.
Loading...

Satu lagi Ulama dari Kerajaan Lamuri di temukan

Almarhum Syaikh Hibatuddin.
Ini adalah beberapa catatan yang terdapat pada satu nisan dari masa Kerajaan Lamuri, yang antara lain memberitahukan bahwa orang yang dikuburkan dan ditandai dengan nisan tersebut adalah seorang ulama dari masa Kerajaan Lamuri.
Nisan Abul Qasim 'Umar (wafat 845 H)
di Museum Aceh.
Nisan tersebut diyakini berasal dari kawasan situs sejarah Kerajaan Lamuri di Gampong Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar. Mengenai pemindahan nisan tersebut dari tempatnya belum saya peroleh informasi, tapi agaknya memang karena harus nisan itu harus dipindahkan untuk diselamatkan dan disimpan kemudian di Museum Aceh
Inilah catatan-catatan tersebut:
Pertama:
Pada batu nisan ini terpahat kutipan ayat Al-Qur'an dalam surat An-Nisa' ayat 78:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
"Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh."
Sebuah pesan Ilahi untuk menyadarkan manusia akan hakikat kematian yang tidak akan pernah dapat dihindari dan dengan cara apapun sehingga penyerahan hidup dan mati di jalan Allah menjadi tawaran dan pilihan terbaik dari berbagai pilihan untuk menjadikan hidup ini bermakna. Pesan Ilahi itu dinyatakan kembali oleh para pendahulu untuk para pewarisnya.
Pada nisan itu juga dipahat pesan-pesan lain yang senada:
المؤمن حي في الدارين
"Mu'min itu hidup di dua negeri (dunia dan akhirat)."
الدينا مزرعة الآخرة
"Dunia itu tempat bercocok tanam bagi akhirat."
الدنيا فاني (كذا) والآخرة باقي (كذا)
"Dunia itu fana (musnah), dan akhirat itu kekal."
Satu catatan yang perlu disampaikan bahwa cukup dengan memperhatikan bahwa nisan ini adalah benda dari 5 abad yang lalu, dan merupakan penanda kubur dari seseorang yang meninggal, dan kemudian ditambah lagi dengan memuat ayat Al-Qur'an dan mutiara hikmah yang sangat baik, sebenarnya, dengan hal-hal ini saja sudah cukup alasan untuk memberikan tempat yang lebih layak dari belakang pos satpam.
Kedua:
Nisan ini memuat epitaf (keterangan tentang orang yang dikubur). Saya membacanya sebagai berikut:
أ.
1. هذا القبر أبو القاسم
2. عمر شيخ هبة الدين
3. الوفاة يوم الخمس من
4. شهر شعبان

Epitaf (A).
ب.
1. سنة خمس
2. وأربعين
3. وثمانمائة من هجرة
4. نبوية صلى..

Epitaf (B).
A.
1. Ini kubur Abul Qasim
2. 'Umar Syaikh Hibatuddin
3. wafat pada hari lima dari
4. bulan Sya'ban
B.
1. tahun lima
2. dan empat puluh
3. dan delapan ratus dari hijrah
4. Nabi (Shalla...)
Dari epitaf ini diperoleh informasi:
- Nisan ini adalah penanda kubur Syaikh Hibatuddin 'Umar, yang dipanggil (kunyah) dengan Abul Qasim, yang wafat pada 5 Sya'ban 845 hijriah. Jika penanggalan tersebut dikonversikan ke tahun masehi maka tokoh tersebut telah wafat pada 18 Desember 1441 masehi (hari Sabtu). 845 hijriah ke 1438 hijriah adalah 593 tahun. 1441 ke 2017 adalah 576 tahun. Artinya: batu kubur ini telah berusia dan bertahan selama 5 abad.

- Tipelogi, model dekorasi dan kaligrafi, semuanya menunjukkan dengan jelas bahwa nisan ini berasal dari kawasan situs Lamuri di Lamreh. Saya tidak memiliki informasi apapun tentang siapa yang telah memindahkannya dari sana. Dan menurut dugaan saya, batu nisan berasosiasi dengan batu nisan Malik Zainal Abidin yang ditemukan di sisi barat Ujong Bate Kapai, Lamreh.

Nisan makan Malik Zainal 'Abidin (wafat 845 H/1442 M)
di gampong Lamreh, Mesjid Raya, Aceh Besar.
- Tokoh yang dimakamkan di Lamreh ini disebutkan lengkap dengan kunyah (panggilan): Abul Qasim; gelar: Syaikh Hibatuddin; dan namanya: 'Umar. Mempertimbangkan penyebutannya dengan gelar Syaikh Hibatuddin, serta dengan terdapatnya kesamaan ayat dan kalimat-kalimat yang dipahat pada batu nisannya dengan yang tepahat pada batu nisan Qadhi Shadrul Islam Isma'il yang juga tedapat di kawasan situs Lamuri di Lamreh, maka muncul perkiraan kuat bahwa Syaikh Hibatuddin adalah juga seorang qadhi, dan telah wafat sebelum Qadhi Shadrul Islam Isma'il. Sedangkan mengenai kunyahnya, Abul Qasim, yang dalam mazhab Asy-Syafi'iy, adalah merupakan sesuatu yang tidak dibolehkan sebab mengambil kunyah Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam, maka dalam mazhab Malik, itu adalah sesuatu yang dibolehkan. Dan saya juga telah melihat Syaikhul Islam Ibnu 'Asakir yang bermazhab Asy-Syafi'iy juga menggunakan kunyah: Abul Qasim.
Dan juga ada beberapa hal lain yang dapat pula dibicarakan dalam kajian yang lebih lanjut.
Demikianlah yang perlu untuk diungkapkan untuk sementara waktu dalam harapan agar semua benda-benda bersejarah di Aceh dapat mendapatkan perhatian dan tempat yang layak sebagai suatu warisan yang berhak untuk dilestarikan.

Kutipan ayat 78 dalam surah An-Nisa' pada nisan Syaikh Hibatuddin:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ 
"Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh."
Petikan inskripsi pada nisan Syaikh Hibatuddin:
المؤمن حي في الدارين
"Mu'min itu hidup di dua negeri (dunia dan akhirat)."
الدينا مزرعة الآخرة
"Dunia itu tempat bercocok tanam bagi akhirat."
الدنيا فاني (كذا) والآخرة باقي (كذا)
"Dunia itu fana (musnah), dan akhirat itu kekal
Bitai, 25 Jumadil Awal 1438
Oleh: Musafir Zaman
Dikutip dari group Mapesa.
Sejarah 2578852680200072501

Post a Comment

Home item

Google+ Badge

Follow by Email

Popular Posts