Makam Malik Azh-Zhahir, Putra Sri Maharaja Takhlil Ardhi As-Sur


وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"... dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." Thaha: 114

 Untuk para penjaga memori bangsa:

“Kita tidak mengurung sejarah dalam luas ruang nalar yang kita miliki, tapi menelusurinya sejauh apapun jejak perjalanan yang ditinggalkannya supaya ia (sejarah) dapat lebih meluaskan ruang nalar yang kita miliki.”

Baru-baru ini, Mapesa kembali menemukan jejak perjalanan sejarah Aceh. Sebuah penemuan dalam bulan yang mulia ini.

Batu-batu penanda kubur lama yang berasal dari suatu tempat, setelah dihempas tsunami, terjebak dalam rawa-rawa Lampadang, Gampong Lamteh, Peukan Bada, Aceh Besar.

Bertahun kemudian, pemanfaatan lahan rawa-rawa itu untuk tambak ikan memunculkan batu-batu kubur itu kembali ke permukaan. Akhirnya, ditemukan.

Kronologi penemuan, tonton dan subscrib channel Aceh Darussalam Academy:

Observasi Pertama
Observasi Kedua

Batu-batu kubur itu membawa berita. Satunya, memberitahukan seorang tokoh. Disebutkan bahwa tokoh itu adalah seorang yang mulia, dicintai, berasal dari keturunan terhormat dan terkenal. Ia bergelar Malik Azh-Zhahir (Al-Malik Azh-Zhahir), putra dari seorang yang disebutkan sebagai Sri Maharaja Takhlil Ardhi As-Sur—menurut bacaan terbaik yang mungkin saya hasilkan saat ini. Yang terakhir, terdengar aneh untuk sebuah nama. Sangat mungkin jika Sri Maharaja Takhlil Ardhi As-Sur adalah julukan. Kalimat ‘takhlil ardhi As-sur’ dapat dimaknakan: penguakan tanah benteng/berbenteng, atau penyusupan ke daerah berbenteng.

خلَّل بين الشَّيئين: فرَّج بينهما ووسَّع، جعل بينهما فرجة

Apakah karena keahliannya atau karena sebab lain sehingga julukan itu melekat untuknya? Tidak diketahui.

Disebutkan pula bahwa Sri Maharaja ini adalah putra dari Raja Ibrahim. Raja, dalam Bahasa Arab-nya, adalah Malik. Malik Ibrahim yang termashur dalam sejarah Aceh adalah seorang pemimpin dan pahlawan besar dalam abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi), saudara Sultan ‘Ali Mughayat Syah.

Tokoh bergelar Al-Malik Azh-Zhahir ini, diberitahukan pula, telah wafat pada malam Rabu, 27 Shafar 966 Hijriah (9 Desember 1558 Masehi).

Hakikatnya, tidak saja berita tersebut yang dibawa oleh batu-batu kubur itu. Tidak pula hanya material, bentuk dan kesenian. Lain itu, dan tak kalah istimewanya, mereka membawa sebuah kedekatan, memotong jarak waktu yang berabad lamanya untuk mempertemukan yang dahulu dengan yang kemudian di satu jalan, di mana yang kemudian dapat mendalilkan diri dan misinya kepada yang dahulu.

Oleh: Musafir Zaman.
Dikutip dari group Facebook Mapesa.


Post a Comment

0 Comments