Full width home advertisement

Meuseuraya

Nisan Aceh

Video

Numismatik

Manuskrip

Poster Sejarah

Post Page Advertisement [Top]



"Meutulang bareih..."
Temuan baru.
Sekalipun dari sisi bahasa dan penulisan, kalimat yang dicungkil pada batu nisan ini memiliki kekurangan, dan itu dapat dimaklumi, namun dengan terang dan tanpa ragu dapat dimengerti bahwa si pembuatnya ingin memberitahukan tentang siapa yang dikuburkan.
Sebuah informasi baru lalu muncul dari cungkilan di batu nisan ini; ternyata di Bandar Sumatra atau pelabuhan Teluk Samawi, syahbandar juga disebut dengan khanbandar. Syah dan khan adalah dua kata dengan makna yang sama: raja, amir, pemilik, penguasa, dan saat disambungkan dengan kata "bandar", alif di depan syin pada "syah" dan di depan kha' pada "khan" sama-sama dihilangkan,
شهبندر / خنبندر
Dan cungkilan ini hendak membunyikan:
اسم صاحبها خنبندر
"Nama (panggilan) pemiliknya (dhamir di sini, barangkali, ingin dikembalikan kepada kata "ar-raudhah" yang juga lazim disebut untuk kubur): Khanbandar."
Selamat untuk CISAH dan PELISA. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memudahkan.
Komplek makam Khanbandar era kesultanan Sumatra (Samudra Pasai)
Gampong Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe
Tim Cisah dan Pelisa berpoto bersama seusai meuseuraya pembersihan dan penataan komplek makam Khanbandar di  Gampong Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe Ahad, 2 September 2018


Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib