Warisan Kebudayaan dari Negeri Pedir

Nisan di komplek Makam Putroe Balee, Sanggeu, Pidie.
(dilihat dari posisi bawah, sisi foto normal)
Foto: 
Khairul Syuhada
SEBENARNYA gambar ini sudah beberapa kali saya siarkan, tapi pada saat melintasinya lagi, saya kembali tertarik untuk memamerkannya.

Kekaguman kepada daya kreatifitas penyeninya membuat saya seolah berdiri di depan sebuah lukisan buah karya seniman ternama. Saya terpukau dan larut dalam suatu kenikmatan yang sukar diberikan nama. Yang terang, saya benar-benar menikmatinya. Tidak saja kenikmatan pandangan, tapi juga kenikmatan pikir, bahkan di atas itu semua adalah kenikmatan kalbu.

Gambar ini, maksud saya, relief kaligrafi Arab yang terdapat pada batu nisan dalam gambar ini, melahirkan sesuatu yang segera menyusup deras ke ruang-ruang penangkapan makna yang saya miliki. Dari ruang-ruang itulah sebuah struktur menawan, yang dibangun oleh indera pengelihatan, akal dan hati, muncul. Dan pada saat itu, saya merasa telah berada dekat dengan sang penyeni besar yang memahat kaligrafi Arab tersebut. Serasa saya berdiri di belakang, di sisi kanannya. Ia tentu tidak menoleh ke arah saya; di mana dia, di mana saya. Dia seorang seniman besar di zamannya, di abad ke-10 H/ke-16 M!

Indera pengelihatan saya mustahil dapat melewati begitu saja karya kaligrafi seperti ini. Mata seketika tertawan pada pandangan pertama. Ia tidak mungkin menolak kenikmatan semewah ini. Ia jadi bergairah. 

Segera kemudian, akal terbangun untuk mengikuti berbagai gerak yang dipertontonkan sang seniman; begitu gemulai, anggun, elegan dan tinggi! Tapi juga demikian kokoh, tegas dan berwibawa. Tidak ada gerak yang dibuatnya dengan keragu-raguan. Ia seperti menombak tepat pada sasarannya.


Komplek Makam Putroe Balee, Sanggeu, Pidie.
(dilihat dari posisi bawah, sisi foto normal)
Foto: 
Khairul Syuhada
Atraksi sang seniman diikuti oleh akal dengan sangat bergairah, bahkan ketika atraksi itu selesai ia meminta untuk diulang. Bekali-kali. Malah, sesudah ia tidak lagi berada di depan panggung pertunjukan, ia segera memutar rekamannya. Berkali-kali pula. Enggan melepaskan kenikmatan pikir semewah itu, sekaligus gemas hendak menemukan sebuah pandangan falsafi dari alam pikir abad ke-10 H/ke-16 M.

Dalam pada itu semua hati menemukan semangatnya. Ia menyala dan benar-benar menikmati sebuah kehidupan yang sepenuhnya merdeka dari fisik. Tapi saat itu ia mulai menyadari sebuah keganjilan sebab nyala itu tidak membakar dan melemparnya ke dunia hewani. Nyala itu justru menyejukkannya. Malah, mengangkatnya ke alam yang barangkali itulah alam yang disebut dengan alam ruhani di mana kalbu bersuka ria. Ini tidak lain adalah karena kaligrafi indah itu diperuntukkan untuk kalimat bercahaya, kalimat Tauhid: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan-Nya.


Nisan di komplek Makam Putroe Balee, Sanggeu, Pidie.
(dilihat dari posisi bawah, sisi foto normal)
Foto: 
Khairul Syuhada

Nisan di komplek Makam Putroe Balee, Sanggeu, Pidie.
(dilihat dari posisi atas)
Foto: 
Khairul Syuhada

Kalimat yang paling menerangi dan telah membawa kebaikan bagi seru sekalian alam.
Karya seni kaligrafi ini dipersembahkan untuk almarhum yang dimakamkan di Gampong Sanggeu, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie (Kompleks makam Putroe Balee), dalam abad ke-10 H/ke-16 M.

Kaligrafi kalimat Tauhid ini dipahat dengan khath Tsuluts. Anda melihat bahwa kaligrafi ini diberi hiasan (zakhrafah) di atas dan di sela-sela huruf-hurufnya, namun hakikatnya tidak sepenuhnya demikian. Apa yang Anda lihat sebagai hiasan di atas dan di sela-sela huruf-huruf yang membentuk kalimat Tauhid itu sebenarnya adalah huruf-huruf yang juga membentuk baris kalimat Tauhid. Dua baris kalimat Tauhid itu dibentuk berhadap-hadapan (tazhahur; simetri). Dengan demikian, Anda dapat membaca kalimat Tauhid dari dua posisi: atas dan bawah. Inilah keunikan utama dari kaligrafi pada nisan almarhum tersebut, dan inilah salah satu warisan kebudayaan dari Negeri Pedir di zaman kebesarannya.

Oleh: Musafir Zaman
(Dikutip dari akun facebook Musafir Zaman di GroupFacebook)


Posting Komentar

0 Komentar