πππ¬π£π’π πππ²π ππ’ ππ¨πππ-ππππ£π
(π·πππππ πππ‘π πππ π πππ’πβ π·πππβ)
oleh J. KREEMER,
ππ³π΄πͺπ±π’π³πͺπ΄ π₯π’π³πͺ ππ―π΄π΅πͺπ΅πΆπ΅ ππ€π¦π©.
Pada tanggal 24 Januari 1874, ibu kota Aceh, yang merupakan tujuan utama dari ekspedisi Aceh kedua, jatuh ke tangan kami. Bendera triwarna tanah air (Belanda) dikibarkan di pohon tertinggi di kediaman Sultan (yang saat itu secara keliru kami sebut sebagai kraton), sehingga bendera tersebut terlihat dari pelabuhan Ulee Lheue. Dan sementara musik trompet memainkan lagu-lagu kebangsaan, bendera tersebut disambut oleh seluruh armada perang dengan hormat Kerajaan; semua kapal mengibarkan warna merah, putih, dan biru di tiang tertingginya.
Karena kediaman penguasa tersebut secara umum dikenal oleh penduduk Aceh dengan nama Kutaraja (artinya: benteng kerajaan), Panglima Tertinggi Jenderal J. van Swieten memutuskan untuk tetap menggunakan nama tersebut bagi pemukiman baru kami, dan Pemerintah Hindia (Belanda) memberikan persetujuannya melalui Keputusan (Bt.) tanggal 19 Maret 1874 No. 1. Melalui perintah harian, sang jenderal menyampaikan kepada para perwira dan bawahan: "Kraton telah menjadi milik kita, dan rakyat Aceh yang bangga telah dipaksa menyerah di hadapan keberanian dan keahlian militer Anda sekalian. Penaklukan misigit (masjid) tersebut adalah sebuah mahakarya, yang memberi kehormatan bagi Anda semua dan komandan brigade Anda, dan seterusnya.
Masjid ini, satu dari tiga masjid utama di Aceh ²) (Meuseugit Raja), telah memiliki sejarah yang panjang dan penuh gejolak. Masjid tersebut bukanlah yang pertama dan juga bukan yang terakhir di tempat ini. Yang pertama konon dibangun oleh Sultan Aceh yang paling berkuasa: Iskandar Muda (1607–1636), yang dalam tradisi pribumi lebih dikenal dengan nama dari Marhoem Meukoeta Alam.
Masjid tersebut menyandang nama Beit ar-rahmΔn, "Kediaman Sang Maha Penyayang", dan menurut kronik lokal, pada masa pemerintahan Sultanah Aceh kedua: Noer al-Δlam (1675—1678), masjid tersebut hancur akibat kebakaran besar bersama dengan istana Sultan serta banyak perhiasan dan harta kerajaan.
Bahwa itu bukanlah tempat ibadah terakhir di lokasi ini terbukti dari hal berikut, sebagaimana masih diingat oleh beberapa orang tua di Aceh, bahwa pada masa kejayaan kegiatan Habib Abdoerrahman di Aceh — yaitu sebelum dan selama masa pemerintahan Jenderal K. van der Heijden — uang dikumpulkan olehnya di mana-mana untuk membangun sebuah masjid utama yang baru di pusat kota, karena bangunan yang lama sudah tidak layak lagi.
Ia membangunnya tidak mengikuti gaya arsitektur biasa rumah ibadah Aceh yang memiliki atap tumpang, yang terdiri dari dua tingkat (lapih atau teurataq) dan bagian puncak yang meruncing (poetjaq), melainkan sedikit mengikuti model masjid paling suci dalam Islam, yaitu yang ada di Mekkah dengan ruang terbuka di tengahnya. Masjid inilah yang, saat pecahnya Perang Aceh, diubah menjadi tempat pertahanan yang diperkuat, yang mana pasukan kami pada tanggal 10 April 1873 pertama kali merasakannya melalui tembakan senapan yang hebat, yang dilepaskan dari balik dinding-dindingnya ke arah barisan depan kolom pasukan, yang pada ekspedisi pertama melawan Aceh hari itu sedang merangsek maju menuju "Kraton".
Akibat perlawanan sengit dari musuh dan kondisi di mana tembok tinggi yang mengelilingi masjid tersebut membuat penyerbuan tidak memungkinkan lagi, tidak ada cara lain untuk mengusir musuh selain dengan membakar bangunan tersebut, di mana beberapa tembakan suar ke arah atap rumbia yang mudah terbakar sudah cukup untuk melakukannya.
Masjid yang terbakar itu pun jatuh ke tangan kami, namun pada hari yang sama masjid tersebut ditinggalkan kembali karena dianggap tidak bijaksana untuk membiarkan pasukan kami yang kelelahan tetap menduduki posisi yang berbahaya tersebut. Namun, ketika terbukti tidak mungkin menaklukkan Kraton (Istana) yang terletak di dekatnya tanpa menguasai masjid, empat hari kemudian masjid tersebut direbut kembali oleh pasukan kami, meskipun dengan kesulitan dan pengorbanan yang lebih besar daripada yang pertama kali.
Pada hari yang sama, Mayor Jenderal J.H.R. KΓΆhler yang sudah beruban, panglima tertinggi ekspedisi tersebut, datang ke benteng yang telah ditaklukkan untuk meninjau keadaan. Di sana ia terluka parah dan tak lama kemudian meninggal dunia. Kematiannya menandai dimulainya kesengsaraan ekspedisi pertama, yang pada tanggal 17 April memaksa pasukan kami mengevakuasi meuseugit (masjid) itu lagi.
Pada tanggal 6 Januari tahun berikutnya (1874), dalam Ekspedisi Aceh Kedua di bawah komando Letnan Jenderal J. van Swieten, masjid tersebut—yang sementara itu telah diperkuat oleh musuh dan dikelilingi oleh beberapa pertahanan luar yang kokoh—kembali direbut oleh pasukan kami. Namun, terdapat kerugian besar di pihak kami: 14 prajurit tewas, serta 11 perwira dan 197 prajurit luka-luka. Karena penaklukan Kraton dan pemukiman kami di sana segera menyusul, masjid tersebut sejak saat itu tetap berada dalam kekuasaan kami.
Jenderal van Swieten, sebelum kepulangannya ke Jawa, ingin memberikan bukti kepada rakyat Aceh bahwa agama mereka sepenuhnya dihormati oleh otoritas Belanda dan dengan demikian ingin berkontribusi pada rekonsiliasi dengan pihak yang tetap memusuhi, menulis sebuah surat pada tanggal 8 Februari 1874 kepada beberapa kepala suku (tokoh) yang paling berpengaruh, di mana ia berjanji:
'Bahwa masjid besar tersebut akan dibangun kembali dan dijadikan tempat belas kasih yang sejati, ketika tidak ada lagi kematian dan kehancuran, melainkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan amal kasih yang akan terpancar darinya.'
Ketika pada tahun 1877 Gubernur Jenderal Mr. J.W. van Lansberge mengunjungi Aceh Besar, ia mengulangi janji yang sebelumnya dibuat oleh Van Swieten dalam sebuah pidato kepada para tokoh dengan kata-kata sebagai berikut:
'Saya ingin memberikan Anda sebuah kenang-kenangan pribadi dari kunjungan saya ke sini, namun lebih dari itu, adalah keinginan saya agar sebagai kenangan abadi dari kunjungan tersebut, janji yang dahulu diberikan kepada Anda akan ditepati, yaitu untuk membangun kembali masjid besar tersebut setelah penaklukan Aceh.'
Rancangan asli dari Meuseugit Raja (Masjid Raya) yang baru dibuat oleh arsitek Bruins dari Departemen Pekerjaan Umum Sipil, dengan berkonsultasi kepada Hoofdpanghoeloe (Penghulu Kepala) Garut (di Karesidenan Priangan), yang memberikan penjelasan yang diperlukan mengenai persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh bangunan tersebut, dengan mempertimbangkan aturan dan konsep agama Islam.
Pengawas dari departemen yang sama, L.P. Luyks, kemudian dikirim ke Aceh untuk mengumpulkan data lebih lanjut dan mengambil langkah-langkah persiapan yang diperlukan untuk pembangunan tersebut. Arsitek berjasa ini, yang di bawah pimpinan langsungnya proyek bangunan yang sulit tersebut kemudian dilaksanakan sepenuhnya, setelah kembali ke Batavia, mengubah rancangan asli di kantor pusat departemennya dengan bantuan beberapa insinyur menjadi rancangan yang akhirnya digunakan dalam pembangunan.
Pelaksanaan pekerjaan tersebut jauh dari kata sederhana. Awalnya orang-orang berharap untuk mempekerjakan buruh Aceh, setelah banyak upaya yang gagal, akhirnya diputuskan untuk meninggalkan gagasan tersebut dan sebagai gantinya mempekerjakan tenaga kerja Tionghoa.
Dalam suratnya tertanggal 19 Februari 1879 No. 314, yang saya temukan di arsip daerah Koeta-Radja, Jenderal Van der Heijden menulis kepada Pemerintah Hindia Belanda sebagai berikut:
'Orang Aceh menunjukkan kurangnya minat dalam urusan keagamaan saat pembangunan Masjid Raya sedang berlangsung. Baik para pemuka (Ulee Balang) maupun rakyat biasa tidak menunjukkan semangat untuk itu.
Dengan susah payah akhirnya mereka setuju untuk menggali parit fondasi di bawah sistem kerja paksa (heerendienst), namun mereka hanya mengerjakan 1/3 atau 1/4 dari kedalaman dan lebar yang seharusnya.
Beberapa waktu lalu, ketika muncul keraguan mengenai arah kiblat (frontlijn) Masjid yang tepat, para pemuka dan pemuka agama dipanggil untuk datang ke lokasi guna meninjau masalah tersebut bersama Perwira Teknik Senior dan bawahannya, serta Asisten Residen Kotta Radja.
Setelah keputusan diambil, para pemuka dan ulama tersebut dengan tenang duduk di bawah atap pasar terdekat, membiarkan para perwira dan Asisten Residen bekerja sendirian di bawah terik matahari untuk memasang patok-patok arah yang benar. Seolah-olah hal itu bukan urusan mereka.
Ketika baru-baru ini upah harian secara umum diturunkan menjadi satu gulden per hari kerja biasa, seketika itu juga seluruh orang Aceh meninggalkan proyek Masjid. Baru dalam beberapa hari terakhir ini ada beberapa yang kembali bekerja, setelah orang-orang Tionghoa sudah lebih dulu mendaftarkan diri kembali.'
Setelah (rencana) dibuat, diadakanlah sebuah pelelangan di Batavia. Karena ketidaktahuan akan lokasi pembangunan dan kemungkinan adanya rasa takut akan kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan yang unik ini, tidak satu pun dari sedikit kontraktor di Jawa yang ikut bersaing. Hanya ada satu pendaftar, yaitu Lie A Sie, seorang Letnan Tionghoa di Aceh, yang akhirnya memenangkan proyek tersebut dengan nilai 203.000 gulden.
Pada tanggal 9 Oktober 1879, dilakukan peletakan batu pertama dengan upacara besar oleh Teungkoe Kali Malikoen AdΓ©, dengan dihadiri oleh Jenderal Van der Heijden, otoritas sipil dan militer, sejumlah besar kepala suku dan tokoh terkemuka, serta ribuan rakyat Aceh. Sang Jenderal menyampaikan pidato perayaan sebagai berikut:
ππππ π πππ, π»π’ππ’ππππππ, πΌπππ, πΎππ‘π’π, πππππ, πΎππ’πβππ, πππππ, πππ π πππ’ππ’β ππππ¦ππ‘ π΄ππβ πππ πππ‘π πππππβ ππππβππππ¦π!
πππ¦π πππππ’ππππππ π ππππππ‘ πππ‘πππ ππππππ π΄πππ π πππππππ π¦πππ πππππ’πππ’π ππ π πππ. πππ‘ππ ππππ πππππ π¦πππ πππππππππ ππππππ π΄πππ πππβ ππππ€ππππππ ππππππππ‘πβ π»πππππ π΅ππππππ—π ππππππππππ π¦πππ π΄πππ πππππ‘—π’ππ‘π’π ππππππππ’π πππππππ πππ πππ π ππ¦π π΄πππ, ππππ πππ‘π πππππ’πππ’π ππ π πππ π’ππ‘π’π πππππ¦ππππ πππππ‘ππππ πππ‘π’ ππππ‘πππππ¦π.
π·ππππ ππππππ’βππ πππππ πππ, π΄πππ πππππππ ππππβππ‘ ππ’ππ‘π ππ¦ππ‘π πππ ππππ’ ππ‘ππ ππππ‘ ππππ ππππ πππππ ππππβπππππ‘π πππππ π΄πππ.
ππππππ πππππππππ π‘πππππ‘ π π’ππ πππ ππ’ππ πππππππ π‘ππππ ππππππππππ πππ πππππ ππππ πππππππππ‘ππ¦π ππππππ’ππ πππ πππππππ’πππ π΄ππβ; ππππ ππ πππ π πππππ, ππππ ππ’ππ’ π΄πππ πππππ‘ πππππππππ‘π πππππ πππ π ππππππ ππ€ππ ππππ πππ πππ‘πππππππ πππ πππ‘πππ‘ππππ π¦πππ ππππππππππ’π‘ππ, π πππ‘π πππππππ’πππ πππ πππππ¦πππ π¦πππ π‘ππ π‘ππβπππππ.
π·πππππ ππππ‘πππππππ ππππ ππβπ πΎπ’ππ π, π΄πππ π πππ’π π‘π’ππ’π‘ πππππππ π πππ πππππ βππ πππ, ππππππ ππππππππππ ππππ π πππ’ππ’β ππππ’ππ‘ππ π΄πππ ππππ ππππ¦π-ππππ¦π ππππππππππ. πππ¦π ππππππ‘π π΄πππ π’ππ‘π’π ππππ¦ππππππππ πππ‘π-πππ‘π π ππ¦π πππ ππ π πππ’ππ’β πππππ’ππ’ π΄ππβ, π ππππ¦π π ππ¦π ππππ’π‘π’πππ¦π ππππππ ππππβππ π΅πππππ‘ π‘ππππππ ππππ ππ’βππ ππππ ππππ¦ππππ ππππ πππππππππ πππ.
Setelah pidato ini, Teungku Kali, atas nama masyarakat Aceh, menyampaikan terima kasih atas kemurahan hati yang ditunjukkan oleh Pemerintah, dan setelah itu, dengan iringan tembakan penghormatan tiga belas meriam, dilakukanlah peletakan batu pertama bangunan tersebut. Kemudian, diadakan jamuan makan pesta yang dihadiri oleh seluruh penduduk yang ada dipelihara atas biaya pemerintah.
Telah diingatkan sebelumnya, bahwa di negeri itu sendiri tidak tersedia cukup tenaga kerja yang terampil, begitu pula dengan bahan bangunan yang hampir tidak menghasilkan apa-apa. Kapur didatangkan dari Pinang, batu bata dari Belanda; marmer untuk lantai dan tangga dipesan dari China, besi tuang untuk jendela dari Belgia, tiang-tiang besi yang berat dari Surabaya, kayu dari Moulmein, dan sebagainya.
Pada tahun 1881, Meusigit-Raja (Masjid Raya) yang baru telah selesai, bagaikan Burung Phoenix yang bangkit dari abunya dalam wujud yang sepenuhnya berbeda. Jika sebelumnya tidak lebih dari sebuah gubuk sederhana, kini gedung itu berdiri di sana, menyerupai sebuah katedral.
Ulama Pidie yang sudah sangat tua dan berpengaruh, Teungkoe Tjeh Marahaban, yang baru saja mengucapkan sumpah setia kepada Pemerintah, terpilih menjadi semacam direktur masjid. Personel masjid yang telah bertugas di rumah ibadah lama sebelum pecahnya perang, kini kembali menjalankan fungsi lama mereka.
Ditetapkan pula bahwa personel ini akan menerima gaji bulanan dari Pemerintah, namun gaji tersebut akan dihentikan jika pemegang jabatan tersebut meninggal dunia. Untuk tujuan itu, dialokasikan dana sebesar Ζ 195 per bulan, yaitu: Ζ 75 untuk imeum (pemimpin), Ζ 50 untuk khatib (pembaca khotbah Jumat), dan masing-masing Ζ 35 untuk kedua bileuΓ« (pengumandang adzan) yang ada saat itu.
Pada saat penyerahan resmi rumah ibadah tersebut pada tanggal 27 Desember, seluruh kalangan Eropa dan sekelompok besar masyarakat pribumi berkumpul.
Gubernur A. Pruys van der Hoeven, yang telah menggantikan Jenderal Van der Heijden dalam pemerintahan, menyerahkan kunci-kunci kepada Teungkoe Kali Malikoen AdΓ© dengan pidato sebagai berikut:
'πΈππππ‘ π‘πβπ’π π¦πππ ππππ’, ππππππ’π ππππππ‘πππππ ππππ ππ’πππ πΊπ’πππππ’π π½πππππππ π»πππππ π΅ππππππ, π‘πππβ πππππππππ πππππ π‘πππ ππππππ ππππ ππππππππ π΄ππβ ππβπ€π ππππ’πππππ πππππππππ ππππππππ‘πβ ππππ ππππππππππ ππππβπππππ πππππππ π¦πππ π‘πππ‘ππ πππ πππππ’π.
π·π πππ€πβ ππππππππ’ππππ ππ‘ππππ‘ππ π΅ππππππ, ππππ¦ππ‘ π΄ππβ—π¦πππ ππππππππ πππβ ππππ ππππππππ¦π π ππππππ ππππ’ππ’π‘ ππππ‘ ππ π‘πππππ‘ πππ πππππππππ¦π—πππππ‘ πππππππππ ππππππ ππππππ π‘ππππ ππππππ’ππ, πππππππ’π‘πππ π’π πβπ ππππππ, πππππππππ, πππ πππππππππππ πππππ π¦πππ ππππππ πππ’π‘.
'ππππ πππππ π‘πππ πππ πππ‘ππππβπππ πππππ ππβπ€π ππ π΄ππβ π΅ππ ππ, ππ‘ππ ππππ¦π ππππππππ‘πβ π»πππππ π΅ππππππ, ππππ πππππππ’π π πππ’πβ πππ πππ π ππ¦π π¦πππ ππππ’. πππ ππππ ππππ’ππππ, ππ βππππππ ππππ¦ππ ππππππππ πππ πβππππ¦ππ πππππ, ππ’πππππ’π π€ππππ¦πβ πππ π πππ‘ ππ‘π’, πΏππ‘πππ π½πππππππ πππ πππ π»ππππππ, πππππ‘πππππ πππ‘π’ ππππ‘πππ π’ππ‘π’π π‘πππππ‘ πππππβ π‘πππ πππ’π‘ πππ ππππππππ’πππ ππ’π ππππ’πππ.'
'ππππππ π‘πππβ ππβπππ‘ππππ, πππ ππππ π ππ πππππ ππππππ πππ‘ππππ ππππ π πππ’ππππ¦π πππβ ππππππ‘ππ ππππππ π΅ππππππ, ππ‘π’ π ππππ‘π-πππ‘π π’ππ‘π’π πππππ’π ππ ππππππππ, ππππβπ’ππ’π ππππβππ‘ππ, πππ πππππππ’πππ πππππ’ππ’π π¦πππ π‘πππβ πππππ‘ππ ππ πππππ’ππ-πππππ’ππ πππ πππππππππ πππππππ ππππππ ππππππ.
ππππππππ‘πβππ πππ‘ππ‘π ππππππ πππ ππ π¦πππ π πππ π πππππ‘π ππ π€ππππ¦πβ ππππ ππ ππππ πππ‘πππ‘ππππ πππ ππ‘π’πππ πππππππ’, πππ πππππ ππππππ‘π’πππ π‘πππ πππ’π‘ π‘πππβ ππππππ’πππ ππππ π’ππ‘ππ π ππππππ ππππ ππππππππ πππ π’ππππ π΄ππβ ππβπ€π π‘ππππ ππππ πππ πππππππππππ π‘ππβππππ ππππ‘ ππ π‘πππππ‘ ππππππ πππ πππππππ-πππππππ πππππππππ.
πππ πππ π ππ¦π π‘πππβ π ππππ ππ πππππππ’π. πππ πππ ππ‘π’ πππππππ ππ π πππ π ππππππ π‘ππππ ππβπ€π π΅ππππππ ππππ’ππ‘ππ πππ πππ π¦πππ ππππππππππππ¦π πππ πππππππ‘π πππ π¦πππ ππππππππππππ¦π.
π·ππ π πππππππ, ππππ ππππππππ πππ π’ππππ π΄ππβ, π΄πππ π πππ’π ππππ¦ππ‘ π΄ππβ π¦πππ πππππππ π πππ π ππ π πππ, ππβπ€π ππππππ’π π ππ¦π, ππ’πππ-ππ’πππ ππ’ππβ πππππβ πππ πππ πππβπππ ππππππ ππππππ π’ππππ π΄ππβ, πΎππππ ππππππππ π΄πππ; π‘πππππππβ βππππβ ππππ ππππππππ‘πβ πππ.
ππππππ πππ π΄πππ ππππππ π ππππππ πππππππ ππ‘ππ ππππ‘ ππππ ππππππππ‘πβ, πππ πππ‘πππ π΄πππ ππππππ ππ ππππ’ππ π¦πππ πππππππ π‘πππππ‘ π π’ππ π΄πππ πππ, π πππ‘ π΄πππ ππππππππ‘πππ πππ ππ πΏπππππ‘ πππ ππππβππ πππππβ ππππ ππππ ππβπ πΎπ’ππ π, πππππ‘ππβ ππβπ€π π΅ππππππ ππ’πππππβ ππ’π π’β π΄πππ, πππππππππ π‘ππππ ππππππππππππ πππ ππ’π π πππππ ππππππ’πππ πππππππ’πππ πππ πππ πππβπ‘πππππ π΄πππ.
πΌππππ‘ππβ ππ’ππ, ππβπ€π π΄πππ ππ’π π‘πππβ ππππππππππ πππππ ππππππ ππππππππ‘πβ π΅ππππππ, πππ ππβπ€π ππππ π ππππππ ππ’π πππ, π‘ππππ ππ’ππππ ππππ π ππππππ πΎπππ π‘ππ, πππππβ πππ€ππππππ π¦πππ πππππ‘ π’ππ‘π’π πππππππ‘π πππππ π¦πππ π‘πππβ πππππππππ."
π·πππππ πππ, π πππππβ πππππ πππ ππ πππ πππ ππππβ π΄ππβ π‘πππβ πππ ππππππππ. ππππππππ, ππππ πππ‘π ππβππ‘ πππππ’πππ π‘πππ πππ’π‘ ππππβ πππππ‘ ππππππ’π πππ‘π-πππ‘π π¦πππ πππππππππ’ππ π ππ π πππ.
πππ πππ πππ πππππππ ππ ππ’π ππ‘ πππ‘π πΎπππ‘π π ππππ (π΅ππππ π΄ππβ) ππ π ππππππ πππ ππ ππ π½ππππ πΎπ̈βπππ (πΎπ̈βππππ€ππ), π¦πππ‘π’ π πππβ π ππ‘π’ ππππ πππππ‘ π ππ π π¦πππ πππ πππ’π‘ πππππ π½π’πππππ (π½π’πππππ-ππππ). π·π π πππ, ππ πππππ πππππ‘ππππ πππ πππ, π‘πππππππ‘ π πππ’πβ ππππππ’ π πππ ππππ ππππππ ππ’ππ’πππ ππππππ, π¦πππ πππππππ‘π’ππππ π‘πβπ’π ππππππππ‘ππ 1873—1913. π·π πππππ‘ π πππ ππ’ππ π‘πππππππ‘ ππβππ ππππ πππππβ (π¦πππ πππ πππ’π‘ ππβππ πππ’πππππ, ππ‘ππππ’πππ ππππ‘πππ, πΏ.), π‘πππππ‘ ππ ππππ [πΊπ]πππππ πΎπ̈βπππ π‘ππππππ π‘πππβ πππππ (ππππ’ππ’) π¦πππ πππππ‘ππππ.
ππππ’πβ πππππ πππ π ππππππππππππ πππππ‘ππππ πππ πππ π¦πππ ππ’ππ , π¦πππ πππππππ’π ππππππ πππ¦π π΅ππ§πππ‘ππ’π πππππ ππππ‘π’π π ππππ ππ’ππππ π¦πππ ππππ πππ πππ π πππ π ππ π (ππβππ‘ ππππβ), π πππ’ππ’βππ¦π πππππππππ ππππ πππ‘π’ πππ‘π πΈππππ πππ πππ¦π’ πππ‘π. π·π π ππ π ππππ’π π‘πππππππ‘ πππ ππ πππππ π ππππππ π¦πππ ππβπππ ππππππ πππ¦π πππππ ππππ‘π’π ππ‘ππ ππππππ ππππ‘ππππππ‘ (π‘ππππππ£ππ) πππ¦π π΅ππππππ πΎπ’ππ, π¦πππ ππ ππππππ π‘ππππβππ¦π π‘πππππ πππ π πππ’πβ πππ, ππ ππππ πππππ πππππ¦π πππ‘π’πππ’ππππ ππππππ πππππ π΄πππ.
π·π ππππππ πππ€πβ π ππππππππ π‘πππππ π‘πππππππ‘ π πππ’πππ π¦πππ πππππ π πππ, π‘πππππ‘ πππππ-πππππ πππππππ πππππππ πβπππ ππππ ππππππ π¦πππ πππ‘ππ ππ ππππππππππ, π πππππ’π ππ πππππ π’ππ π‘πππππ‘ π π’ππ π‘πππ πππ’π‘. π½πππ π ππ ππππππ πππππππ π πππ’ππ’β ππππ π‘πππππ ππππππ, ππππ ππ ππππ π πππππ ππ π ππππππ πππππ π¦πππ π‘πππππ πππ π‘ππππ’ππ ππ π‘πππ π ππ π, π¦πππ πππππ πβπππ ππππ ππ’πππ π’π‘πππ (ππ’πππ π βππππ‘) πππ πππ πππβ π πππ’πβ πππππ πππ¦π’. πππππ πππ βπππ¦π ππππ’ππ ππππ βπππ π½π’πππ‘ π’ππ‘π’π πππππβ πππ ππππππ π’ππππ π’ππ‘π’π πππππππβ ππππππ ππππππ‘πππ ππ’πππππ ππ πππππππ¦π. πΏπππ‘ππ π¦πππ π πππ’ππ’βππ¦π π‘ππππ’ππ‘ ππππ ππππππ ππ’π‘πβ π πππππ‘ππβ ππππβ.
πΏπππππ’ππππ-ππππππ’ππππ π¦πππ π‘ππππβππ‘ ππππ πππ ππ πππππ ππππ‘π’πππ’ ππππ π‘ππππ-π‘ππππ πππ π π¦πππ πππππ‘, π πππππ‘πππ ππππππ π‘ππππβ ππππ’ππ ππ’ππ πππππ πβπππ ππππ πππππ‘ πππππ’πππ π‘ππππβππ πππβ ππππππ’ππππ πππ π‘ππππ π πππ’ππ.
π·π ππ‘ππ ππ’πππ π‘ππππβ π¦πππ πππππππ‘π’π π πππ ππππ, ππππππππ’ππ π πππ’πβ ππ’ππβ π’π‘πππ π¦πππ ππππβ, π¦πππ πππ‘π’π‘π’ππ ππππππ πππππ πππ¦π’ πππππ (π¦πππ ππ π»πππππ πππππππ π ππππππ π πππππππ) πππ ππππππππππ ππππππ ππ’ππππ π‘ππππππ πππ ππ, ππ ππππ π‘πππππ πππ ππ’π ππππ πππ ππ‘. π΅πππ π¦πππ π‘πππππ ππ πππππππ π πππππ, π ππππππππ π¦πππ ππππβ πππππ, π πππππ‘π βππππ¦π ππ’ππππ πππ ππππ ππ¦π, πππππππ π ππππ . π΄π‘ππ ππππ πππππ’πππ π‘ππππβππ πππ‘π’π‘π’ππ ππππππ ππππ‘πππ ππππβ.
π·π ππ‘ππ ππππππ π‘ππππβ, πππππππ’π π πππ’πβ ππππ‘ππ ππππππ ππππππ π ππ‘πππππ ππππ-ππππ 10 πππ‘ππ π¦πππ ππππππππππππ ππππππ ππ’ππ, ππ ππππ π ππππππ πππππ’π̈ (πππππ) πππππ’ππππππππππ π πππ’ππ (ππππ/ππ§ππ) π’ππ‘π’π πππππβ πππ‘π’ππ ππππππ π π’πππ ππππ‘πππ. ¹) ππππ π€πππ‘π’ ππππ ππ’π‘π πππ π πππ βπππ, πππππ πππππ‘ ππππππππ‘π πππππππππππ π¦πππ π πππππ‘ ππππβ ππ ππ‘ππ πππππβ π΄ππβ π΅ππ ππ (πΊππππ‘-π΄π‘ππ̀β) ππππ ππππππ π¦πππ πππππππππ πππ, π¦πππ πππππ‘ πππππππ ππππππ πππππππ π‘πππππ.
ππππ‘ ππππβππ‘ ππππ‘πππ ππππ π¦πππ πππππ πππ, πππππ π πππππ π‘ππππ π ππππππ π‘πππππππ‘ πππππππ ππππ πππ π πππ‘πππ π€ππππ¦πβ πππ πππππππ πππππ ππππ‘ππππ’πππ π πππππ‘, π πππ‘ ππππ¦ππ ππππ ππβπππ€ππ ππππππ ππππ ππ’ππ’π ππππ ππβπππππ‘ππ πππππππ π΅ππππππ, ππππ’π ππ ππππ ππππ¦ππ πππππ π΄ππβ ππ’ππ ππππππ’πππ π‘πππππ‘ πππππ π‘πππβππ‘ππππ¦π π¦πππ π‘ππππβππ πππππ πππππ’πππππ ππππ ππππππ π’ππ‘π’π πππππππ π‘πππβ πππ π ππππππ.
π·πππ ππ’ππ, πππ πππ πππ π πππππππ πππ ππ ππππππ’π ππ’π‘πβ; ππ ππππππ πππππ, π€ππππππ¦π ππππ π ππππβπππ ππππππ ππ’πππ π ππππ’ ππ’ππ, π¦πππ ππππ‘πππ ππππππ π’πππππ βπππ ππ ππππ€ππππ πππππππ‘, π πππππ‘πππ πππππ-πππππ π‘πππππ‘ ππ‘ππ ππππ‘π’πππ’, πππππ‘ ππππππ ππ’π‘πβ
π½ππππππ-πππππππ πππ πππ¦π ππ’ππ ππππ€ππππ ππππ’. ππππ π πππππ‘ ππππβ πππππβ πππππ-πππππ πππππ‘πππ π¦πππ πππ’πππ ππππππ π‘πππ π΄π-ππ’π'ππ πππ ππππππππ ππππ πππππππβ. π΅ππππ-πππππ π‘πππ πππ’π‘ ππππ’πππππ ππππ‘πβ ππππ¦π π πππ π’πππ πππ¦π’ πππππ’ππ π‘ππππππ π¦πππ πππ πβ πππππ‘ πππ‘πππ’πππ ππ π΄ππβ. πππππππππ π¦πππ πππππ’π‘π’βπππ πππ ππππππ ππ’ππ ππππ π πππ ππππππππππ πππβ πππππβπ’π πππ’πππππ π΄πππ ππππ πππππ’ππ πππ’ππππ (πΌπ ππππππ).
π½πππ π ππ ππππππ πππππ π’ππ ππππππ πππππ πππ πππ ππππππ’π πππππππ πππ¦π’, ππππ ππ βππππππ ππππ‘π’ πππ π’π ππππ πππππππ π‘πππ πππ’π‘ π‘πππππππ‘ π πππ’πβ ππππ’π πππ¦π’ (ππβπππ) π¦πππ ππππ’πππ’ππππ πππβ ππππππ‘ ππ πππππβ ππππ π’πππ‘ πππππππ π πππ‘ ππππππ ππππππ πππππβ, πππ πππππ‘ ππ’π‘πβ ππππππ πππππππππ ππππ . π·π ππππππ πππππ, ππ ππ‘ππ ππππ’π π‘πππ πππ’π‘, π‘πππππππ‘ πππππππ π π ππ‘ππππβ ππππ‘πππ ππππππ π ππππ ππππππ ππ.
π·π πππππ ππππ’π π‘πππ πππ’π‘, π ππ‘πππππ ππ’π ππππ π‘πππππ, π‘πππππππ‘ π πππ’πβ ππππππ πππ¦π’ ππππππππ π¦πππ πππ’πππ ππππβ πππ ππππππππ ππππ ππππππ πππ€πβ (πππππ), ππ ππππ πβππ‘ππ πππππππππ π‘πππππ‘ ππππ βπππ π½π’πππ‘ π πππ‘ ππππππππππ πβππ‘ππβππ¦π. πΏπππβ πππππ’π‘, ππ πππππ πππ πππ π‘πππππππ‘ ππππππππ πππππ’ ππππ‘π’ππ π¦πππ ππππππππππ ππππππ πππππ’ ππππ¦ππ π‘πππβ. πππππ’β πππππ’-πππππ’ π‘πππ πππ’π‘ πππ πβ πππππ‘ ππππ’πππππ—ππππππ π πππππππ πππ ππ π π’ππβ ππππ π‘ππππ πππππ’πππ π—πππππ’-πππππ’ ππ‘π’ ππππ ππππ¦ππππππ ππππ πππππ βπππ πππ¦π ππ ππβππ πππ π ππ’ππ π.
π΅πππππ π‘ππππβ πππππ’πππ (ππ’πππ π’π‘πππ) π‘ππβπ’ππ’ππ ππππππ’π π πππ’πβ ππππ‘π’ ππ π πππππβ πππππ ππβπππ ππππππ ππππππ ππππππππ, ππ ππππ π‘πππππππ‘ π‘πππππ π¦πππ ππππ’ππ’ ππ ππππππ πππππππππ πππ ππ’ππβ.
π·π ππ’ππ πππ πππ, ππ π ππ π πππππ π πππππβ ππππ πππ πππππ π‘πππππ, π‘πππππππ‘ ππ’π πππ πππ πππ‘π’ (ππ’ππβ), π¦πππ πππππ’πππ π ππππ π’πππ‘ πππππππ π¦πππ πππππ πππππ π’ππ π‘πππππ‘ π π’ππ π‘πππ πππ’π‘, ππππ ππππππ π‘ππππ πππππ πππππππ π π’ππ π πππππ πππ‘π’ππ, ππππ πππππ‘ ππππππ’πππ ππππππ π’βππ (π€π’ππ’) π¦πππ πππ€πππππππ; ππππππ π ππππππ’π π¦πππ π‘ππππ π π’ππ π πππππ πππ‘π’ππ π‘ππππ βπππ¦π ππππππππ ππππππ’πππ πππππβ π‘ππ‘πππ ππ’ππ π‘ππππ ππππβ π‘ππππππ ππ πππππ πππ πππ.
πΎπππππ π ππ ππππππ ππππππ’π ππππππππ π‘πππππππ πππππ (π‘πππ’π, πππππ’πππ βππππ‘, ππππ¦πππ‘π’β π ππ ππππππ ππππ πππππ πππππππ ππππ, πππ.) ππππ’ππππ ππππ ππππππ πππππ πππππππ π‘ππππ π π’ππ π πππππ βπ’ππ’π, ππππ ππππ¦π’ππππ πππ‘π’ππ (π€π’ππ’) π’ππ‘π’π ππππβππππππππ πππ‘πππππ π’ππππ π‘πππ πππ’π‘ π πππππ’π πππππβ π πππππ πππππ‘ππ π πππππ ππππ πππππππ’πππ.
πΏπππβ πππ’β ππππ, ππ ππππππ ππππππππ, π‘πππππ πβ ππππ πππππ’πππ π’π‘πππ, π‘πππππππ‘ ππ’π πππππ’πππ π‘ππππβππ ππππππ π’ππππ π’ππ‘π’π ππππππππ ππππ πππππ-πππππ π¦πππ πππ‘πππ ππππ πππ’β πππ π‘ππππ πππππ‘ ππππππ’πππ π‘πππππ‘ ππππ‘πππ’β ππ π‘πππππ‘ ππππ.
πππ π’ππ‘π’ π πππππ‘π πππ πππ πππ ππ π½ππ€π π‘ππππ πππ ππ π πππ. π·π’ππ’ππ¦π πππ πππ ππππππππ ππππππππ π ππ€πβ (ππππ̀ππ π πππ), π¦πππ πππ€ππππ πππ πππβ πππππππ ππ ππππ¦π π ππππππ π¦ππ¦ππ ππ πππππππππ (π€ππππ’π̈β). π·πππ π ππ‘π’, π πππππππ π‘ππππ πππ ππππ π¦πππ π‘πππ ππ π; πππ π¦πππ π πππ‘ πππ πππ πβ πππ πππ’π‘ ππππππ ππππ π‘πππ πππ’π‘ πππππβ ππ’π ππππππ π‘πππβ, π¦πππ πππβ ππππππππ‘πβ π‘πππβ πππ πππβπππ ππππππ ππππ’π (ππππ) π¦πππ π‘ππππ ππππππ, π πππππππ πππ’πππππ π½πβππ, πππ ππππππ πππππ’π̈ (πππππ) π¦πππ π‘ππππ ππππππ, π πππππππ πΏππ’ππ̀ π·ππππππ. ππ’πππ’π‘ππ πππππππππ π§ππππ‘ (ππππππ’π̈π‘) πππ πππ‘ππβ (πππ‘ππβ) π‘ππππ ππππππ’ππ‘π’ππππ ππππ ππππ ππππ πππ πππ.
πππππππ‘ π¦πππ ππππππππ‘ πππβ ππππ ππ πΎπππ‘π-π ππππ ππππππ πππππ ππππβπππππ-πΏπππππππ (π πππ‘ πππ π ππππππ πππππ¦π’ πππππππ ππππππππ πππ πππππ) πππππ¦πππ π ππππππ πππππ πβππ‘ ππππ ππππππππππ ππππππ (πΏπππππππ) π¦πππ ππππππ‘π’π π’ππ‘π’π πππππ’ππ’π πππ-π΄ππβ, πππ ππππ’πππππ π€πππ ππππβ π¦πππ πππ‘π’πππ’π ππππ πππππ’ππ’π πππ-π΄ππβ, π‘ππ‘πππ π πππππ πππ ππ π‘ππππ ππππππππ π’ππ’π ππ ππππππ πππ πππ.
ππππππ’π ππππππππ’πππ πππ πππ π΄ππβ π¦πππ ππππβ πππ, ππππππππ‘πβ π»πππππ π΅ππππππ π‘πππβ πππππ’ππ‘ππππ ππβπ€π ππππππ π‘ππ‘ππ π ππ‘ππ ππππ πππππ π¦πππ πππππβ πππ’ππππππ. πππ‘πππ πππππ π¦πππ π‘πππβ ππππβππ‘ππ¦π ππππ πππππππ’π ππβπ€π ππ’ππ‘π ππππ’ππβππ βππ‘π π¦πππ ππ¦ππ‘π π‘ππβππππ ππππ¦ππ‘ π΄ππβ πππ, ππ’ππ ππππ π π’ππ’π‘ πππππππ πππ ππ‘πππ‘π’π, ππππ’πππππ ππππ’πππ π¦πππ ππππππππ.
ππππ’π, πππππβ π‘π’ππ’ππ π¦πππ ππππππ π’ππππ ππ‘π’ πππππβ π‘πππππππ? πΎπππ ππππππ¦π π‘ππππ, π ππ‘ππππππ¦π π‘ππππ πππππβ πππ ππ’ππ‘π ππππβππππππ ππ‘ππ βππππβ πππ ππππ ππβππ π΄ππβ.
Dari surat Jenderal Van der Heijden yang dikutip di atas, tampak bahwa sejak pembangunan masjid tersebut, orang-orang Aceh tetap bersikap tidak acuh terlihat dan bahkan sampai sekarang masih jelas muncul setiap harinya, bahwa masjid tersebut tidak mendapat tempat di hati penduduk, bahkan sering kali menjadi objek ejekan. Ibadah yang dilakukan di dalam masjid yang dibangun oleh 'orang-orang kafir' tersebut, konon katanya, tidak ada gunanya (han sah seumajang — tidak sah salatnya).
Jika masjid (zaman) Abdoerrahman saja sudah kurang populer karena gayanya yang menyimpang, maka pada masjid yang dibangun dengan gaya arsitektur yang sama sekali asing bagi orang Aceh ini, keadaannya jauh lebih parah.
Bagi mereka, bangunan megah ini, sekarang maupun sebelumnya, bukanlah sebuah rumah ibadah yang memenuhi hati mereka dengan rasa hormat, melainkan hanyalah sebuah keganjilan eksotis. Orang Aceh menyebut kubah masjid yang indah itu sebagai sebuah labu (laboe), dan hiasan-hiasan bangunannya sering mereka bandingkan dengan hiasan-hiasan pawai yang ditempeli berbagai kertas warna-warni (lagèë djeunadah).
Dari sekitar 1.000 penduduk laki-laki Aceh di kedua distrik Meuseugit Raya, di sisi kiri dan kanan sungai Aceh, hanya segelintir orang yang ikut serta dalam ibadah harian di masjid tersebut. Sebagian besar pengunjungnya adalah orang asing (Jawa dan Melayu) serta orang-orang Aceh yang kebetulan sedang berada di pasar pada waktu salat (watèë-limòng).
Sementara itu, rendahnya minat tersebut tidak hanya disebabkan oleh asal-usul masjid yang tidak disukai oleh orang Aceh yang konservatif, tetapi juga bersumber dari pengabaian umum terhadap kewajiban agama di Aceh, terutama dalam hal ibadah (berjamaah). Kami berharap dapat mempelajari lebih lanjut tentang ibadah-ibadah ini nanti. Namun, dengan demikian, arti penting masjid bagi kehidupan rakyat pribumi baru dilihat dari satu sisi saja."
ππππππππππ......
Notes :
Masjid Raya Baiturrahman dalam Catatan "Nederlandsch-IndiΓ« Oud & Nieuw" (1920)
Majalah "Nederlandsch-IndiΓ« Oud & Nieuw" (NION) edisi Juli 1920 (Tahun ke-5, No. 3) bukan sekadar arsip lama. Ia adalah salah satu jurnal bulanan paling bergengsi pada masanya, yang secara mendalam mengupas silsilah sejarah, estetika seni, kemegahan arsitektur, hingga seluk-beluk etnografi di kepulauan Nusantara.
Dalam edisi khusus ini, peneliti kenamaan J. Kreemer (Jacob Kreemer) menyajikan studi komprehensif mengenai Masjid Raya Baiturrahman. Tulisan monumentalnya tersebut dibagi ke dalam empat pilar utama:
1. Sejarah & Penaklukan (1873–1874)
2. Pembangunan & Arsitektur (Selesai 1881)
3. Sosiologi & Adat Masyarakat
4. Teologi & Praktik Ibadah
Namun, Postingan kali ini, akan berfokus pada Bagian 1 dan 2 terlebih dahulu. Untuk Bagian 3 (Sosiologi & Adat Masyarakat) serta Bagian 4 (Teologi & Praktik Ibadah), akan kita postingan di lain waktu.
Oleh: Chairul Hidayah
Kontributor di Masyarakat Peduli Sejarah Aceh
![]() |
| Tangga marmer yang memberi akses ke ruang depan, yang dipisahkan oleh pagar kayu dari bagian utama (ruang salat) masjid |
![]() |
Masjid Raya di Kutaraja. Di sebelah kanan foto terdapat bangku marmer dengan tahun peringatan 1873—1913."![]() |
![]() |
| Tahap pembangunan masjid raya. |
![]() |
| Mandor sedang mengawasi Pematokan dan penggalian parit untuk pembangunan masjid raya pada masa kolonial |
![]() |
| Foto Ulee balang dengan pejabat Belanda di depan masjid raya yang sudah selesai. |



















0 Komentar