Menanti Al-Ghuri


Makam Sultan Syihabuddin Muhammad Al-Guri di Jehlum, Punjab, Pakistan
Sumber: www.cssforum.com
Abul Muzhaffar..

Kini ingatan kembali pulang padamu
Dalam pedih rindu penantian
berharap engkau hadir kembali, wahai Pejuang
Engkaulah bola api yang menghancurkan pongah kedengkian
Islam tinggi di seluruh daratan
adalah tekadmu di siang dan malam
Dan engkau telah mewujudkannya dengan penuh ketabahan

Wahai Syihabuddin..
Kini, saat mata terpejam, aku slalu melihat bala tentaramu
Derap yang penuh kekuatan dan ketangguhan
Satu per satu kandang kekufuran dan kelaliman kaurobohkan
Berhala-berhala perbudakan dan kebodohan kauratakan
Kauambil batu-batunya untuk membina menara tauhid dan keluhuran


Engkaulah yang suatu kali telah mengatakan:
"Tahukah Anda, sejak aku dikalahkan oleh kafir itu, aku tidak pernah tidur dengan istriku dan tidak pernah menanggalkan kain putih kafanku ini. Sekarang, aku akan menghadapi musuhku dengan hanya bertumpu kepada Allah semata-mata, tidak kepada orang-orang Ghuri atau lainnya. Apabila Allah menolongku dan memenangkan Agama-Nya maka itu adalah atas rahmat dan kemurahan-Nya. Dan jika aku kalah, maka jangan pernah mencari mayatku. Aku tidak kalah sekalipun aku tewas di bawah kaki kuda."

Wahai Muhammad bin Sam..
Kini, saat pandangan menerawang, terkenang pula panglimamu
Atas perintahmu Ibnu Bakhtiar Al-Khalji mara ke timur India
Bersamanya Tauhid dan pembebasan
Bersamanya rahmat dan keadilan
Patung-patung Budha dan lambang kejahilan jatuh tak berkutik
Benteng kekufuran, paling kuat sekalipun, tiada daya di depannya
Panji-panji Islam pun tegak dan kibarannya memancarkan cahaya

Wahai Mujahid Agung..
Dalam panas air mata kenangan kini hati bertanya
Akan bagaimanakah perasaanmu jika menyaksikan ini masa
Akan bagaimanakah engkau jika melihat
benda-benda yang pernah kauhancurkan tlah bangkit semula
dengan roh jahat yang berdagu jumawa?
Sungguh engkau takkan pernah tenang, wahai Sultan
Sungguh engkau 'kan kembali memakai kain kafanmu, wahai Raja
Dan sungguh hati ini jadi teraduk pilu dan rindu padamu, wahai Pembela
 Oleh:  Meugat Seukandar