Masjid Raya (Jantung Bandar dalam Ingatan)

Tentara KNIL di sisi timur Masjid Raya, ketika ekspedisi kedua, tahun 1874.
Sumber foto: KITLV,

Pada 10 April 1873 (11 Shafar 1290), sekitar jam dua siang, bangunan Masjid kayu yang besar itu terbakar setelah pertempuran sengit antara angkatan perang Aceh dan Belanda. Suatu hari yang berat dalam cuaca bersuhu 100 F (37.778°C).

Kemahiran angkatan perang Aceh menggunakan kelewang ditambah kelincahan, kecepatan dan fleksibilitas yang besar meletakkan angkatan perang Belanda pada posisi pihak yang lebih banyak menerima pukulan daripada yang dibagikannya.

Granat-granat yang dilemparkan Belanda ke dalam areal Masjid tidak berhasil meredakan tembakan pihak Aceh dari tiga sisi lain setelah bangunan Masjid terbakar. Sebelum jam 6, Belanda harus membenahi jalan untuk mundur. Di bawah teriakan laskar Aceh yang terus menurus mengambil tempat perlindungan, Belanda tidak lagi menemukan posisi yang mungkin untuk dipertahankan.

Selang empat hari kemudian, Belanda melakukan penyerangan kedua terhadap Masjid Raya. Jenderal Kohler pergi ke sisi timur untuk memeriksa keadaan, namun peluru senapan kemudian mengoyak dadanya dekat lengan kiri atas, menembus paru-paru, dan meskipun petugas medis segera hadir, Jenderal itu tewas segera setelah tertembak. Usianya baru 55 tahun. Seorang pejuang Aceh yang diposisikan dalam parit di seberang sungai telah memberikan skor kemenangan bagi angkatan perang Aceh dalam mempertahankan Masjid dan negerinya.

Prajurit KNIL di sisi barat benteng Masjid Raya saat ekspedisi kedua, tahun 1874.
Sumber Foto: KITLV

Bangunan Masjid dikelilingi sawah dan ladang tebu yang disela-sela oleh kebun, permukiman dan beberapa kompleks kuburan kesultanan Aceh masa lampau. Struktur Masjid dibangun empat persegi dengan dinding luar berupa tembok keras yang dibuat dengan semen yang kokoh. Tinggi tembok 2,50 M, tebal 0,65 M, dan panjang rata-rata 1,50 M. Medan di dalam tembok-tembok ini ditinggikan dan dibentuk seakan-akan benteng-benteng kecil, tempat di mana orang bisa melihat dan menembak. Di tengah, area tinggi di antara dinding-dinding ditutupi dengan batu-batu yang memikul bangunan Masjid yang terbuat dari kayu. Bagian atasnya ditutupi dengan dua atap yang meruncing. Interior Masjid yang luas dapat menampung 2000 orang.


Denah Masjid Lama

a & b : dinding (tembok) keliling
c : area tinggi berlantai (tinggi 1 meter)
d : Masjid (bangunan)
e : tempat bersuci
f : sumur
g : pohon

Vervallen gedeelte: bagian yang runtuh.

Sumber: F. J. Van Uildriks, Beelden uit Nederlandsch Indie, Haarlem, H. D. Tjeenk Willink, 1893, h. 104-109.

Dinarasikan kembali oleh Mapesa.

Post a Comment

0 Comments