Mapesa Temukan Makam Majlis Khan



"Dalam arsip itu, Nazhir Majlis Khan disebut di antara sederetan nama tokoh yang menyaksikan pembayaran bea cukai kapal Denmark itu. Nama-nama tokoh lainnya yang ikut dicantumkan dalam dokumen adalah Syahbandar Mu'tabar Khan, Penghulu Kerukun Raja Setia Muda, Syahbandar Rama Setia, Syahbandar Mu'izzul Muluk, Penghulu Kerukun Sri Purba Khan, Nazhir Mujahid Khan, Nazhir Maharaja Indra Dewa, Nazhir Maharaja Purba, Dallal Tun Ratna Daraj (Diraja?) dan Dallal Muhurud Daraj (Diraja?)."

Untuk Sebuah Nama
 Nisan Majlis Khan.
Rekonstruksi sejarah Aceh serta penulisan ulang sejarahnya adalah suatu kerja yang serius. Tahapan yang dilalui sangat berliku, berat dan rumit, sehingga menuntut ketekunan dan kesabaran yang tidak tanggung-tanggung. Kerja tersebut tidak akan mampu dipikul jika tujuan yang diinginkan adalah popularitas individual atau lembaga, dan atau berbagai keuntungan materiil. Kerja itu mestilah dilatarbelakangi keyakinan yang kuat dan cita-cita luhur demi meluruskan garis perjalanan kehidupan bangsa di masa depan.
Tahapan yang paling penting dan amat menentukan, antara lain, ialah tahapan pengumpulan data-data sejarah dari berbagai sumbernya yang autentik. Dalam tahapan ini, kerja membutuhkan tekad, kesungguhan dan kerja sama yang kukuh. Pencarian dan penjaringan apapun informasi terkait sumber-sumber yang dapat memberikan data-data sejarah mesti dilakukan tanpa henti.
Makam-makam peninggalan sejarah Aceh beserta batu-batu nisannya yang bersurat merupakan salah satu sumber pokok yang dapat menghidangkan berbagai informasi dan data sejarah. Namun untuk dapat memanfaatkan sumber ini, sejumlah kerja yang berhubungan erat dengan penelitian, penyelamatan dan pelestarian mesti terlebih dahulu dilakukan.
Kumpulan nisan dari Pango Raya yang diselamatkan ke sekretariat Mapesa di gampong Bitai Banda Aceh
Sejak beberapa tahun lalu sampai dengan waktu ini, Mapesa dan CISAH, sebagai dua lembaga yang saya percaya mewadahi gagasan "Pengetahuan Sejarah: Dari masyarakat, dan untuk Masyarakat", telah menitikberatkan seluruh perhatian dan kerjanya pada penelitian, perlindungan serta pelestarian berbagai warisan sejarah Aceh, terutama sekali batu nisan dan naskah. Dan karena itu, perkembangan informasi sejarah, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, mulai dirasakan lebih meningkat dan meluas.
Satu di antara temuan terbaru Mapesa beberapa hari yang lalu adalah sebuah nama. Nama itu dijumpai terpahat pada satu batu nisan dari kumpulan batu nisan yang "terusir" dari konteksnya, yang sekarang sudah menjadi badan jalan utama menghubungkan Pango Raya dan Lampineung di Kota Banda Aceh.
هذا نسان مجليس خان "Inilah Nisan Majlis Khan."
Pada batu nisan tersebut bertulis kalimat yang nampaknya bukan saja untuk memberitahukan tapi juga seperti bernada memperingatkan. "Ini Nisan Majlis Khan," demikian bunyi kalimat tersebut tanpa menambah sesuatu yang lain.

Majlis Khan adalah nama yang terdengar ganjil untuk nama seseorang. Saya sendiri bahkan hampir saja meragukan bacaan nama tersebut, apalagi dengan adanya huruf ya' di depan huruf lam pada kata "majlis" sehingga sempat terbetik untuk mengusulkan bacaan "Mihlis Khan". Namun kemudian, sebuah arsip Aceh yang tersimpan di Copenhagen, Denmark, menjadi pendukung bahwa Majlis Khan adalah sebuah nama; boleh jadi nama kepangkatan atau kehormatan bagi seseorang yang menduduki jabatan penting dalam kerajaan. Gambar arsip itu berikut transliterasinya telah disiarkan dalam sebuah booklet yang diterbitkan Museum Negeri Aceh pada 2007--terima kasih kepada Ananda Masykur Syafruddin yang lewat perantaraannya saya memperoleh booklet tersebut.
Dalam Lisanul 'Arab, kata "majlis" juga bermakna "ahlul majlis": peserta majlis. Sedangkan kata "khan" dalam bahasa Persia berarti raja. Majlis Khan, secara harfiah, berarti: raja atau ketua majlis. Tapi terkadang, kata majlis juga digunakan sebagai gelar raja dalam surat-menyurat.
Dari sisi seni rupa, batu nisan yang dibuat untuk tokoh bernama Majlis Khan ini memang terkesan istimewa dan menandakan seorang tokoh puncak dalam kerajaan. Batu nisan, yang dari tipologinya dikenal berasal dari masa Aceh Darussalam abad ke-17 M--ke-19 M, dilengkapi dengan ragam hias yang indah.
Arsip Aceh yang tersimpan di Copenhagen,, Denmark. (Sumber: Museum Negeri Aceh)

Arsip Aceh yang tersimpan di Copenhagen dan bertarikh 1147 H (1734 M) merupakan tanda bukti pembayaran 'usyur (sepersepuluh; bea cukai) muatan sebuah kapal asal Denmark di Bandar Aceh Darussalam.
Dalam arsip itu, Nazhir Majlis Khan disebut di antara sederetan nama tokoh yang menyaksikan pembayaran bea cukai kapal Denmark itu. Nama-nama tokoh lainnya yang ikut dicantumkan dalam dokumen adalah Syahbandar Mu'tabar Khan, Penghulu Kerukun Raja Setia Muda, Syahbandar Rama Setia, Syahbandar Mu'izzul Muluk, Penghulu Kerukun Sri Purba Khan, Nazhir Mujahid Khan, Nazhir Maharaja Indra Dewa, Nazhir Maharaja Purba, Dallal Tun Ratna Daraj (Diraja?) dan Dallal Muhurud Daraj (Diraja?).
Nazhir, menurut Mu'jam Al-Alfazh At-Tarikhiyyah fi Al-'Ashr Al-Mamlukiy, adalah orang yang menangani berbagai urusan menyangkut harta kekayaan serta mengawasi pembelanjaannya. Ia juga bertugas menerima setiap laporan keuangan dan memeriksanya dengan teliti untuk selanjutnya menyetujui atau menolak laporan tersebut.
Nazhir dengan demikian semakna dengan istilah bendahara. Maka, Nazhir Majlis Khan yang dimaksud dalam arsip tersebut kiranya adalah bendahara dari pihak Majlis Khan.
Kumpulan nisan dari Pango Raya
Apakah Majlis Khan yang dimaksud dalam arsip adalah sosok Majlis Khan yang ditemukan namanya pada batu nisan? Hal ini tentu belum dapat diketahui secara pasti sebab pada batu nisan tidak dijumpai apapun penanggalan, tapi dari sisi tipologi batu nisan, dapat saja dikatakan bahwa Majlis Khan yang wafat dan dimakamkan di bilangan Gampong Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, itu telah hidup dalam masa di mana arsip tersebut dibuat (1147 H/1734 M).
Adapun tentang arsip tanda bukti pembayaran 'usyur (bea cukai) di pelabuhan Bandar Aceh Darussalam yang tersimpan di Copenhagen akan diulas nantinya dalam satu tulisan lain yang khusus, menimbang kepentingannya bagi sejarah pelabuhan Bandar Aceh Darussalam yang terkenal di dunia pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.
Adapun tentang Majlis Khan, seberapa pun penting dan berjasanya tokoh ini di masa hidupnya, maka jasad atau bekas tanah di mana jasadnya pernah dibaringkan, sekarang, sudah berada di bawah badan jalan yang dilintasi manusia dari segala jenis dan warna, sedangkan batu nisan makamnya bersama sejumlah batu nisan lain telah dipindahkan untuk sementara waktu ke sekretariat sementara Mapesa di Bitai supaya nantinya tetap dapat disaksikan oleh generasi mendatang.
Bitai, 26 Rajab 1437 H.

Oleh: Musafir Zaman.

Post a Comment

0 Comments