Berita

Fun & Fashion

International

Latest Updates

Manuskrip Peta Pelabuhan-pelabuhan Lada di Barat-Selatan Aceh, 1821

1:03:00 AM
Peta yang digambarkan dengan tangan (manuskrip) oleh Kapten Laut asal Australia-Irlandia, Samuel Ashmore, ini merupakan salah satu peta maritim terpenting dari 1821. Peta ini menggambarkan secara akurat pelabuhan-pelabuhan lada di pantai barat-selatan Aceh, mulai Meulaboh (Annalabou) sampai Singkil, sebuah kawasan yang pada waktu itu lebih dikenal dengan Pantai Lada (Pepper Coast). 
Trumon dengan pelabuhan pulaunya merupakan eksportir lada terbesar di sepanjang pantai ini, sementara pelabuhan Pulo Dua terkenal sebagai yang terbaik di antara seluruh pelabuhan lada di utara Pulau Sumatra.
Kegiatan perdagangan lada yang pesat di wilayah pantai ini telah membuatnya tersohor di dunia perdagangan internasional, terutama dikarenakan oleh hubungan-hubungan perdagangannya dengan Amerika. Namun, kegiatan perdagangan itu tidak selalu berlangsung tanpa konflik. 10 tahun setelah peta ini dibuat, pada 1831, sebuah kapal dagang merica milik Amerika terpaksa diserang di perairan Kuala Batu. Presiden Amerika, Andrew Jackson, mengirim 300 marinir dan kapal Potomac untuk membalas penyerangan tersebut. Sebuah peperangan terjadi, tapi kemudian kedua belah pihak dapat mengakhirinya dengan perdamaian, dan keadaan berhasil dipulihkan kembali.
*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang yang sedang berlangsung. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa.
Dikutip dari group Mapesa.
Lihat postingan sebelumnya: Quallah Battoo.
Baca juga postingan: "Ketika Aceh Menanam Lada Demi Kedaulatan"

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus


Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus
Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus
Cartes de principales Rades and Marchés à poivre dans la partie Nord de la Cote Ouest De Sumatra Par Samuel Aschemore. – The first accurate map of western Sumatra it is original manuscript form?
Sumber: geographicus

Tanaman lada. Foto by Irfan M Nur

Harga lada hitam sangat mahal dan nilainya cukup stabil sehingga bisa dijadikan agunan dan diterima sebagai mata uang sebagai media pertukaran dalam beberapa periode lampau.
Sumber Gambar: wikipedia

Kristal piperine diekstraksi dari lada hitam.
Sumber Gambar: wikipedia


Lada hitam ada di kelas bumbu yang sangat istimewa, unsur piperine adalah salah satu penyebabnya. 
Ini adalah senyawa kimia alami yang sebagian besar mengandung atom nitrogen dasar.
Formula molekul: C17H19NO3
Berat molekul: 285.343 g/mol
Sumber Gambar: pubchem

Panorama dari Kuala Susoh Aceh Selatan, direkam pada 17 Agustus 2017.
Foto by Irfan M Nur

Panorama dari Kuala Susoh Aceh Selatan, direkam pada 17 Agustus 2017.
Foto by Irfan M Nur

Peta Jalur-jalur Pelayaran di Teluk Aceh

10:28:00 PM


Peta Jalur-jalur Pelayaran di Teluk Aceh dan Pelabuhan Internasional Kesultanan Aceh Darussalam 
Peta ini adalah salah satu peta yang dimuat dalam Le Neptune Oriental dédié au Roi, sebuah karya kartografi yang pertama sekali diterbitkan oleh kartografer asal Perancis, d'Apres de Mannevillette (1707-1780), pada 1745.
Sebagai salah satu grafik untuk atlas hidrografi dari hasil perjalanan ke Cina pada 1728, d'Apres de Mannevillette telah menjudulkan peta ini dengan "Plan de la rade d'Achem et des isles circonvoisines situées à la partie du nord-ouest de Sumatra" (Peta Teluk Aceh dan pulau-pulau sekitarnya di barat laut Sumatera).
Titre : Plan de la rade d'Achem et des isles circonvoisines situées à la partie du nord-ouest de Sumatra / [tiré de d'Après] ; Guill. De-la-Haye Auteur : Après de Mannevillette, Jean-Baptiste-Nicolas-Denis d' (1707-1780). Auteur adapté Auteur : Delahaye, Guillaume-Nicolas (1727-1802). Graveur
Sumber: gallica
Peta yang dibuat pada paroh pertama abad ke-18 ini tentu ditujukan untuk membantu navigasi di Teluk Aceh, dan sudah tentu pula berkenaan dengan kegiatan perdagangan yang pesat sebagaimana dilukiskan James Horsburgh satu abad kemudian dalam The India Directory Vol. 2, 1843: "Aceh adalah sebuah kota yang sangat besar, terletak di tepi sebuah sungai yang bermuara ke laut lewat beberapa cabang sungai yang memisahkan daerah-daerah rendah menjadi pulau-pulau, dan dataran rendah ini, yang terbentuk mulai kaki gunung sampai tepi laut, sebagiannya terendam air pada musim hujan. Ini, dulunya, merupakan sebuah tempat perdagangan yang besar, kerap dikunjungi oleh kapal-kapal dari berbagai negara di Eropa, begitu pula dari Cina dan dari seluruh wilayah di India. Tapi itu pada masa Kerajaan Aceh berkembang pesat dan sangat berkuasa. Sekarang, Kerajaan Aceh sudah melemah dan jauh merosot."
Peta ini menunjukkan 4 laluan menuju dan keluar dari Teluk Aceh, yakni perairan di depan daratan Aceh yang dilingkungi oleh pulau-pulau mulai timur sampai barat lautnya, di mana Pulau Weh adalah terbesar di antaranya.
Malacca Passage (Jalur Malaka)
Di arah timur atau timur laut Teluk Aceh terdapat laluan kapal yang disebut dengan Jalur Malaka (Malacca Passage). Kapal-kapal yang datang dari atau pergi ke arah timur dan timur laut, sebagaimana diterangkan Horsburgh (1843) dapat melintasi Jalur Malaka yang terbentuk di antara Pulau Weh dan pesisir Sumatra dengan Pulau Malora atau Pulau Buru di antara keduanya. Laluan di kedua sisi pulau ini aman untuk pelayaran, terang Horsburgh.
Bengal Passage (Jalur Benggala)
Horsburgh (1843) membeberkan bahwa laluan yang paling nyaman untuk keluar dari Teluk Aceh ke arah utara adalah dengan melewati jalur yang terbentuk di antara Pulau Breuh dan Pulau Weh, yang disebut dengan Jalur Benggala (Bengal Passage). Itu dikarenakan, rata-rata, arus mengarah ke arah itu. Namun bagi kapal yang mengarah ke Teluk Aceh, Jalur Malaka dianggap lebih baik. Kapal dari arah barat menggunakan Jalur Surat (Surat Passage), tetapi untuk menuju ke barat dari Teluk Aceh, Jalur Benggala lebih menguntungkan sebab muson barat daya mengelilingi Pulo Breuh dan bertiup ke arah barat. Sebuah pulau terluar di jalur ini, sampai sekarang, masih disebut dengan Pulo Benggala atau juga disebut dengan Batee Lhe blah.
 
Sedre Passage (Jalur Sedre/Cedar)
Jalur, yang hari ini lebih dikenal dengan Aruih Raya (arus besar) sebenarnya lebih besar daripada Jalur Surat, yang dikenal dengan Aruih Cut (arus kecil), dan jauh lebih aman daripada yang diperkirakan, tapi menurut Horsburgh (1843), jarang sekali kapal-kapal melewati laluan ini. Jalur Sedre (Aruih Raya) terletak antara Pulau Nasi (Pulo Nancy) di arah utara, serta Pulau Batu (Stony Island) dan Pulau Bunta (Pulo Gomez) di arah selatan. Satu-satunya bahaya di jalur ini berada di jalan masuk sebelah barat; karang-karang menjorok dari Pulau Bunta (Pulo Gomez) ke arah barat, di mana gelombang laut akan memecah tinggi dalam cuaca buruk, begitu pula dengan karang-karang di sisi utara yang dekat dengan titik barat Pulau Nasi.

Surat* Passage (Jalur Surat)
Dari sisi utara, Jalur Surat dipisah oleh Pulau Bunta (Pulo Gomez), Pulau Batu (Stony island) dan Pulau Cincin yang berada tepat di garis laluan Kedua pulau yang terakhir disebutkan (Pulau Batu dan Cincin) dirantai oleh karang-karang. Sementara di sisi selatan laluan adalah Ujung Raja (King Point) yang merupakan ujung terbarat dari pantai barat Sumatra. Mendekati Jalur Surat dari arah barat daya akan memperlihatkan lajur daratan yang tertutup; pulau-pulau bersebelahan, Bunta (Gomez), Nasi (Nancy) dan Breuh (Brasse), muncul untuk bergabung dengan daratan saat dilihat dari arah itu.
*Surat adalah sebuah kota di negara bagian Gujarat, India. Hari ini merupakan kota besar kedelapan di India. Pada masa lampau, Surat adalah sebuah kota pelabuhan raya.
*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa.
Dikutip dari group Mapesa.

Titre : Plan de la rade d'Achem et des isles circonvoisines situées à la partie du nord-ouest de Sumatra / [tiré de d'Après] ; Guill. De-la-Haye Auteur : Après de Mannevillette, Jean-Baptiste-Nicolas-Denis d' (1707-1780). Auteur adapté Auteur : Delahaye, Guillaume-Nicolas (1727-1802).
GraveurSumber: 
http://gallica.bnf.fr/ark:/12148/btv1b59633149/f1.item.r=aceh

Keberadaan 3 proyek besar: 1. Proyek IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), 2. IPLT (Instalsi Pengolahan Lumpur Tinja), 3. TPA (Tempat Pembuangan Akhir), di muara Krueng Aceh telah menurunkan derajat dan menghina status muara Krueng Aceh sebagai pangkalan pelabuhan Internasional pada zaman Aceh Darussalam.

Teluk Samawi

11:50:00 AM
Bandar Teluk Samawi
Daerah ini pada masa kemudian dikenal dengan Lhokseumawe, sebuah kota di pantai utara Aceh. 
Von Schmidt, seorang kapten laut Belanda, mencatat dalam bukunya, Telok Semawe, de Beste Haven op Atjeh's Noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), 1887, bahwa Teluk Samawi terletak sekitar 6 mil sebelah barat Diamont Point (titik timur laut pulau Sumatra), dan telah diperuntukkan untuk perdagangan. Pantai sebelah baratnya merupakan kedudukan dari Negeri Teluk Samawi. 
Sambil memuat sebuah peta Teluk Samawi dalam bukunya itu, Kapten laut ini juga menyatakan bahwa Teluk Samawi memiliki lokasi yang bagus, di mana dalam waktu yang sama, ratusan kapal besar dapat menemukan tempat berlabuh yang bagus, dan kapal-kapal kecil dalam jumlah yang banyak dapat bersandar di dekat pantai. Bahkan, dalam kondisi angin timur laut yang bertiup terus menerus, rumpun-rumpun bambu dan pantai dapat bertahan di sepanjang laguna yang tidak hanya cocok untuk kapal-kapal kecil, tapi juga untuk kapal yang dapat dilayari. 
Peta dari buku Telok Semawé de beste haven op Atjeh's noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), 1887. Oleh J.H.P. von Schmidt auf Altenstadt.
Von Schmidt menerangkan pula bahwa untuk kapal uap dan kapal layar yang menuju Straits Settlements (Semenanjung Melayu), Cina, Jepang dan lainnya, atau kembali dari sana lewat Selat Malaka menuju jalur Cedar (Sedre Passage) atau bagian dekat Pulau Weh dan Pulau Breuh, Teluk Samawi dapat digunakan sebagai pelabuhan singgahan untuk berbagai perbaikan, menyuplai perbekalan, dan memasok batu bara atau air. 
Bagaimanapun, kepentingan Teluk Samawi di jalur pelayaran Dunia sebenarnya telah diketahui sejak ratusan tahun sebelum Von Schmidt. Sedikitnya sejak abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi), sebuah kerajaan Islam telah memantapkan keberadaannya di pesisir teluk itu. 
Sebelum abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi), daratan di lekuk laut pantai utara Aceh itu, tampaknya, telah mengundang ketertarikan banyak orang dari daratan benua Asia untuk berkunjung lantas menetap di sana.
Nama satu kawasan besar di bagian timur Teluk Samawi, yang hari ini menjadi wilayah-wilayah administratif Kecamatan Syamtalira Bayu, Kecamatan Samudera, Kecamatan Syamtalira Aron, memberitahukan secara pasti akan adanya sebuah toponimi kuno berkenaan dengan daratan ini. Toponimi kuno itu adalah Syamtalira. 
Setelah dilakukan pelacakan ke asal usul bahasa dari nama ini, ternyata, ditemukan bahwa nama ini berasal dari bahasa Kurdi; "Syamata" (Şamata) yang berarti tanah mengandung garam, dan "Liyrah" yang berarti di sini (Fazel Nizameh Din, Ferhengê Estêre Geşe, 2003). Nama ini dengan demikian bermakna "Di sini, tanah mengandung garam", dan sama sekali tidak menyimpang dari kenyataan alamiah di mana daratan di pesisir timur teluk ini memang merupakan daerah yang dapat menghasilkan garam. Garam, tampaknya, telah menjadi satu di antara sejumlah pertimbangan yang mendorong banyak orang di masa lampau untuk memilih pesisir teluk ini sebagai tempat tinggal dan menetap sampai dengan sebuah kerajaan Islam berdiri dan mengukuhkan nama Syummutrah yang juga berasal dari kata Şamata (tanah mengandung garam).
Syummuthrah atau Syammutrah kemudian berkembang pesat menjadi kota pelabuhan serta pusat da'wah Islam ternama di Asia Tenggara selama di bawah pemerintahan dinasti yang dibangun oleh Sultan Al-Malik Ash-Shalih (wafat 696 H/1297 M). Dinasti ini memerintah sampai dengan permulaan abad ke-10 H (ke-16 M), dan oleh karena keterkenalan kota ini pula, pulau besar paling barat Asia Tenggara dikenal dengan Sumatra.

*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa.
Dikutip dari group Mapesa.
Keuh atau mata uang terbuat dari timah hitam yang diterbitkan oleh Sultan Aceh Darussalam, Jauharul 'Alam Syah, di Teluk Samawi (hari ini: Lhokseumawe). Pada mata uang ini, tercetak dengan huruf Arab (Jawiy) nama "Jauharul 'Alam Syah" pada sisi depan, sementara pada sisi belakang nama tempat dikeluarkan: "Teluk Samawi" serta tahun pengeluarannya pada 1229 Hijriah (1814 Masehi).

* Baca postingan sebelumnya:
Peta Telok Semawe dibuat pada Juni 1880 dengan skala 1: 20.000. 
Sumber: ANftl Aceh No. 40/1894

NISAN ahli Pelayaran/navigator bernama Idapun Ahmad bin Idapun Ahmad.
Pada batu nisan terpahat kalimat-kalimat tauhid dengan kaligrafi yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai bentuk-bentuk kapal/jung yang populer di masa itu. Nisan ini bersama ratusan
nisan-nisan makam bersejarah lainnya berada di Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat.
Sumber: Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH).
Nonton Film Dokumenter: 
Oleh: CentralInformation for Samudra Pasai Heritage (CISAH) diupload melalui saluran Youtube MISYKAH TV.
Teluk Lhokseumawe. Foto by Irfan M. Nur.

Teluk Lhokseumawe. Foto by Irfan M. Nur.

Meriam Tawanan Sri Sultan Perkasa Alam

11:33:00 AM

Di tempat meriam ini berada dewasa ini, di Fort Cornwallis, Pulau Pinang, ia lebih dikenal dengan sebutan Meriam Sri Rambai. Tidak diketahui asal usul penamaan tersebut, tapi yang jelas, meriam ini pada awalnya adalah milik VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau United East Indies Company).


Selain lambang VOC yang ditemukan pada badan meriam ini, pada bagian pangkal larasnya juga terdapat tulisan dengan huruf besar dalam bahasa Latin berbunyi: IAN BERCERUS ME FECIT 1603 (Ian Bercerus made me in 1603), "Ian Bercerus membuatku pada 1603". Tulisan ini dengan terang menginformasikan pembuat dan tahun pembuatannya pada 1603, yakni satu tahun setelah VOC resmi berdiri. Meriam ini, dengan demikian, merupakan meriam Belanda tertua yang ditemukan di Semenanjung Malayu.

Tentang kekuatan angkatan laut Aceh dalam abad ke-11 Hijriah (abad ke-17 Masehi) juga telah disinyalir lewat inskripsi Jawiy (Melayu) yang bertatahkan perak, pada bagian tengah meriam. Inskripsi tersebut berbunyi:
"Tawanan Tuan kita Sri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat tatkala menitahkan Orangkaya-kaya Sri Maharaja akan Panglima dan Orangkaya Laksamana dan Orangkaya Raja Lila Wangsa akan mengamuk ke Johor. 2 Ra' (?) Barrel."

Tulisan tersebut menginformasikan bahwa meriam ini merupakan di antara rampasan perang yang telah diperoleh pada zaman Sri Sultan Perkasa Alam atau Sri Paduka Sultan Iskandar Muda-Rahamtu-Llah 'Alaih. Waktu itu, Orangkaya-kaya Sri Maharaja telah memerintahkan Panglima, Orangkaya Laksamana serta Orangkaya Raja Lila Wangsa-Rahmatu-Llah 'Alaihim-untuk "mengamuk" di Johor.
Sebagian sejarawan Barat mengaitkan informasi ini dengan peristiwa penyerangan Aceh ke Johor pada 1613 Masehi. Penyerangan itu terkait sikap Aceh yang tidak akan pernah mengenal kompromi terhadap musuh besarnya, Portugis di Malaka, begitu pula terhadap seluruh negara yang mengikat apapun bentuk hubungan dengan bangsa penjajah tersebut. Sejarawan meyakini bahwa dalam penyerangan itulah, meriam VOC ini disita oleh Aceh serta dipindahkan bersama sultan dan keluarga kesultanan Johor yang ditawan ke Aceh.
Mengenai permulaan kepemilikan Johor atas meriam ini sebelum penyerangan tersebut, para sejarawan belum dapat memastikannya, tapi C. A. Gibson-Hill (1953), tampaknya, cenderung untuk mengatakan bahwa itu terjadi pada 1605, yakni sekitar 2 tahun setelah pembuatannya, sebagai sebuah hadiah resmi dari VOC kepada Sultan Johor.
C. A. Gibson-Hill (1953) juga mengemukakan bahwa meriam itu masih berada di Aceh sampai dengan Penguasa Aceh memberikannya kepada Sultan Ibrahim dari Selangor pada 1795 guna membantunya dalam sebuah peperangan.
Sultan Ibrahim kemudian menjadikan meriam ini sebagai salah satu senjata pertahanan di benteng Kuala Selangor, dan masih berada di situ sampai tahun 1871. Namun sekitar pertengahan tahun itu, dua kapal Inggris menyerang Kuala Selangor, dan dalam tahun itu pula tidak sedikit senjata telah berada di Kota Cornwallis, termasuk di antaranya Meriam Tawanan Sri Sultan Perkasa Alam atau yang disebut dengan Meriam Sri Rambai.

*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa






Dikutip dari group Mapesa.
Foto: Irfan M Nur.

Lamuri Kota Pelabuhan di Gerbang Maritim Asia Tenggara

10:38:00 PM

Mesti tidak kurang dari 600 tahun yang silam, sebuah kawasan yang hari ini berada dalam wilayah Gampong Lamreh, di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, telah terpilih untuk menjadi kota pelabuhan (bandar) penting di bagian barat laut Aceh.
Dalam waktu yang sama, kota yang menghadap ke Jalur Malaka (Malacca Passage) di laluan pelayaran Dunia itu juga merupakan kediaman para penguasa Muslim yang digelar dengan "malik" (raja) dan sultan. Di sana, mereka telah silih berganti memerintah sampai lebih separuh abad dalam abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi). Kubur-kubur mereka ditemukan di berbagai sisi daerah yang hari ini disebut secara umum dengan Ujoeng Batee Kapai dan Kuta Leuboek.
Penanggalan-penanggalan yang dijumpai pada berbagai nisan kubur yang bernilai seni tinggi di Lamreh dapat saja memberitahukan tentang era puncak kemajuan yang dicapai oleh kota pelabuhan itu di paruh pertama abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi). Keletakannya di tebing tepi laut antara teluk Krueng Raya dan teluk di depan Kuta Leuboek juga dapat menandakan peran kota sebagai sebuah pelabuhan dagang yang sibuk, di samping sebagai pusat pemerintahan untuk mengatur berbagai aktifitas perdagangan maritim di kawasan itu. Berbagai bukti dan indikator yang telah ditemukan sejauh ini dengan terang menunjukkan bahwa Lamuri merupakan sebuah kota pelabuhan di gerbang maritim Asia Tenggara.
Tidak hanya kubur-kubur yang ditemukan di bekas kota tua itu tapi juga berbagai peninggalan sejarah semisal mata uang, tembikar dan berbagai struktur bangunan.
Sebuah konstruksi bangunan kuno yang relatif masih banyak menyisakan bagian-bagiannya adalah bangunan benteng yang dikenal dengan benteng Kuta Leuboek. Benteng ini berlokasi di sebelah timur perbukitan Ujoeng Batee Kapai, di sebuah lembah sempit di mana Krueng Leuboek mengalir menuju teluk di depan Kuta Leuboek.
Konstruksi benteng yang berorientasi barat laut-tenggara dan mengikuti jalur bukit secara jelas menunjukkan bagian yang dilindungi oleh benteng, yaitu area luas di atas bukit di mana lokasi-lokasi kubur para pemerintah Lamuri ditemukan. Ini menjadi sebuah pertanda bahwa benteng itu setidaknya telah ada sejak masa kota pelabuhan itu masih aktif di paruh pertama abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi).
Satu lokasi di antara lokasi-lokasi yang dilindungi dengan benteng tersebut tampak sangat khusus dan sentral di bekas kota lama itu. Di lokasi sentral itu telah ditemukan kubur seorang Sultan Lamuri yang wafat dalam abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi). Ia bernama Muhammad, putera dari Malik 'Alawuddin yang wafat pada 822 Hijriah (1419 Masehi).
Tidak sebagaimana ayahnya yang bergelar sebagai Malik (raja), Muhammad malah bergelar sebagai "Sultan" yang menunjukkan daerah kekuasaannya yang lebih luas serta bala tentaranya yang lebih kuat daripada yang dimiliki oleh seorang Malik (raja).
Untuk sementara ini, dari seluruh inskripsi yang pernah ditemukan pada batu-batu nisan kubur di wilayah Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, hanya inskripsi batu nisan Sultan Muhammad yang memberitakan tentang seseorang yang pertama sekali digelar dengan sultan di kedua wilayah ini.
Sesuai catatan pada nisan kuburnya, Sultan Muhammad bin 'Alawuddin telah wafat pada hari Senin, tanggal 20 Dzul Qa'adah tahun 834 Hijriah (29 Juli 1431), selang sekitar 3 tahun setelah wafat Al-Malikah Nahrasyiyah di Kota Sumatra, yang hari ini berada dalam wilayah administratif Kecamatan Samudera di Kabupaten Aceh Utara.
Nisan Makam Sultan Muhammad bin 'Alauddin
wafat 834 H (1431 M).
Sayangnya, sampai kini, bekas kota pelabuhan yang memiliki sekian banyak peninggalan dan bukti sejarahnya ini masih belum memperoleh perhatian serta perlindungan yang seharusnya sebagai salah satu pusaka Aceh yang tidak ternilai harganya.
*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa
Dikutip dari group Mapesa.

Sultan 'Ali Mughayat Syah

11:19:00 AM
Makam Sultan 'Ali Mugahat Syah wafat 936 H (1530 M).
Situs Makam Baiturijal, gampong Baru kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh.

Sultan ‘Ali Mughayat Syah-Rahimahu-Llah adalah pemimpin Ummah dan pelopor kebangkitan Aceh Darussalam dengan sebenarnya. Setelah menyumbangkan seluruh hidupnya untuk Agama Allah, bangsa dan ummahnya, ia kembali ke Rahmatu-Llah pada malam Ahad 12 Dzulhijjah 936 Hijriah (6 Agustus 1530). Semangat jihad dan cita-citanya kemudian dilanjutkan oleh para pewarisnya sehingga pengaruh Aceh Darussalam di kawasan Asia Tenggara benar-benar nyata sejak masa itu.
***
Oleh karena kepustakaan sejarah Aceh yang menjadi acuan para penulis sejarah dalam abad ke-20 secara umum merupakan laporan-laporan, karangan-karangan serta naskah-naskah manuskrip yang diterbitkan oleh orang-orang Eropa dalam kurun zaman imperialisme bangsa-bangsa Barat di Asia Tenggara, maka sosok pemimpin Ummah dan pahlawan Islam ini adalah di antara tokoh-tokoh sejarah Islam yang tidak memperoleh tempat yang sepatutnya dalam ruang ingatan generasi hari ini, kabur dan terabaikan. Bahkan, berbagai fitnah dan hasutan tampak telah dilancarkan dalam beberapa bentuk karya tulis untuk menjatuhkan citra dan wibawa pemimpin besar ini.
Bagian halaman "Tuhfah al-Mujâhidîn fî Akhbâr al-Burtughâliyyîn”
Karangan Syaikh
Ahmad Zainuddin Asy-Syafi'iy Al-Malibariy (w. 1579)
yang menceritakan tentang kisah heroik Sultan 'Ali al-Asyi.
Namun demikian, sebuah catatan terpercaya bernilai emas tentang pemimpin ini telah ditulis oleh seorang ulama besar Dunia Islam dalam abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi). Ulama tersebut ialah Syaikh Ahmad Zainuddin Asy-Syafi'iy Al-Malibariy (Al-Makhdum Ash-Shaghir) dari Kerala (wilayah di selatan India), murid Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, dan pengarang Fathul Mu'in yang terkenal. Dalam karya sejarah bertajuk Tuhfatul Mujahidin fi Ba'dhi Akhbar Al-Burtukaliyyin (Koleksi Tandon bagi Para Mujahidin tentang Berita Orang-orang Portugis), Syaikh Zainuddin Al-Malibariy yang wafat menulis:
"... Dan mereka (orang-orang Potugis)-semoga Allah mengalahkan mereka-mendatangkan berbagai barang dari negeri-negeri yang jauh. Mereka menjadi ramai dan bertambah banyak di berbagai kawasan. Para penguasa berbagai pelabuhan menuruti kehendak mereka sehingga mereka sepenuhnya memegang tali kendali atas pelabuhan-pelabuhan tersebut. Pelayaran hanya dapat dilakukan dengan jaminan keamanan dari mereka. Perdagangan dan kapal-kapal mereka bertambah banyak, dan sebaliknya, perdagangan Muslimin di luar kapal-kapal dan benteng-benteng yang mereka bangun semakin merosot. Tidak ada seorang pun yang dapat merebut kota-kota pelabuhan itu selain Sultan yang mujahid, 'Ali Al-Asyi (dari Aceh), semoga Allah menerangi kuburnya. Dialah yang telah menaklukkan Sumatra dan menjadikannya sebagai negeri Islam, semoga Allah membalas kebaikannya kepada Muslimin dengan sebaik-baik balasan..."
Sepak terjang pemimpin dan pahlawan Islam ini, dengan demikian, telah terdengar sampai jauh ke Asia Daratan dan telah terekam dengan baik dalam salah satu karya sejarah terpenting dalam abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi).
Keluhuran dan keberanian Sultan 'Ali Mughayat Syah juga dicatat pada nisan makamnya yang berada di kompleks pemakaman Kesultanan Aceh Darussalam, Baitur Rijal, di Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.
Dalam catatan atau inskripsi yang berasal dari abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi) itu, ia juga disebut sebagai Al-Ghaziy fil Barri wal Bahri (yang berperang/penakluk di darat dan di laut, dan Allah memenangkannya). Sebuah catatan yang dengan terang menggambarkan kekuatan militer armada laut Aceh Darussalam pada masa Sultan 'Ali Mughayat Syah.

Nisan kaki Sultan 'Ali Mugahat Syah wafat 936 H (1530 M).
Situs Makam Baiturijal, gampong Baru kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh.

Inskripsi pada nisan makamnya secara lengkap berbunyi:
هذا القبر المغفور المرحوم الراجي إلى رحمة الله المطيع لأوامر الله الغازي في البر والبحر ينصره الله الباذل لعباد الله ألا وهو السلطان علي مغاية شاه سقى الله ثراه وجعل الجنة مأواه توفي ليلة الأحد ثاني عشر من شهر الله الحرام ذي الحجة ختمه الله لنا ولكم بالخير والمنة سنة ست وثلاثين وتسعمائة من الهجرة النبوية المصطفية المكية المدانية الأبطحية منه إليها عليه أفضل الصلوات وأكمل التحيات
Inilah kubur orang yang diampuni lagi dirahmati, seorang yang selalu berharap kepada kasih-sayang Allah, yang tunduk patuh terhadap seluruh perintah Allah, yang berperang di darat dan di laut dan Allah memenangkannya, yang menghabiskan segala daya upayanya bagi [kebaikan] hamba-hamba Allah. Ketahuilah bahwa dialah Sultan ‘Ali Mughayah Syah, semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya dan menjadikan syurga tempat kembalinya. Wafat pada malam Ahad dua belas dari bulan Allah yang haram, Dzulhijjah, semoga Allah menutupnya bagi kami dan Anda dengan kebaikan dan anugerah, tahun sembilan ratus tiga puluh enam sejak hijrah Nabi pilihan, Makkah-Madinah yang luas, dari yang pertama [Makkah] menuju yang kedua [Madinah], ke atas beliau seutama-utama shalawat dan sesempurna-sempurna tahiyyah (salam).”

*) Materi ini dipamerkan di stan Wali Nanggroe pada acara Sail Sabang 2017. Kerjasama Lembaga Wali Nanggroe dengan Pengurus Mapesa
Dikutip dari group Mapesa.
 
Copyright © MAPESA. Blog Templates Designed by OddThemes