Berita

Fun & Fashion

International

Latest Updates

Sari Laporan Kegiatan Kepurbakalaan di Aceh pada Triwulan Pertama dan Kedua Tahun 1917

11:44:00 AM


Sebuah Meunasah di Daya.
Sumber: Mededeelingen van het Bureau voor de Bestuureszaken der Buitenbezittingen; De Buitenbezittingen, Atjeh en Onderhoorrigheden, bewerkt doorhet Encyclopaedisch Bureau, 1916.
(Komunikasi dari Kantor Urusan Administratif di Luar; Di luar; Aceh dan Taklukannya, Edit: Biro Ensiklopedi).
Repro:
Musafir Zaman.

Diterbitkan oleh J. J. de Vink
Sampai penghujung Januari (1917), Penulis laporan ini bersama stafnya masih tinggal di Bireuen. Baru pada 9 Februari, ia berangkat ke Sigli, dan untuk selanjutnya pada 11 Februari, ia menuju Kuta Raja dengan niat untuk melakukan kegiatan di sepanjang pantai barat Aceh.
Tiba di Kuta Raja, setelah terlebih dahulu merapikan kantor dan tempat kerja, ia kemudian melakukan penyelidikan ke afdeling Lhok Nga (afdeling : daerah/wilayah administratif setingkat kabupaten). Itu berlangsung sampai 18 Maret. Pada bulan Puasa, saat tenaga kerja tidak tersedia, maka batu nisan yang memenuhi syarat untuk diambil salinannya akan ditangani oleh personil mereka sendiri.
Setelah dua hari berjalan berbaris dari Kuta Raja, maka pada 20 Maret, Penulis laporan ini telah tiba di Lam No, di bekas wilayah kerajaan Daya, tempat di mana penelitian akan segera dilakukan, dan Penulis telah memperoleh dukungan dan kerja sama dari Ulee Balang Lam No, Teuku Doerahman, yang memimpin penyelidikan pendahuluan di hari-hari pertama.
Dari Ulee Balang ini, Penulis mendengar sebuah legenda tua mengenai Daya, yang ditulis oleh Teuku D[oerahman] dalam bahasa Aceh dan disalin ulang di sini dalam bahasa Belanda:
Di permulaan kisah, ketika Kerajaan Daya belum terbentuk, ada dua saudara yang berkuasa. Satu berkuasa di Kluang, dan satu lagi berkuasa di Lam No. Raja Kluang bergelar Raja Pah Lawan Syah, dan raja Lam No bernama Datu Pagu. Merekalah penghuni pertama di Daya.
Pada masa itulah datang Poteu Meurhoem yang terkenal dari Pidie ke sungai Daya dan sampai di negeri Gapa. Dia tinggal di sana untuk beberapa lama.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan dengan menaiki rakit sampai ke Gampong Lam Durian, dan di sana ia berhenti lagi. Di sana, galah yang dipakai untuk mendorong rakitnya tertancap di tanah. Maka sampai dengan hari itu, rumpun bambu masih tumbuh di tempat galah itu tertancap, dan karena itulah sebabnya rumpun bambu di situ disebut dengan Tring Galah (bambu yang dipakai untuk mendorong haluan perahu/rakit).
Apabila bambu Tring Galah itu digunakan untuk membuat rumah atau kandang sapi, maka diyakini - setidaknya, demikian yang diyakini - rumah atau kandang itu akan terbakar; hanya untuk membangun masjid dan meunasah, bambu itu boleh digunakan.
Setelah beberapa hari Poteu Meureuhoem tinggal di tempat itu, Datu' Pagu datang menghadapnya dengan sukarela dan meminta untuk diterima dalam Islam. Tapi Datu' Pagu meminta agar hal ini dirahasiakan sebab ia takut terhadap saudaranya Raja Pah Lawan Syah yang tidak pernah mengenal rasa takut.
Kemudian, Poteu Meureuhoem bersama-sama Datu' Pagu menghilir ke arah Kuala Daya.
Ketika sudah sampai di Lam No, Datu' Pagu meninggalkan rakit dan kembali ke rumahnya.
Orang-orang yang bersama Poteu Meureuhoem lantas bertanya kepada orang-orang di situ, apa yang mesti kami lakukan dengan kerajaan itu? Apakah kami harus memeranginya? Tapi Poteu Meureuhoem lantas mengatakan, "Itu tidak diperlukan. Kita sekarang sudah tahu itu ada. Akibat jawaban ini, maka kerajaan ini diberi nama Lam Na (no = na = ada). Untuk lebih mempermudah pengucapannya, nama itu telah dialihkan menjadi Lam No.
Kemudian, Poteu Meureuhoem menghilir menyusuri sungai gampong Meukan, di mana rakitnya kemudian terjebak di tengah sungai. Rakit ini kemudian menjadi gampong, yang lantas dinamakan dengan gampong Nusa. Nama ini berasal dari kenyaan bahwa rakit itu berbalik (nusa = berbalik). Di Aceh Besar, arti nusa ini tidak diketahui, dan orang-orang mengatakan "gisa" atau "kisa" untuk berbalik.
Poteu Meureuhoem kemudian menuruskan perjalanannya lewat darat menuju ke Gle Jong. Di sana, ia membangun sebuah kubu pertahanan (kuta), yang disebut dengan Lam Kuta sampai dengan hari ini.
Sekarang, Pah Lawan Syah datang ke garis depan di mana Poteu Meureuhoem berada dalam Lam Kuta.
Pah Lawan Syah mencoba mencegah Poteu Meureuhoem, tapi ia menderita kekalahan dan melarikan diri ke gunung Aneuk Panaih (biji nangka), dan kemudian meninggal di sana. Sebelum meninggal terlebih dahulu ia mengucap syahadat. Jadi, ia meninggal dunia sebagai seorang Muslim di kaki gunung yang sampai sekarang menyandang nama Gle Syurga (gunung/bukit syurga). Poteu Meureuhoem tinggal di Kuala Daya. Seorang kerabat Pah Lawan Syah menjadi raja di Kluang dan Datu' Pagu raja di Lam No.
Nenek moyang dari Ulee Balang Kuala Daya sekarang adalah seorang pedamping Poteu Meureuhoem.
Suatu hari, pedamping Poteu Meureuhoem ini bertemu dengan dua orang nelayan di pantai. Kedua nelayan itu sedang bertengkar tentang ikan yang mereka tangkap. Keduanya memperebutkan bagian kepala ikan. Kawan Poteu Meureuhoem ini kemudian berbicara dengan kedua nelayan, menanyakan kepada mereka apakah dia boleh menyelesaikan masalah tersebut. Keduanya menjawab setuju. Pedamping Poteu Meureuhoem lantas mengambil ikan itu, dan membelahnya [memanjang] di tengah, lalu memberikan kepada keduanya setengah seorang. Kejadian ini diceritakan kepada Poteu Meureuhoem, yang lantas berkata kepada kawannya itu: Aku mengangkatmu serta keturunanmu sebagai Hakim Setia Lela.
Demikianlah kisah kedua orang tua itu dan keturunan mereka. Kelanjutannya adalah sebagaimana terlihat; di Kluang memerintah keturunan Pah Lawan Syah dan di Lam No memerintah keturunan Datu Pagu.
Semua kompleks kubur yang Penulis temukan, didapati di dataran berpepohonan lebat. Batu-batu nisan itu sering ditemukan dalam keadaan terbenam setengahnya. Totalnya ada 920 pasang batu nisan ditemukan di Daya, yang hampir semuanya dihiasi atau dipenuhi ayat-ayat Al-Qu'ran. Semua batu nisan itu, baik yang memiliki epitaf ataupun tanpa nama dan tahun, telah disalin (rubbing) dan difoto semuanya. Semua kompleks kuburan, betapapun kecilnya, telah ditempatkan di atas gundukan, sehingga kompleks kuburan dapat ditemukan segera setelah lahan dibersihkan. Seluruh wilayah diteliti, namun secara berlebihan, gampong dan gunung yang disebutkan dalam legenda tadi dikenai penyelidikan yang sangat akurat.
Di gampong Lam No, semua batu nisan digali dan banyak yang lepas dari akar pohon. Hanya dua kuburan yang patut diambil salinannya. Pada salah satunya terdapat nama. Sebuah foto telah diambil dari kuburan ini.

Batu Nisan di komplek makam Tuan Pakeh.
Gampong Pante Keutapang, Lamno, Aceh Jaya.
Batu Nisan di komplek makam Tuan Pakeh.
Gampong Pante Keutapang, Lamno, Aceh Jaya.
Ketika pekerjaan sudah selesai dilakukan di areal ini, Penulis pindah ke gampong Loee, di mana banyak kompleks makam juga yang ditemukan di sana. Empat batu kubur telah dibawa ke kompleks kuburan Teungku Bak Sapik untuk diambil salinannya. Di atas batu yang paling lapuk, penulis berpikir untuk membaca kata: sultan. Berikut ini adalah dua batu nisan yang dipotret (8 shot). Seberang Gampong Loee, di pinggir laut, ada tiga kubur ditemukan di atas bukit. Pada sebuah batu nisan terdapat kata "sultan", nama dan tahunnya muncul. Foto dan salinan juga telah dibuat untuk batu nisan ini.
Nisan di komplek makam Bak Sapiek
gp. Meunasah Teungoh, Lamno, Aceh Jaya.
Beberapa batu nisan ditemukan di Gampong Nusa, salah satunya berisi epitaf tanpa tanggal. Semua batu nisan di sini sudah dibuat salinannya.
Di Kuta Poteu Meureuhoem Daya, yang berbatasan dengan satu sisi di Kuala Daya, Penulis telah menemukan empat kuburan. Hanya pada satu batu nisannya saja yang terukir inskripsi sampai dengan ke kaki batu. Dari batu ini hanya diambil salinannya saja. Kemudian, situs tersebut terbuka ke pantai antara Cot Gle Jong dan Gle Syurga (mulut Kuala Daya). Di sini banyak kompleks kuburan yang diperkirakan di luar bayangan. Termasuk di antaranya Pah Lawan Syah. Di kompleks tersebut, dua wanita bersaudara telah dikuburkan berdampingan. Batu nisan yang tegak telah pecah di bagian kepala dan kaki, tapi untungnya masih terpelihara dengan baik, sehingga epitaf dan tahun-tahun sebagiannya masih dapat terbaca. Menurut cerita penduduk, batu nisan Pah Lawan Syah pasti telah dilapisi emas dan batu permata, dan kanduri masih dilaksanakan di sini sampai dengan hari ini. Kubur Datu' Pagu ditunjukkan kepada saya pada jarak seperempat jam dari Pah Lawan Syah. Di kuburan itu, yang terletak antara gampong dan rawa-rawa, ada dua batu kali yang bulat dan besar.
Di Cot Gle Jong terbaring kubur Poteu Meureuhoem dan putrinya, yang sudah dua tahun yang lalu ditemukan manakala Raden Dr. Hoesein Djajadiningrat berada ke Daya; ditemukan, difoto dan dibuat salinannya. Pada waktu itu ZEZGel (?) beruntung dapat memiliki sebuah surat tua yang bisu dengan stempel Sultanah Tajul 'Alam di atasnya. Meski penulis laporan ini telah melakukan banyak upaya untuk melacak sarakata, namun ia tidak diperkenan untuk berhasil.

Nisan Sultan 'Alauddin Ri'ayat Syah  atau lazim disebut Poteumerhom.
Gampong Gle Njong kecamatan Jaya kabupaten Aceh Jaya.
Pada 23 April pekerjaan sudah selesai di Daya dan semua kembali ke Kuta Raja untuk mengerjakan temuan-temuan itu di kantor. Untuk lima salinan inskripsi kuburan telah dibuat foto cetaknya, dan salinan itu telah dikirim ke Kepala Biro Kepurbakalaan dalam bentuk duplikat. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, penulis laporan ini bekerja di Leupoeng sampai Sedu. Hanya satu kubur di antara kubur-kubur yang ditemukan yang mesti dibuat salinan batu nisannya, sementara secara keseluruhan, penulis telah menemukan 15 batu nisan berornamen di tempat itu.
Pada 24 Mai, penulis berangkat ke Calang dan menyelidiki wilayah tersebut sampai dengan Krueng Teumom (Teunom), tetapi tanpa hasil. Pada 7 Juni, ia kembali ke Kuta Raja. Badai hujan yang deras menyebabkan penelitian dihentikan untuk sementara waktu. Setelah bulan puasa, jika cuaca sudah membaik, penulis berharap, dari Calang dapat menyelidiki wilayah Daya sampai Kuala Unga untuk kemudian menyelesaikan pekerjaan di sepanjang pantai barat.
Selama penyelidikan di bekas Kerajaan Daya, penulis telah melakukan perjalanan di sepanjang Krueng Gapa bersama pemandu Aceh yang hanya bisa menunjukkan satu tempat di mana delapan pasang batu nisan berukir Kalimah Syahadat.
Kompleks ini ditemukan di kaki pegunungan yang tinggi di mana Krueng Gapa melewati tebing yang curam. Menurut keterangan pemandu, aliran sungai tersebut telah berubah, dan batu nisan lalin telah jatuh ke sungai dan hilang.
Kuta Raja, 24 Juni 1917.
Sumber: Oudheidkundig Verslag 1917, P. 65-70.
Link Download:
https://ia800601.us.archive.org/5/items/in.gov.ignca.37040/37040.pdf
Berikut ini adalah sejumlah lokasi situs pemakaman di pantai barat Aceh yang telah tercatat dalam daftar foto dan salinan yang dilaporkan oleh J. J. de Vink pada tahun 1917.
1. Tuan Pakeh, Gampong Lam No, Meunasah Tuha, Mukim Lam No (Nomor: 1472 - 1476, Daftar Foto XI/XII, Atjeh).
2. Teungku Ba Sapih, Gampong Meunasah Rayeuk Loee, Mukim Lam Beuso (Nomor: 1477 - 1480, Daftar Foto XI/XII, Atjeh).
3. Teungku Gle Meurah, Gampong Meunasah Rayeuk Loee, Mukim Lam Beuso (Nomor: 1481 - 1484, Daftar Foto XI/XII, Atjeh).
4. Teungku Pahlawan Syah, Gampong Ueateue, Meunasah Meungkoeroek, Mukim Kuala Daya (Nomor: 1485 - 1488, Daftar Foto XI/XII, Atjeh).
5. Teungku Meurah, Gampong Nusa, Meunasah Nusa Ikoe, Mukim Kuala Daya (Nomor: 2496 - 2503, Daftar Salinan XII, Atjeh).
6. Gampong Gle Jong, Meunasah Jong, Mukim Lam Keumawe (Nomor: 2504 - 2511, Daftar Salinan XII, Atjeh).
7. Teungku Ujoeng Puloet, Gampong Meunasah Layeun, Mukim Leupung (Nomor: 2520 - 2527, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
8. Teungku Lhok Nga, Gampong Meunasah Tanjoeng, Mukim Koee (Nomor: 2528 - 2536, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
9. Teungku Sareh, Gampong Lam Lhom, Meunasah Baroe, Mukim Lam Lhom, (Nomor: 2537 - 2540, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
10. Teungku di Blang, Gampong Meunasah Karing, Mukim Lam Lhom (Nomor: 2541 - 2548, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
11. Teungku Sareh, Gampong Lam Lhom, Meunasah Baroe, Mukim Lam Lhom (Nomor: 2549 - 2561, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
12. Teungku Putro Plangke, Gampong Meunasah Lam Lhong, Mukim Lhong (Nomor: 2562 - 2564, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
13. Anonim, Gampong Meunasah Lam Juhang, Mukim Lhong (Nomor: 2565, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
14. Anonim, Gampong Meunasah dan Mukim Gle Bruk (Nomor: 2566 & 2567, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
15. Anonim, Gampong Blang Bangi, Meunasah Blang Keumawe, Mukim Kuala Daya (Nomor: 2568 & 2569, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
16. Teungku Krinci, Gampong dan Meunasah Kuala, Mukim Lam Beuso (Nomor: 2570 & 2570, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
17. Po di Kandang, Gampong Meunasah dan Mukim Kuala Unga (Nomor: 2572 - 2579, Daftar Salinan XIII, Atjeh).
Catatan:
Terjemahan yang dikerjakan secara terpaksa ini ditujukan hanya untuk memberikan gambaran umum dari isi tulisan asli dalam Bahasa Belanda. Perbaikan, penyempurnaan bahkan penerjemahan ulang masih diharapkan.
Laporan ini berbahasa Belanda diterjemahkan oleh Musafir Zaman.
Dikutip dari group facebook Mapesa.

Manuskrip Peta Pelabuhan-pelabuhan Lada di Barat-Selatan Aceh, 1821

1:03:00 AM
Peta yang digambarkan dengan tangan (manuskrip) oleh Kapten Laut asal Australia-Irlandia, Samuel Ashmore, ini merupakan salah satu peta maritim terpenting dari 1821. Peta ini menggambarkan secara akurat pelabuhan-pelabuhan lada di pantai barat-selatan Aceh, mulai Meulaboh (Annalabou) sampai Singkil, sebuah kawasan yang pada waktu itu lebih dikenal dengan Pantai Lada (Pepper Coast). 
Trumon dengan pelabuhan pulaunya merupakan eksportir lada terbesar di sepanjang pantai ini, sementara pelabuhan Pulo Dua terkenal sebagai yang terbaik di antara seluruh pelabuhan lada di utara Pulau Sumatra.
Kegiatan perdagangan lada yang pesat di wilayah pantai ini telah membuatnya tersohor di dunia perdagangan internasional, terutama dikarenakan oleh hubungan-hubungan perdagangannya dengan Amerika. Namun, kegiatan perdagangan itu tidak selalu berlangsung tanpa konflik. 10 tahun setelah peta ini dibuat, pada 1831, sebuah kapal dagang merica milik Amerika terpaksa diserang di perairan Kuala Batu. Presiden Amerika, Andrew Jackson, mengirim 300 marinir dan kapal Potomac untuk membalas penyerangan tersebut. Sebuah peperangan terjadi, tapi kemudian kedua belah pihak dapat mengakhirinya dengan perdamaian, dan keadaan berhasil dipulihkan kembali.
*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang yang sedang berlangsung. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa.
Dikutip dari group Mapesa.
Lihat postingan sebelumnya: Quallah Battoo.
Baca juga postingan: "Ketika Aceh Menanam Lada Demi Kedaulatan"

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus


Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus
Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus
Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Tanaman lada. Foto by Irfan M Nur

Harga lada hitam sangat mahal dan nilainya cukup stabil sehingga bisa dijadikan agunan dan diterima sebagai mata uang sebagai media pertukaran dalam beberapa periode lampau.
Sumber Gambar: wikipedia

Kristal piperine diekstraksi dari lada hitam.
Sumber Gambar: wikipedia


Lada hitam ada di kelas bumbu yang sangat istimewa, unsur piperine adalah salah satu penyebabnya. 
Ini adalah senyawa kimia alami yang sebagian besar mengandung atom nitrogen dasar.
Formula molekul: C17H19NO3
Berat molekul: 285.343 g/mol
Sumber Gambar: pubchem

Panorama dari Kuala Susoh Aceh Selatan, direkam pada 17 Agustus 2017.
Foto by Irfan M Nur

Panorama dari Kuala Susoh Aceh Selatan, direkam pada 17 Agustus 2017.
Foto by Irfan M Nur

Peta Jalur-jalur Pelayaran di Teluk Aceh

10:28:00 PM


Peta Jalur-jalur Pelayaran di Teluk Aceh dan Pelabuhan Internasional Kesultanan Aceh Darussalam 
Peta ini adalah salah satu peta yang dimuat dalam Le Neptune Oriental dédié au Roi, sebuah karya kartografi yang pertama sekali diterbitkan oleh kartografer asal Perancis, d'Apres de Mannevillette (1707-1780), pada 1745.
Sebagai salah satu grafik untuk atlas hidrografi dari hasil perjalanan ke Cina pada 1728, d'Apres de Mannevillette telah menjudulkan peta ini dengan "Plan de la rade d'Achem et des isles circonvoisines situées à la partie du nord-ouest de Sumatra" (Peta Teluk Aceh dan pulau-pulau sekitarnya di barat laut Sumatera).
Titre : Plan de la rade d'Achem et des isles circonvoisines situées à la partie du nord-ouest de Sumatra / [tiré de d'Après] ; Guill. De-la-Haye Auteur : Après de Mannevillette, Jean-Baptiste-Nicolas-Denis d' (1707-1780). Auteur adapté Auteur : Delahaye, Guillaume-Nicolas (1727-1802). Graveur
Sumber: gallica
Peta yang dibuat pada paroh pertama abad ke-18 ini tentu ditujukan untuk membantu navigasi di Teluk Aceh, dan sudah tentu pula berkenaan dengan kegiatan perdagangan yang pesat sebagaimana dilukiskan James Horsburgh satu abad kemudian dalam The India Directory Vol. 2, 1843: "Aceh adalah sebuah kota yang sangat besar, terletak di tepi sebuah sungai yang bermuara ke laut lewat beberapa cabang sungai yang memisahkan daerah-daerah rendah menjadi pulau-pulau, dan dataran rendah ini, yang terbentuk mulai kaki gunung sampai tepi laut, sebagiannya terendam air pada musim hujan. Ini, dulunya, merupakan sebuah tempat perdagangan yang besar, kerap dikunjungi oleh kapal-kapal dari berbagai negara di Eropa, begitu pula dari Cina dan dari seluruh wilayah di India. Tapi itu pada masa Kerajaan Aceh berkembang pesat dan sangat berkuasa. Sekarang, Kerajaan Aceh sudah melemah dan jauh merosot."
Peta ini menunjukkan 4 laluan menuju dan keluar dari Teluk Aceh, yakni perairan di depan daratan Aceh yang dilingkungi oleh pulau-pulau mulai timur sampai barat lautnya, di mana Pulau Weh adalah terbesar di antaranya.
Malacca Passage (Jalur Malaka)
Di arah timur atau timur laut Teluk Aceh terdapat laluan kapal yang disebut dengan Jalur Malaka (Malacca Passage). Kapal-kapal yang datang dari atau pergi ke arah timur dan timur laut, sebagaimana diterangkan Horsburgh (1843) dapat melintasi Jalur Malaka yang terbentuk di antara Pulau Weh dan pesisir Sumatra dengan Pulau Malora atau Pulau Buru di antara keduanya. Laluan di kedua sisi pulau ini aman untuk pelayaran, terang Horsburgh.
Bengal Passage (Jalur Benggala)
Horsburgh (1843) membeberkan bahwa laluan yang paling nyaman untuk keluar dari Teluk Aceh ke arah utara adalah dengan melewati jalur yang terbentuk di antara Pulau Breuh dan Pulau Weh, yang disebut dengan Jalur Benggala (Bengal Passage). Itu dikarenakan, rata-rata, arus mengarah ke arah itu. Namun bagi kapal yang mengarah ke Teluk Aceh, Jalur Malaka dianggap lebih baik. Kapal dari arah barat menggunakan Jalur Surat (Surat Passage), tetapi untuk menuju ke barat dari Teluk Aceh, Jalur Benggala lebih menguntungkan sebab muson barat daya mengelilingi Pulo Breuh dan bertiup ke arah barat. Sebuah pulau terluar di jalur ini, sampai sekarang, masih disebut dengan Pulo Benggala atau juga disebut dengan Batee Lhe blah.
 
Sedre Passage (Jalur Sedre/Cedar)
Jalur, yang hari ini lebih dikenal dengan Aruih Raya (arus besar) sebenarnya lebih besar daripada Jalur Surat, yang dikenal dengan Aruih Cut (arus kecil), dan jauh lebih aman daripada yang diperkirakan, tapi menurut Horsburgh (1843), jarang sekali kapal-kapal melewati laluan ini. Jalur Sedre (Aruih Raya) terletak antara Pulau Nasi (Pulo Nancy) di arah utara, serta Pulau Batu (Stony Island) dan Pulau Bunta (Pulo Gomez) di arah selatan. Satu-satunya bahaya di jalur ini berada di jalan masuk sebelah barat; karang-karang menjorok dari Pulau Bunta (Pulo Gomez) ke arah barat, di mana gelombang laut akan memecah tinggi dalam cuaca buruk, begitu pula dengan karang-karang di sisi utara yang dekat dengan titik barat Pulau Nasi.

Surat* Passage (Jalur Surat)
Dari sisi utara, Jalur Surat dipisah oleh Pulau Bunta (Pulo Gomez), Pulau Batu (Stony island) dan Pulau Cincin yang berada tepat di garis laluan Kedua pulau yang terakhir disebutkan (Pulau Batu dan Cincin) dirantai oleh karang-karang. Sementara di sisi selatan laluan adalah Ujung Raja (King Point) yang merupakan ujung terbarat dari pantai barat Sumatra. Mendekati Jalur Surat dari arah barat daya akan memperlihatkan lajur daratan yang tertutup; pulau-pulau bersebelahan, Bunta (Gomez), Nasi (Nancy) dan Breuh (Brasse), muncul untuk bergabung dengan daratan saat dilihat dari arah itu.
*Surat adalah sebuah kota di negara bagian Gujarat, India. Hari ini merupakan kota besar kedelapan di India. Pada masa lampau, Surat adalah sebuah kota pelabuhan raya.
*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa.
Dikutip dari group Mapesa.

Titre : Plan de la rade d'Achem et des isles circonvoisines situées à la partie du nord-ouest de Sumatra / [tiré de d'Après] ; Guill. De-la-Haye Auteur : Après de Mannevillette, Jean-Baptiste-Nicolas-Denis d' (1707-1780). Auteur adapté Auteur : Delahaye, Guillaume-Nicolas (1727-1802).
GraveurSumber: 
http://gallica.bnf.fr/ark:/12148/btv1b59633149/f1.item.r=aceh

Keberadaan 3 proyek besar: 1. Proyek IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), 2. IPLT (Instalsi Pengolahan Lumpur Tinja), 3. TPA (Tempat Pembuangan Akhir), di muara Krueng Aceh telah menurunkan derajat dan menghina status muara Krueng Aceh sebagai pangkalan pelabuhan Internasional pada zaman Aceh Darussalam.
 
Copyright © MAPESA. Blog Templates Designed by OddThemes