Keberanian Seniman

Situs kompleks makam kesultanan Aceh Darussalam
di gampong Kandang Cut, Darul Imarah
Aceh Besar
Keberanian Seniman

Tidak jarang, keberanian dipahami dan ditunjukkan sebagai sebuah sikap berani melawan, berani menentang dan menantang, berani menghadapi musuh, berani bersengketa, dan lain semacamnya.

Sesuatu yang sering dilupakan, keberanian juga dapat dimengerti dan ditampilkan sebagai sikap berani bersatu, berani menyatukan, berani berdamai, berani memaafkan. Sikap-sikap seperti ini, hakikatnya, juga memerlukan keberanian yang tinggi. Dan, keberanian akan selalu terpuji selama dalam dan demi kebenaran serta kebajikan.

Kaligrafi Arab pada satu sisi batu nisan dalam gambar ini terdapat di satu kompleks makam peninggalan sejarah di Gampong Kandang, Darul Imarah, Aceh Besar. Di sini, seniman menunjukkan keberaniannya! Sebuah keberanian yang dilakukan dalam sunyi, tanpa pekik maupun sorak. Hanya suara pahat yang mengikis permukaan batu. Selebihnya, tidak lain dari perbincangan yang ramai dalam majlis pikiran, rasa serta imajinasi di kedalaman batin.

Di sini, apa yang dilakukan seniman adalah sebuah keberanian untuk menyatukan.

Demi mencapai maksudnya, seniman mesti berani melangkahi hal-hal yang sudah lazim dan makruf. Ia mesti berani berimprovisasi dan berinovasi. Tetapi dalam hal itu, ia tidak berangkat dari nol. Ia adalah orang yang sudah mapan dan mengakar dalam hal-hal yang sudah lazim dan makruf. Keberaniannya, dengan demikian, berhujjah dan berdalil. Ia tidak menimpang jalan, tapi mengembangkan jalan supaya dapat dilintasi oleh sebanyak mungkin makna dalam waktu dan keadaan yang menuntutnya.

Dalam cerita Islam, hal semisal itu sebenarnya adalah tradisi umatnya. Tidak ada hal yang mesti dipadai atau dicukupkan. Tidak ada hal yang harus mengalami stagnasi. Dari suatu pencapaian yang memuaskan menuju kepada pencapaian lain yang juga memuaskan atau lebih memuaskan, dan begitulah selanjutnya. Agama ini adalah sumber utama vitalitas umatnya di sepanjang masa. Agama inilah yang telah mengukuhkan umatnya untuk tetap bergerak dan dinamis. Agama inilah pula yang telah mengilhami seorang ulama besarnya untuk mengatakan hal-hal seperti:

ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبِ

مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبِ

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ

وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ

إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست

والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة ً

لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

والتَّبْرَ كالتُّرْبَ مُلْقَى ً في أَمَاكِنِهِ

والعودُ في أرضه نوعً من الحطب

فإن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ

وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَبِ

Orang cerdas lagi berbudi takkan tenang tinggal di kampung halaman
Maka tinggalkanlah kampung-kampung halaman dan merantaulah

Pergilah, niscaya di sana 'kan kautemukan pengganti mereka yang kautinggalkan
Bekerjalah, bukankah kenikmatan hidup itu pada bekerja dan berusaha

Aku sesungguhnya telah memperhatikan: air itu, apabila tergenang, hal itu akan merusaknya;
Apabila air itu mengalir, ia akan baik; apabila ia tidak mengalir, ia tidak baik

Singa itu, apabila tidak beranjak dari tempatnya, ia takkan pernah menemukan mangsanya
Anak panah itu, apabila ia tidak lepas dari busurnya, ia takkan pernah mengena sasaran

Matahari, apabila tidak pernah berpindah posisinya di angkasa,
Maka semua orang, Arab maupun bukan, pasti bosan kepadanya

Emas yang tidak diambil dari tempat-tempatnya takkan beda nilainya dengan tanah
Batang-batang kemenyan di tempat tumbuhnya takkan lebih nilainya dari kayu bakar

Tapi apabila ini dan itu kemudian telah menjauh dari tempatnya, ia 'kan menjadi sesuatu yang paling dicari
Ia 'kan bernilai tinggi seperti emas

(Bait-bait dari kumpulan sajak [Diwan] Al-Imam Asy-Syafi'i Rahimahu-Llah)

Sepanjang cerita Islam, ummat Muhammad-'Alaihi Afdhalush Shalawati wa Azkat Tahiyyat-telah menunjukkan dan membuktikan kedinamisannya. Bahkan, dalam masa-masa yang dituduh sebagai masa kemunduran dan keterbelakangan, dan dalam karya-karya tulis yang diremehkan sebagai karya-karya yang mewakili masa-masa tersebut, kita dengan mudah dapat menemukan kedinamisan dalam gerak akal, batin dan aksi yang susul-menyusul serta berkesinambungan.

Sebenarnya, hanya dikarenakan sejumlah lapangan kehidupan yang terabaikan dan lepas dari perhatian, ummah ini lantas tergelincir jatuh dari posisinya sebagai ummah pembawa terang dan kabar gembira bagi seluruh manusia. Tapi itu belum sebanding dengan kekalahan dan kejatuhan terbesarnya setelah tengkuknya berhasil dipatahkan untuk menunduk di depan kemodernan yang dipamerkan oleh bangsa-bangsa imperialis. Ummah ini pun akhirnya hanyut dalam pusaran kemordernan yang mematikan kedinamisan [orisinal]nya, dan berubah menjadi pengekor. Perlu waktu yang panjang, kemudian, untuk menyadari bahwa kemilau kemodernan itu ternyata hanyalah umpan untuk mengekalkan bangsa-bangsa yang telah dimiskinkan dan dibodohkan oleh imperialisme tetap berada dalam kemiskinan dan kebodohannya. Label "negara berkembang" (sebuah istilah cantik untuk negara miskin dan terbelakang) kemudian pun disematkan, dan bermakna: untuk selamanya berkembang dan tidak akan pernah mencapai taraf kemajuan.

Kita, sekarang, sedang berada di depan satu, bahkan sekeping karya, di antara karya-karya yang tak terhitung jumlahnya dari para seniman Aceh Darussalam dalam abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi). Abad ke-10 Hijriah adalah abad di mana orang-orang Islam nyaris menduduki jantung Eropa, dan orang-orang Eropa yang mencoba mengusik negeri-negeri Islam di timur sedang ditertawakan; abad yang menyaksikan kedinamisan maha dahsyat dalam perluasan wilayah Islam dan dalam pergulatan demi mempertahankannya.

Pada zaman itu, keberanian untuk menyatukan semisal yang dilakukan oleh seniman dalam karyanya tersebut, dapat dikatakan, sebagai sesuatu yang disanjung dan dikagumi, dan mestilah ada ruang luas yang disediakan untuk kebebasan ekspresi yang bertanggungjawab.

Dalam ruang luas itu, seniman akan mewakili semangat zamannya. Yakni, zaman orang-orang yang tidak takut menghadapi perkara-perkara sulit dan rumit. Zaman orang-orang yang bersedia menanggung apapun beban berat demi membawa bangsa dan ummahnya ke puncak kejayaan. Zaman orang-orang yang tidak cepat berpuas diri dalam melakukan kebaikan dan kebajikan. Zaman di mana semboyan yang dipajang di mana-mana adalah kalimat semisal: ad-dunya mazra'atul akhirah (dunia adalah tempat becocok tanam bagi akhirat). Dan dari itu, mereka tidak pernah berhenti untuk mengembangkan dan meluaskan perhumaan akhirat dalam berbagai lapangan kehidupan.

Itulah semangat zaman yang telah memberikan tempat yang baik bagi berbagai bentuk keberanian untuk tumbuh dan hidup, tidak terkecuali pada para senimannya.

Lewat keberaniannya untuk menyatukan, seniman pemahat karya dalam gambar ini seolah-olah ingin mengatakan:

"Apabila di antara 'kita' memiliki sisi-sisi persamaan dan kemiripan, lantas apa salahnya jika 'kita' bersatu dan saling melengkapi? Sehingga, ruang sesempit apapun akan dapat "kita" tempati bersama dengan penuh keberkahan."

Satu hadiah bersahaja dan simbolis berupa buku "Melintasi Jejak Perjalanan Aceh" telah disiapkan Mapesa untuk menghargai orang yang dapat membunyikan kaligrafi Arab pada batu nisan dalam gambar ini serta mempertanggungjawabkannya.

Mengakhiri baris-baris ini, saya ingin mengatakan: satu, bahkan sekeping karya, yang sedang berada di depan kita sekarang, dan sebuah kaligrafi yang hanya menggambarkan dua kata saja, semoga dapat mengantarkan kita kepada keinsafan untuk berupaya menemukan cerita Aceh, begitu pula cerita Islam, yang sesungguhnya, di sudut bumi yang kita tinggali ini.

Atau dengan ungkapan lain:

Pada saat kita sudah terlampau banyak menumpahruahkan kata-kata tentang Aceh dan kebudayaannya, mengulang-ulang apa yang telah pernah dikatakan orang sambil di sana-sini menambahkah fantasi-fantasi kita, barangkali ada baiknya, sesekali kita memejamkan mata, menulis sebuah pertanyaan di ruang gelap benak: benarkah Aceh sebagaimana digambarkan busa-busa kata yang bercipratan dari mulut kita?!

Oleh: Musafir Zaman
Dikutip dari group Facebook Mapesa

Post a Comment

0 Comments