Full width home advertisement

Meuseuraya

Nisan Aceh

Video

Numismatik

Manuskrip

Poster Sejarah

Post Page Advertisement [Top]

Pohon Geulumpang (Kohlerboom), di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Gambar: Kitlv. 1889

Salam Perpisahan
namaku geulumpang
dari generasi delapan puluhan
lama sudah aku bertugas di sini
menjadi penanda atas sebuah peristiwa
yang bukan sembarang kejadian
menjadi penyimpan sebuah legenda
yang bukan main agungnya
legenda kepahlawanan yang langka tandingan
riwayat perlawanan yang jarang bandingan
kisah bangsa yang teguh memegang janjinya:
menang atau mati di jalan-Nya

aku geulumpang
dari generasi delapan puluhan
saat aku terpilih memangku tugas
sungguh sangat bangga diriku karenanya
seakan lencana kehormatan tersemat di dada
di tempatku bertugas menyimpan kenangan
kedamaian langit tak pernah henti tercurahkan
turun bersama lantunan ayat-ayat suci-Nya
bersama panggilan menuju kemenangan
bersama gerak dan ucap.. 
yang beriba-iba memohon keridhaan
bukankah aku berada di dekat Rumah Yang Maha Penyayang
maka sungguh sempurnalah bagiku nikmat Tuhan
aku geulumpang 
dari generasi delapan puluhan
dalam rentang waktu 'ku bertugas menyimpan kenangan
aku telah menemani mereka yang datang dari seluruh penjuru
mereka menunjuk ke arahku tatkala bicara peristiwa kemenangan
kanak-kanak memelukku sambil memejamkan mata membayangkan:
abu chik-abu chik mereka yang gagah berani.. 
berdiri menghunus pedang
siap sedia membela Islam dan wathan
sejurus kemudian aku seakan membelai kepala mereka
ke telinga mereka seolah-olah kubisikkan:
wahai putra-putra pahlawan, simpan kenangan ini untukmu
jangan pernah lepaskan
kakekku mengenal abu chik-abu chik kalian
mujahidin sepanjang zaman
berdirilah tegak seperti sikapku ini
kokoh takkan terpatahkan
aku geulumpang
dari generasi delapan puluhan
kini yang terjadi sama sekali tak pernah kuperkirakan
aku 'tlah diberhentikan tanpa sempat ucap salam perpisahan
'tlah usai waktuku untuk menemani
'tlah tiba waktuku untuk pergi
apalah aku di zaman yang sudah berganti
apalah aku di era pikir tak lagi bermata hati
tapi tetap saja 'kan kupesankan kepadamu, putra pahlawan
simpan kenangan ini dalam-dalam
biarkanlah ia menyirami benih yang 'tlah disemai pendahulu
untukmu putra pahlawan kagumku selalu
segala puji bagi Tuhan..
Yang 'tlah memberiku waktu untuk bersamamu
dan saatnya kini kuucapkan salam perpisahan
 
 
Lhokseumawe, 20 November 2015

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib