Puing Puing IndraPurwa - digambarkan sebagai “Atlantik”nya Aceh (Di Bent...



Oleh sebagian peneliti kepurbakalaan, kawasan di sekitar Kuala Pancu digambarkan sebagai “Atlantik”nya Aceh. Menyaksikan bekas-bekas kehidupan masa kuno yang direndam genangan pasang laut, pikiran terpancing untuk membayangkan situasi kawasan ini ketika masih dipadati hunian dan terisi oleh kehidupan yang dinamis. Bencana tsunami 2004 menelan daratan Gampong Lambaroe Neujit, Lam Pageu, Lam Guroen, dan Lam Badeuk. Mengubah sebagian besar wilayah Mukim Lam Pageu, di Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, menjadi areal pasang surut laut. Gelombang besar itu juga membongkar lapisan tanah yang mendeposit puing dari masa-masa yang lebih silam. Dalam masa kerajaan Aceh, ini adalah wilayah 6 Mukim, Sagi 25 mukim. Kuala Pancu disebut pula dengan Kuala Neujit atau Kuala Neujit Pancu. Neujit diasumsikan berasal dari kata “neujeud” yang berarti ciptaan atau buatan dalam Bahasa Aceh. Ada pula yang menulisnya dengan Nerjid. Beberapa sumber lain menyebutnya Najiah dan Nariji. Najiah, dalam bahasa Arab, berarti: yang selamat. Menurut sumber tersebut adalah nama kampung di selatan kuala. Sedangkan Nariji boleh jadi berasal dari Narajil, yang dalam bahasa Arab berarti pohon kelapa. Kuala Pancu adalah salah satu dari 4 kuala di mana pernah terdapat dermaga-dermaga Bandar Aceh Darussalam. Lainnya adalah Kuala Cangkoi, Kuala Aceh, Kuala Lhoek dan Kuala Gigieng. Kuala Pancu adalah yang terbarat, dan terletak di sebuah tanjung yang membawa nama yang sama: Ujoeng Pancu. Sebuah tanjung yang menjorok ke Teluk Aceh, dan terletak di sisi timur Tanjung Aceh yang dikenal dengan Ujoeng Masam Muka. Pancu, menurut sebagian peneliti, mengacu kepada sebuah toponimi kuno yang sangat terkenal, yaitu Fanshur. Tapi, keyakinan lain mengusulkan Pancu sebagai peralihan bunyi dari kata Pachua, yang berarti angin barat dalam Bahasa Hindi. Ujoeng Pancu dengan demikian bermakna tanjung di mana angin barat atau angin “museim barat” bertiup menerpa daratan Bandar Aceh. Sebuah toponimi kuno yang masih melekat untuk kawasan ini adalah Indrapurwa. Sulaiman Al-Mahriy menyebutkan sebuah bandar di Sumatra bernama Indrapuwa. Dalam Al-Minhaj Al-Fakhir yang ditulisnya dalam tahun 917 Hijriah atau 1511 Masehi, ia mengungkapkan bahwa bandar ini tidak lagi terkenal di zamannya, tetapi sangat terkenal di masa lampau. Struktur masjid tua yang membawa nama Indrapurwa masih dapat disaksikan sampai setelah bencana tsunami 2004 di Gampong Lampageu. Bekas struktur masjid lainnya juga masih dapat ditemukan di areal pasang surut Gampong Lam Pageu: Masjid Krueng. Dalam peta yang dibuat di penghujung abad ke-19 tampak Masjid ini terletak tidak jauh tidak jauh dari sebuah jembatan yang menghubungkan Lampageu dan Lambaroe. Kini, lewat puing-puing yang tersisa dari masa lalunya, kawasan Kuala Panju menyajikan sepotong gambar kehidupan masa lampau yang telah sirna, sambil membawa pesan bahwa: كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ, وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ “Segala sesuatu di bumi itu pasti musnah dan kekallah Zat Tuhanmu Yang Maha Memiliki keagungan dan kemulian.” Ar-Rahman: 26-27. ∎ Aceh Darussalam Academy Facebook Pages: https://www.facebook.com/AcehDarussalamAcademy/ Instagram: https://www.instagram.com/acehdarussalamacademy/ ∎ Lembaga Afiliasi: ☞ Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) https://www.mapesaaceh.com/ https://www.facebook.com/MapesaAceh/ https://www.facebook.com/groups/SAHABAT.MAPESA/ ☞ CISAH (Center for Information of Sumatra-Pasai Heritage) https://www.facebook.com/cisah.aceh/ ☞ PEDIR Museum https://www.facebook.com/Pedirmuseum/ https://www.instagram.com/pedirmuseum_aceh/

Post a Comment

0 Comments