke baris paling atas, dan hal ini mohon diperhatikan.
Ya, kita harus mencamkan ini. Seniman ingin menyatakan sesuatu selain memahat ayat Al-Kursiy pada batu nisan ini.
Sekarang kita pindah ke sisi selatan dari batu nisan yang sama (sisi A.B.). Batu nisan condong ke selatan, dan karenanya baris keempat dari sisi selatan ditemukan terbenam kala pemotretan.
Inskripsi yang tampak:
أ ب.
1. في
2. الله لا إله / إلا هو الحي ا
3. لقيوم لا تأ / خذه سنة و لا
4. ......
Sisi selatan batu nisan kepala Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad
Pada sisi ini, baris pertama adalah huruf Jar:
في
(di/pada)
Saya yakin pada baris keempat yang terbenam ke dalam tanah itu terdapat kalimat:
... نوم له ما في السموات وما في
Ada dua "Fi" pada kalimat ini, dan sebagaimana yang dilakukan di sisi utara, salah satu "Fi" tentu telah dipindahkan ke baris paling atas. Saya menebak, "Fi" yang dipindahkan adalah "Fi" yang pertama, yakni "Fi" yang sebelum kata "as-samawat". Namun terlepas dari "Fi" mana saja yang dipindahkan, yang jelas dan mesti dicamkan, itu adalah karena seniman pemahatnya ingin mengungkapkan "sesuatu"!
Baik, kita sekarang beralih ke batu nisan sebelah kaki atau selatan (B).
Pada sisi utara batu nisan ini (sisi B.A) terdapat inskripsi:
ب. أ.
1. أحمد
2. ولا قوة إلا با /ا (كذا) لله العلي
3. العظيم قو / ام شيخ محمد بن شيخ (^)
4. لا إله إلا ا / لله محمد رسول الله
Sisi utara batu nisan kaki Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad

Sebagaimana dapat dilihat, pada baris pertama sisi ini tertulis:
أحمد
(Ahmad)
Pada baris kedua sampai permulaan baris ketiga:
ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
(...tidak ada kekuatan selain dengan [bergantung kepada] Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)
Selanjutnya adalah:
قوام شيخ محمد بن شيخ
Nama syaikh yang kedua, yakni nama ayah dari Qiwam Syaikh Muhammad, tidak dijumpai di baris ini karena telah dipindahkan ke baris paling atas; baris pertama: "Ahmad".
Seperti sebelumnya, hal ini mesti diberi perhatian.
Dari gelar "syaikh" yang disandang oleh anak dan ayah, dapat dipahami bahwa keduanya merupakan ulama sekaligus pemimpin dan sandaran masyarakat yang mendiami wilayah itu pada masa hidup mereka.
Tentang julukan "qiwam" yang berarti sandaran, dapat ditambahkan pula di sini bahwa Abul Qasim Isma'il bin Muhammad Al-Qurasyi At-Taimiy (wafat 535 H), salah seorang imam dalam mazhab Asy-Syafi'iy dan muhaddits (perawi hadits) terkemuka, digelar dengan "Qiwam As-Sunnah" karena ia adalah sandaran dan ikutan Ahlus Sunnah. (Lihat, Al-Bidayah wa An-Nihayah; & Mu'jam Al-Alqab wa Al-Asma' Al-Musta'arah)
Dan baris keempat sisi ini adalah kalimat Tauhid.
Kemudian ke sisi selanjutnya dan terakhir, yakni ke sisi selatan dari batu nisan kaki (B.B.).
ب. ب.
1. الحمد لله
2. سبحان الله و / الحمد لله و
3. لا إله إلا / الله والله
4. أكبر ولا / حول ولا
Sisi selatan batu nisan kaki Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad

Pada sisi ini, baris-baris inskripsi diawali oleh kalimat:
الحمد لله
Penempatan Hamdalah pada sisi ini sangat terkesan seperti ingin mengakhiri sesuatu serta menutupnya dengan syukur dan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqiy dengan sanad yang shahih dari Anas bin Malik Radhiya-Llahu 'anhu; ia mengatakan:
Rasulullah Shalla-Llah 'alaihi wa Sallam bersabda:
ما أنعم الله على عبده نعمة فقال الحمد لله إلا كان الذي أعطى أفضل مما أخذه
(Setiap saat Allah menganugerahkan suatu kenikmatan kepada hamba-Nya, lalu hamba-Nya itu mengucapkan 'Alhamdu li-Llah", maka setiap kali itu pula Allah akan menganugerah sesuatu yang terlebih baik daripada yang telah diterimanya.)
Sebagaimana dapat dimaklumi, pengucapan Hamdalah pada hal-hal terkait kematian adalah perkara yang kurang lazim. Pernahkah Pembaca mendengar seseorang mengucapkan Alhamduli-Llah saat diberitahukan tentang ada orang yang meninggal dunia?!
Pada batu nisan ini, kalimat mengungkapkan syukur dan puji bagi Allah Ta'ala itu dipahat pada baris pertama sisi ini! Apa sesungguhnya yang disyukuri? Hal ini tentu perlu kepada perhatian.
Baris-baris inskripsi selanjutnya adalah kalimat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Imam Muslim Radhiya-Llahu 'anhu meriwayatkan dari Samurah bin Jundab:
Rasulullah Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
أحب الكلام إلى الله أربع سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر لا يضرك بأيهن بدأت
(Kalimat yang paling dicintai Allah itu empat: "Subhana-Llah [Maha Suci Allah]; Alhamduli-Llah [segala puji bagi Allah]; La Ilaha Illa-Llah [tiada Tuhan melainkan Allah]; Allahu Akbar [Allah Maha Besar]. Takkan jadi salah bagimu untuk memulai dengan kalimat mana saja.)
Selanjutnya adalah permulaan Hauqalah, yakni ucapan:
لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
(Tiada daya dan kekuatan melainkan [dengan menggantung diri] kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)
Imam Al-Bukhari dan Muslim Radhiya-Llahu 'anhuma meriwayatkan dari Abu Musa Radhiya-Llah 'anhu:
Rasulullah Shalla-Llahu 'alahi wa Sallam bersabda:
ألا أدلك على كلمة هي كنز من كنوز الجنة: لا حول ولا قوة إلا بالله
(...... Maukah kamu aku tunjukkan kepada satu kalimat, yang ia merupakan satu di antara perbendaharaan syurga, yaitu: "La haula wa la quwwata illa bi-Llah" [tiada daya dan kekuatan melainkan dengan bergantung kepada Allah])
Setelah selesai kita membaca semua baris-baris tersebut, kini, kita perlu menyusun kalimat-kalimat itu sebab pembacaan yang kita lakukan adalah mengikuti pola arah baca dari kanan ke kiri atau utara-selatan (U-S), atau ketika batu nisan memiliki inskripsi di keempat sisinya maka pola baca dari kanan ke kiri dimulai dari utara, lalu timur, selatan dan barat (U-T-S-B).
Pada batu nisan ini, inskripsi hanya terdapat pada dua sisi; U=A dan S=B.
Dengan pola baca dari kanan ke kiri atau U-S, kita menemukan bacaan ayat Al-Kursiy menjadi terbalik; tengah menjadi pangkal, dan pangkal menjadi tengah. Namun kita tahu, hal seperti ini tidak diinginkan oleh seniman pemahat. Bacaan yang sesungguhnya dimaui ialah yang dimulai dari selatan ke utara (dan tetap dari kanan ke kiri), sehingga bacaan yang benar - dengan memperhitungkan bagian atau kata yang telah dipindahkan ke baris pertama - ialah:
الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في السموات وما في الأرض من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يحيطون بشيء من علمه
(Allah, tidak ada tuhan selain Dia.Yang Maha Hidup, Yang terus menerus Mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya .......)
Dari sini, kita juga tahu bahwa ayat ini tidak terpahat sampai selesai.
Baris kedua sampai keempat pada dua sisi batu nisan ini, dengan demikian, mesti dibaca dengan pola arah selatan ke utara (S-U).
Seniman pemahat memang sengaja menginginkannya demikian.
Kenapa?
Pertama, tentu saja karena ia ingin mempertegas kejanggalan yang telah kita sadari sejak tadi.
Kedua, Karena ia telah berencana untuk memindahkan kata yang ia pilih dari ayat tersebut ke posisi baris atas.
Untuk apa?
Ini rahasianya: karena ia ingin mengungkapkan sesuatu yang lain lewat pemahatan ayat ini pada batu nisan.
Untuk mengungkapkan hal lain itu, ia harus memberikan pola arah baca yang berbeda antara ayat dan lafazh-lafazh yang akan digunakan untuk mengungkapkan hal lain tersebut.
Seniman pemahat ingin kita segera menyadari dan memperhatikan hal ini!
Dengan demikian, pola arah baca baris pertama tetap sebagaimana pola asli: U-S atau A-B, sedangkan baris kedua sampai empat adalah dengan pola S-U atau B-A.
Jika kata pada baris pertama dari kedua sisi batu nisan disusun dengan pola U-S (A-B), maka bacaannya ialah:
يحيطون في
Membaca dengan pola S-U (B-A) untuk baris pertama akan menghasilkan bacaan yang sama sekali keliru.
Dengan pola arah baca yang sama, kita lantas menyusun kalimat-kalimat pada batu nisan bagian kaki (selatan; B).
Baris pertama dari kedua sisinya dengan pola baca U-S (A-B) menghasilkan bacaan:
أحمد الحمد لله
Baris-baris selanjutnya, baris kedua sampai keempat, pada setiap sisi batu nisan ini, dengan pola baca S-U (B-A) - serta dengan memperhitungkan bagiannya yang telah dipindahkan ke baris atas - menghasilkan bacaan:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم - قوام شيخ محمد بن شيخ أحمد - لا إله إلا الله محمد رسول الله
Dapat disimpulkan:
Baris kedua sampai keempat batu nisan bagian kepala (utara; A) adalah inskripsi ayat Al-Kursiy (Al-Baqarah: 255) dari permulaan sampai ke:
ولا يحيطون بشيء من علمه
Lalu, baris kedua sampai keempat pada kedua sisi batu nisan bagian kaki (selatan; B) adalah tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hauqalah, lalu nama pemilik makam (epitaf), dan diakhiri dengan kalimat tauhid.
Sementara baris pertama pada setiap sisi dari kedua batu nisan baru memberikan makna apabila semuanya digabungkan dengan mengikuti pola U1-S1-U2-S2 (A.A.-A.B.-B.A.-B.B.) dan dibaca dalam satu kalimat, yaitu:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Itulah, kiranya, hal lain yang ingin diungkapkan oleh seniman. Ia ternyata memberitahukan tentang sebuah keadaan di masa itu.
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Kata "yuhithun" dalam ayat Al-Kursiy bermakna: mengetahui.
ولا يحيطون بشيء من علمه
(... dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya.)
Sementara dalam konteks:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
kata tersebut bermakna: memperhatikan sungguh-sungguh, menjaga, mengawal.
Ibnu Manzhur dalam Lisan Al-'Arab:
حاطه الله حوطا وحياطة والاسم الحيطة والحيطة : صانه وكلأه ورعاه
(Yakni: menjaga, melindungi, memelihara.)
الحائط : الجدار لأنه يحوط ما فيه
(Yakni: dinding, karena ia melindungi apa yang di dalamnya.)
أحطت الحائط وحوط حائطا : عمله
(Yakni: membuat dinding.)
أحاط بالأمر إذا أحدق به من جوانبه كله
(Yakni: memperhatikan sesuatu dengan sungguh-sungguh dari keseluruhan sisinya.)
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Selanjutnya, huruf "Fi", yakni huruf Jar di depan kata "yuhithun". Penempatan "Fi" di sini benar-benar dapat menyadarkan kita dengan siapa sesungguhnya kita sedang berhadapan. Pada tempat "Fi" itu seharusnya diduduki oleh "Bi" (huruf Jar Ba') sebagaimana dalam ayat:
ولا يحيطون بشيء من علمه
Dan seniman pemahat tahu pasti itu. Tetapi memang ulama Nahwu telah lama berselisih tentang "Tanawub Harf Al-Jar", yakni tentang saling berganti 'peran' di antara huruf Jar.
Para ahli Nahwu dari Kufah (Al-Kufiyyun) menyatakan dan membolehkan adanya pergantian 'peran' di antara huruf Jar. Dan atas pandangan ini, huruf "Fi" dalam kalimat:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
merupakan pengganti dari huruf "Bi".
Pandangan tersebut ditolak oleh para ahli Nahwu dari Bashrah (Al-Bashriyun) serta Jumhur Ahli Nahwu. Mereka memandang, tidak ada pergantian peran di antara huruf Jar. Yang ada hanyalah "tadhmin" (pengandungan makna fi'il atau kata kerja lain) dan "majaz". Dengan pandangan ini, maka "yuhithun" dalam kalimat tersebut mengandung ("tadhmin") makna:
يجتمعون
yakni, mereka berkumpul mengelilingi dan memperhatikan sungguh-sungguh.
Kiranya, itulah makna yang diinginkan oleh empunya kalimat ketika ia memilih huruf "Fi" untuk ditempatkan pada tempat yang ia tahu, seharusnya, diduduki huruf "Bi".
Ia menyengajakan hal itu untuk "tadhmin" (pengandungan makna fi'il atau kata kerja lain di dalam kalimat), sebab di dalamnya juga terdapat "tasybih" (penyerupaan). Ia ingin menyerupakan ("tasybih") orang-orang itu berkumpul, melingkar dan mengelilingi serta memberikan perhatian kepada orang yang dimaksudkan dalam kalimat tersebut tak ubahnya dinding benteng yang menjaga dan mengawal orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Saya yakin sekali bahwa demikianlah yang diinginkan empunya kalimat, dan karena itu, saya melihat, ia adalah seorang pendukung pandangan para ahli Nahwu dari Bashrah dalam persoalan "Tanawub Harf Al-Jar".
Dari sini dapat disimpulkan: kata "yuhithun" dalam kalimat tersebut bermakna: mereka memperhatikan sungguh-sungguh, berkumpul, mengelilingi, menjaga dan mengawal.
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Ahmad adalah di antara nama Nabi Muhammad Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam. Nabi Shall-Llahu 'alaihi wa Sallam memiliki 5 nama yang paling mashur, yang beliau sebut dalam sebuah hadits.
Al-Bukhari, Muslim dan lainnya Radhiya-Llahu 'anhum meriwayatkan hadits dari Jubair bin Muth'im Radhiya-Llahu 'anhu, Rasulullah Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
لي خمسة أسماء: أنا محمد، وأحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي، وأنا العاقب
(Aku mempunyai 5 nama: aku Muhammad; Ahmad; dan akulah Al-Mahi (penghapus): Allah menghapuskan kufur lewatku; dan akulah Al-Hasyir (orang pertama yang dibangkitkan pada hari kiamat), yang semua orang kemudian dibangkitkan sesudahku; dan akulah Al-'Aqib (penyudah; penutup; tidak ada nabi setelah Beliau)."
Al-Qur'an menyebut nama Nabi Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam dengan Ahmad lewat ucapan Nabi 'Isa 'Alaihissalam yang terdapat dalam surah Ash-Shaff, ayat 6.
Dari sini, tahulah kita kemudian bahwa seniman pemahat ternyata ingin memberitahukan sebuah keadaan di masanya:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Yakni: "Mereka tetap memperhatikan sungguh-sungguh, mengawal serta memelihara ajaran dan tuntunan Nabi Muhammad Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam. Maka untuk itu, segala puji bagi Allah!"
Ternyata, untuk keadaan tersebutlah ucapan syukur dan puji kepada Allah Ta'ala diucapkan serta dipahatkan pada batu nisan kubur seorang yang menjadi sandaran mereka!
Untuk lebih menguatkan makna yang kita berikan, perlu pula kiranya mengutip kembali Ibnu Manzhur dalam Lisan Al-'Arab ketika ia menjelaskan makna:
حاطه الله حوطا وحياطة
Ibnu Manzhur menukilkan hadits dari Al-'Abbas:
قلت يا رسول الله ، ما أغنيت عن عمك ، يعني أبا طالب ، فانه كان يحوطك ....
(Aku [Al-'Abbas] mengatakan, wahai Rasulullah, engkau tidak dapat mengabaikan pamanmu -yakni, Abu Thalib. Ia sesungguhnya telah "menjaga serta melindungimu"...)
Tidak jauh dari makna itulah yang ingin disampaikan oleh seniman pemahat lewat kalimatnya:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Hanya saja, menjaga Rasulullah Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam di masa hidup beliau berbeda dengan menjaga beliau setelah beliau tiada. Menjaga dan melindungi Rasulullah Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam setelah beliau tiada adalah dengan menjaga dan membela syari'at yang beliau bawa. Hal inilah yang dituju dengan kalimat terpahat pada batu nisan Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad. Dan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala oleh karena mereka memang demikian.
Apakah sudah selesai?
Apakah sampai di situ saja yang ingin diungkapkan oleh seniman?
Sekarang, mari kita bayangkan seolah-olah kita, yakni saya dan Pembaca, dapat mengajukan pertanyaan kepada seniman, bahkan mengkritiknya.
Kita mengatakan kepadanya, "Tuan membuat kalimat:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Di sini, mengapa Tuan memilih kata "Ahmad" yang seharusnya berada di baris ketiga dari sisi utara batu nisan sebelah kaki (B.A.), untuk Tuan pindahkan ke baris pertama? Bukankah Tuan punya pilihan yang lebih baik dari itu dan akan lebih mudah dimengerti, yakni dengan memilih kata "Muhammad"? Mengapa Tuan tidak membuat,
يحيطون في محمد ، الحمد لله
padahal, nama "Muhammad" dan nama "Ahmad" berada di baris yang sama?
Ya, kita dapat saja membayangkan kita menanyakan soal itu kepada seniman, ataupun menyanggahnya. Tetapi walau bagaimanapun, jawabannya tetap telah tertinggal di masa lalu.
Andaikan benar seniman ingin mengungkapkan:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Kenapa ia tidak memilih kata "Muhammad"?!
Untuk menghilangkan rasa penasaran, barangkali tidak ada cara lain kecuali mencoba mewakili seniman untuk menjawab pertanyaan itu, dan saya mengatakan: itu merupakan sebuah tanda atau sinyal!
Saat sesuatu terlihat janggal, maka tentu ada faktor di belakangnya. Kejanggalan adalah sebuah tanda. Menyingkapkannya dapat memberikan sebuah jawaban; sebuah informasi yang tidak tersurat, tapi tersirat.
Mewakili seniman, saya juga mengatakan: Ya, saya tahu Anda akan menanyakannya, bahkan saya sangat berharap Anda menanyakan. Jika tidak dipertanyakan, berarti saya gagal menarik perhatian Anda ke sebuah informasi yang saya tanam dalam kalimat-kalimat itu.
Mengapa memilih "Ahmad" dan tidak memilih "Muhamamad" untuk dipindahkan ke baris pertama sedangkan itu bisa saja dilakukan?
Kalimat-kalimat pada kedua batu nisan ini, setidaknya, memiliki 3 lapisan pengungkapan.
Satunya, lapisan permukaan. Anda segera tahu itu setelah mebacanya, yakni: ayat Al-Kursiy, tasbih, tahmid, tahlil, hauqalah, epitaf dan kalimat Tauhid, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
Lapisan kedua, baru saja selesai dijelaskan; yakni kalimat:
يحيطون في أحمد ، الحمد لله
Sedangkan lapisan ketiga, Anda baru dapat menemukannya apabila mengabaikan batu nisan sebelah kepala (utara), dan hanya memusatkan perhatian (fokus) kepada pada baris pertama batu nisan sebelah kaki (selatan), dan hal ini tidak mungkin untuk sebaliknya. Alasannya ialah karena kata-kata pada baris pertama batu nisan sebelah kepala (A.A. & A.B.) tidak akan sempurna dan tidak punya makna jika tidak disambungkan dengan kata-kata pada baris pertama batu nisan sebelah kaki (B.A. & B.B.). Berbeda halnya dengan kata-kata pada baris pertama batu nisan sebelah kaki (B.A. & B.B.), kata-kata itu dapat menyusun kalimat yang sempurna dan mendatangkan makna sekalipun tanpa kata-kata pada baris pertama batu nisan sebelah kepala (A.A. & A.B). Yakni:
أحمد ، الحمد لله
Kata "ahmad" merupakan peralihan dari bentuk dasar kata: "hamida" atau "hamd", yang berarti puji. Peralihan ke bentuk tersebut adalah untuk menyatakan makna: lebih atau melebihi dari yang lain (tafdhil), atau bersangatan (mubalaghah). Sebagaimana penjelasan Al-Baghawiy (wafat, 516 H), Rahimahu-Llah, dalam tafsirnya (untuk surah Ash-Shaff, ayat 6), "Ahmad" dapat merupakan bentuk mubalaghah dari pelaku pujian atau pemuji (fa'il: hamid; hammad), yang dengan demikian bermakna: orang yang paling banyak memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala, ataupun bentuk mubalaghah dari orang yang dipuji (maf'ul: mahmud), yakni: orang yang paling dipuji karena memiliki segala pekerti terpuji.
"Ahmad" dalam kalimat:
أحمد ، الحمد لله
dapat saja dipahami sebagaimana kedua makna tersebut, yakni orang yang banyak memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atau oraang yang sangat dipuji karena memiliki banyak sifat terpuji. Akan tetapi yang lebih tepat di sini, kiranya, adalah makna yang kedua; orang yang amat dipuji oleh karena budi pekertinya.
Pada lapisan pengungkapan ini - yakni, setelah memisahkan hubungannya dengan kata-kata pada baris pertama batu nisan sebelah kepala (utara; A) - seniman atau empunya kalimat, sesungguhnya, ingin mengatakan:
أحمد ، الحمد لله هو
(Dia orang terpuji. Segala puji bagi Allah.)
atau:
رجل أحمد ، الحمد لله هو
(Dia laki-laki paling terpuji. Segala puji bagi Allah.)
Orang yang dimaksudkan di sini tentu sang penghuni kubur. Itu, pertama, karena kalimat ini terdapat pada batu nisan sebelah kaki yang lazim digunakan untuk menyebutkan epitaf; kedua, karena pada bagian ini terdapat nama penghuni kubur; dan ketiga, karena di sini, kata "ahmad" itu sendiri merupakan nama ayah dari penghuni kubur, yang telah dipindahkan ke baris pertama untuk dapat mengungkapkan hal-hal lain.
"Dia orang paling terpuji", tentu saja, berkenaan dengan Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad, Rahimahuma-Llah.
Tetapi, apakah kalimat itu semata-mata ditujukan untuk menyanjung Syaikh Muhammad?
Penyanjungan semisal itu, walaupun memang juga dimaksudkan, terkesan sebagai ungkapan lugu apabila hanya ditujukan untuk penyanjungan. Sebaliknya, itu justru akan bernilai istimewa apabila pada hakikatnya ditujukan untuk sesuatu yang lebih berarti dan lebih penting.
Saya tidak dapat mewakili seniman atau empunya kalimat apabila saya salah menakar kecerdasan dan keluasan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dari apa yang telah diurai dan dikemukakan, saya memastikan ia tidak akan melakukan hal naif tersbeut; semata-mata menyanjung dengan mengatakan: "dia orang terpuji."
Kini, tiba waktunya, untuk kita memperhatikan apa yang hilang, yakni apa yang sesungguhnya menjadi jawaban mengapa ia memilih kata "Ahmad", dan bukan kata "Muhammad" untuk dipindahkan ke baris pertama.
Seniman atau empunya kalimat telah memberitahukan nama orang yang dikuburkan bahkan bersama julukannya: Qiwam Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad. Setelah itu maka tidak ada hal yang terlebih penting diberitahukan menyangkut orang meninggal selain dari waktu meninggalnya atau tarikh wafat. Kita tidak melihat informasi mengenai hal itu tersurat di sini. Itulah sesuatu yang hilang!
Apakah hal itu memang tidak diberitahukan?
Orang Arab mempunyai cara lain untuk memberitahukan penanggalan selain dengan menyebutkan angka tahun. Mereka memiliki apa yang disebut dengan Hisab Al-Jummal. Setiap huruf Arab memiliki nilai dalam bentuk angka. Mereka menggunakan huruf-huruf itu, yang biasanya disusun dalam bentuk kalimat bermakna, untuk menyebutkan penanggalan atau tahun.
Dengan memperhitungkan tradisi berakar ini, maka kalimat:
أحمد ، الحمد لله
sesungguhnya, bertujuan utama untuk memberitahukan kapan penghuni kubur meninggal dunia. Seniman atau empunya kalimat menyusun huruf-huruf yang dapat memberitahukan angka tahun wafat, dan karena itu pula, ia memilih "Ahmad" dan tidak memilih "Muhammad" supaya sampai kepada jumlah angka yang dimaksud.
Dalam hal ini, dengan kecerdikan yang mesti diakui, seniman atau empunya kalimat berhasil merumuskan kalimat yang dengan sendirinya mengandung sanjungan kepada sang penghuni kubur. Ini, dalam waktu yang sama, juga merupakan sebuah adab (kesantunan) terhadap orang yang meninggal dunia, apalagi kemudian juga diiringi dengan ucapan yang memaknakan bahwa hanya Allah Ta'ala yang patut dipuji atas keterpujian budi pekerti sang penghuni kubur di masa hidupnya.
أحمد ، الحمد لله
Dengan perhitungan Hisab Al-Jummal Ash-Shaghir, kalimat ini akan menghasilkan angka: 201; sebuah angka yang terlalu mustahil untuk dijadikan sebagai angka tahun hijriah dari meninggalnya sang penghuni kubur ini, dan dalam waktu yang sama, juga akan bertentangan dengan data serta pertimbangan ilmiah yang lain. Tetapi, dengan menggunakan Hisab Al-Jummal Al-Kabir, di mana setiap huruf dihitung dengan jumlah nilai huruf-huruf penyusunnya ("alif", misalnya, tersusun dari huruf-huruf: alif, lam, fa'. Alif: 1; lam: 30; fa': 80 = 111), maka angka yang dihasilkan dapat diterima sebagai angka tahun wafat Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad, serta didukung oleh berbagai data dan pertimbangan ilmiah.
Perhitungan kalimat tersebut dengan Hisab Al-Jummal Al-Kabir adalah sebagai berikut:
ا : ا + ل + ف : 111
ح : 9
م : م + ي + م : 90
د : د + ا + ل : 35
ا : 111
ل : ل + ا + م : 71
ح : 9
م : 90
د : 35
ل : 71
ل : 71
ه : 6

= 709
Perhitungan ini dengan demikian menerbitkan angka tahun hijriah 709 (abad ke-8 Hijriah) untuk tahun wafat Syaikh Muhammad bin Syaikh Ahmad. Acuan untuk model batu nisan dari abad ke-8 Hijriah yang terdapat di kompleks makam kesultanan Sumatra di Gampong Meunasah Meucat, Blang Me, dapat mendukung angka ini sebagai angka tahun wafat yang disurat lewat kalimat pada batu nisan Syaikh Muhammad.
Kalimat:
أحمد ، الحمد لله
dengan demikian, tidak lagi menunjukkan suatu penyanjungan yang lugu, tapi merupakan kalimat yang istimewa dan memiliki arti yang sangat penting, bahkan menunjukkan suatu kecerdasan yang memang diyakini dimiliki oleh seniman atau empunya kalimat tersebut.
Dengan angka tahun wafat tersebut, kiranya, kita telah bertemu dengan seorang tokoh yang hidup sejak masa Sultan Al-Malik Ash-Shalih (wafat, Ramadhan 696 Hijriah) dan meninggal dunia dalam masa pemerintahan Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih (wafat, 12 Zulhijjah 726 Hijriah).
Apa artinya ini semua untuk gerak penelitian?
Kita, dengan demikian, perlu menggeledah seluruh isi lembah yang bersejarah ini untuk mendapatkan penanggalan yang eksplisit.
Lembah itu telah terisi dengan masyarakat yang padat pada zaman Sumatra, dan batu nisan Sang Sandaran di lembah itu diharapkan dapat menjadi awal dari penemuan kisah masyarakat abad ke-8 Hijriah Sumatra, yang diakui sangat langka infomasinya.

Ibnu Baththuthah bertandang ke Sumatra di pertengahan abad ke-8 Hijriah ini, dan telah menyaksikan serta merekam berbagai dinamika kehidupan di sana dalam masa itu. Maka, akan indah sekali, andai kata informasi-informasi yang disampaikan Ibnu Baththuthah mendapatkan dukungan bukti sejarah.
Kuta Malaka, 11 Muharram 1440.

Oleh: Musafir Zaman.
Dikutip dari group facebook Mapesa.

Post a Comment

0 Comments