Visi

Visi

"Suatu hari kelak, dan pada akhirnya, mereka pasti mengenali. Sekalipun dalam keadaan mata terikat, telinga tersumbat, mereka tentu masih dapat mengenali di wilayah mana dari negeri ini mereka sedang berada. Kulit mereka bisa merasakannya. Hidung mereka dapat mencium aroma. Apakah itu ketika mereka sedang di pesisir timur, atau di pesisir utara melalui wilayah Pasai, Peusangan, Bireuen, Pidie, sampai ke barat laut dan sepanjang pantai barat-selatan, ataupun ketika sedang di dataran tinggi dalam berbagai tingkat ketinggian di atas permukaan laut. Sedangkan ketika mereka berada di lembah Aceh - negeri yang masih diwangikan oleh gagasan-gagasan besar serta darah kepahlawanan - mereka pasti mengenalnya seperti mereka mengenal ayah-bunda sendiri. Di lembah Aceh, mereka diberkahi panas matahari yang dahulunya telah menempah waja untuk menjadi hati bagi para patriotnya. Panas matahari itu pula yang telah menyalakan api ketangguhan tak terpadamkan untuk menjadi semangat para mujahidnya. Dalam rongga lembah Aceh, mereka disentuh dan diterpa hembusan angin dari tiga bentang lautan luas. Angin itulah yang dulu kala melahirkan bahtera-bahtera bagi para penjelajah dan pengarung samudera, serta bagi para raja. Di bentang lembah itu pula, mereka dibahagiakan oleh sebuah pertemuan manis dengan sebatang sungai yang mengalir dari hulunya bagai kata-kata indah dari sebuah sajak yang berakar di batin; sajak yang mengisahkan epos-epos keberanian, kegigihan serta ketangguhan. Krueng Aceh, setelah ia menghimpun berbagai batang air di hulunya, Krueng Buga (Seulimum), Krueng Inong, Krueng Keumireu dan Krueng Jreu, ia lalu tiba di muaranya bagai kabar yang datang dari seorang yang telah lama dirindukan. Dahulu, percakapan tentang lada, lantas, terdengar di mana-mana. Raut muka orang-orang di dermaga menjadi berseri saat mendengar kabar lada memulai berbunga, dan ketika musim petik tiba, wajah-wajah tak pernah lepas senyum dan tawa. Ke sejuk tanah di kedua tepi Kreung Aceh, para pahlawan pulang dari mana saja medan perang. Di pangkuannya pula, generasi demi generasi lahir, tumbuh dan dibesarkan. Dalam pelukannyalah, kemudian, tersimpan segala kenangan dan pengalaman. Suatu hari kelak, dan pada akhirnya, "Krueng Aceh", adalah sebuah sebutan yang mereka ucapkan dengan segala penghormatan. Dan tentang hujan di lembah Aceh, maka mereka akan melukiskannya seindah wajah anak-anak yang sedang bermain di lumpur sawah. Mereka akan selalu mengingat lubang-lubang kecil di bawah ujung atap daun rumbia yang berbaris di bagian depan dan belakang rumah Aceh. Hujan telah memberikan itu semua bersama kesejukan dan titik-titik air yang masih melekat di kembang "seurune" (marigold flowers; tagetes). Mereka akan dapat merasakan getar dari suara guruh dalam lembah, dan mengenang selimut hijau nan sejuk yang menutupi badan pegunungan yang kekar. Suatu hari kelak, dan pada akhirnya, mereka akan mengenyam cinta yang akan memburu dan menuntut mereka untuk melakukan pengabdian; cinta yang telah menjadi jalan hidup, dan hanya dapat difinalkan oleh kematian, sebagaimana dijalani para penduhulu. Cinta telah menjadi sebuah alasan kuat untuk..."
"Sebentar, Tuan," sela seorang rekan muda yang dari tadi sabar menyimak. "Saya belum mengerti. Siapa sesungguhnya "mereka" yang Tuan maksud?"
"Sepertinya Tuan sedang membicarakan sekelompok orang di masa depan," sambung seorang rekan muda lain, "tapi, maaf, kami tidak dapat membayangkan tentang orang-orang yang Tuan maksud itu, bahkan, maaf, cerita panjang Tuan tadi sepertinya juga hanya Tuan sendiri yang mengerti. Mohon maaf sekali lagi, Tuan!"
"Ya, tidak mengapa," jawab pencerita yang mulai menginjak usia senjanya itu sambil menunduk. "Saya menghormati keterusterangan Tuan-tuan yang masih muda-muda, malah menyukai itu. Dan apa yang baru saja Tuan katakan itu memang benar. Saya memang sedang bercerita tentang sekelompok orang di masa depan, sebab saya memang tidak suka cerita nostalgia. Apalagi, nostalgia pribadi. Itu akan membuat saya terasa seperti sudah mati!"
"Kenyataan-kenyataan dan pengalaman-pengalaman di masa lalu yang diceritakan, sesungguhnya, adalah untuk masa depan," tambahnya lagi seperti sedang menjawab pertanyaan yang tiba-tiba beredar dalam kepalanya.
"Kesadaran yang mendalam terhadap negeri ini, serta berbagai kenyataan yang pernah berlaku di negeri ini, akan mengantarkan kita kepada kesadaran terhadap apa yang semestinya dilakukan pada hari ini dan masa depan. Siapakah kita dan apa yang mesti kita lakukan, jawabannya akan melahirkan perbedaan besar pada kenyataan yang kita hidupi. Menjadi anggota keluarga dari sebuah rumah, makan dan mendapatkan uang atau kekayaan sebagai imbalan dari berbagai kerja yang disuruh-suruh, itu namanya babu! Tapi menjadi anggota penentu bagi keberlangsungan dan prestise rumah tersebut, itu adalah raja atau putra raja, walaupun bekerja tak ubahnya babu! Orientasi berpikir yang berbeda dari dua golongan yang berbeda. Dari golongan manakah kita, bukan kita yang menjawab, tapi kenyataan hidup yang menunjukkannya bersama bukti-bukti yang tidak dapat diingkari. Selusin pangkaian kebesaran yang kita kenakan secara sekaligus pun, apabila keberadaan kita tidak menentukan, maka kita tetap saja "anak bawang"..."
"Tuan! Mohon diperbanyak maaf," rekan muda tadi kembali menyela, "sepertinya, yang masih membingungkan kami, dan yang kami tanyakan tadi ialah tentang siapa yang Tuan maksud dengan "mereka"!"
"Ya, ya.. maafkan saya," jawab pencerita itu seperti baru saja tersadar dari alam pikirnya.
"Untuk Tuan-tuan mengetahui siapa yang saya maksud, silahkanlah Tuan-tuan mengunjungi facebook grup Mapesa. Mereka yang tadi saya ceritakan itu adalah orang-orang yang dalam gambar dan video singkat ini," jelas pencerita sambil menunjukkan gambar-gambar dan video yang dimaksud.
"Mereka, sesungguhnya, sedang menikmati hujan di halaman sejarah Aceh!" tutupnya kemudian.


Oleh Musafir Zaman
Dikutip dari group Mapesa

Posting Komentar

0 Komentar