CISAH Temukan Nisan Kakek Sultan 'Ali Mughayat Syah

Nama Lamuri yang disebut pada batu nisan di Pante Raja, Pidie Jaya (kanan),
dan Lamuri dalam sebuah karya geografi ditulis Burzuk Syahriar
Ar-Rahmhurmudziy, pada abad ke-5 H. (foto: Dok. CISAH)

PIDIE JAYA-Tim Center for Information of Sumatra-Pasai Heritage (CISAH) menemukan makam Sultan Munawwar Syah di Gampong Meunasah Hagu, Kecamatan Pante Raja, Kabupaten Pidie Jaya pada sabtu (16/11/2013).

"Sultan Munawwar Syah adalah kakek dari Sultan 'Ali Mughayat Syah, pelopor kebangkitan Kerajaan Aceh Darussalam di awal abad ke-16 Masehi," kata Sukarna Putra, Wakil Ketua Cisah kepada Misykah.com, Minggu (17/11/2013).

Penemuan makam Sultan Munawwar Syah ini, kata Sukarna Putra, berawal dari informasi dari buku "Tawarikh Aceh dan Nusantara" yang ditulis oleh H.M. Zainuddin pada dekade 60-an abad ke-20 M. "Tim CISAH berusaha menelusuri kembali kebenaran informasi itu," katanya.

Dan akhirnya sekitar pukul 15.30 WIB, kemarin (Sabtu), setelah menaiki bukit terjal yang disebut dengan buket Tu di Gampong Meunasah Hagu, kami Tiba di sebuah kompleks pemakaman kuno," Ujar Sukarna Putra.

Kompleks makam itu dikenal masyarakat setempat dengan Jirat Teungku Meurhom. "Jirat (makam) ini dulunya sering diziarahi untuk melepaskan nazar atau hajatan lainnya," tutur Ilyas, 35 tahun, warga setempat. "Tapi sekarang sudah agak jarang yang melepaskan nazar di sini," kata dia lagi.

Batu nisan penanda kubur Sultan Munawwar Syah bin Sultan Muhammad Syah Lamuri
di Gampong Meunasah Hagu, Kecamatan Pante Raja, Kabupaten Pidie Jaya
Foto: Khairul Syuhada

Berdasarkan pengamatan Tim CISAH, kata Sukarna Putra, pada nisan makam sebelah selatan atau kaki, baik sisi depan maupun belakangnya, terdapat tulisan yang secara terang menyebutkan bahwa Sultan Munawwar Syah adalah putra dari Sultan Muhammad Syah Lamuriy.

Dari data sejarah yang pernah dihimpun CISAH di kawasan situs sejarah Lamreh dan Kuta Leubok, Sultan Muhammad Syah berpusara di lokasi situs pemakaman Kuta Leubok, Aceh Besar, setelah wafatnya pada 908 H," ujarnya.

Menurut peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, temuan tersebut memastikan bahwa kawasan situs Lamreh dan Kuta Leubok merupakan kota tinggalan sejarah Kerajaan Lamuri yang pernah disebut dalam prasasti Tamil peninggalan Kerajaan Chola di India Selatan (1000-2000 M) dan laporan-laporan Arab-Persia.

Penyebutan "Lamuriy" pada epitaf nisan tersebut, kata Taqiyuddin Muhammad, sejauh ini merupakan satu-satunya dan adalah kali pertama ditemukan di Aceh. "di samping telah menyingkap suatu kenyataan sejarah yang baru bahwa indatu pada penguasa Aceh dalam mada abad ke-16 adalah Sultan Muhammad Syah yang dimakamkan di Kuta Leubok, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar," ujarnya.(SYD)

Sumber: CISAH

Post a Comment

0 Comments