Dirham Sultan 'Alawuddin Ri'ayat Syah di Situs Gampong Pande Banda Aceh

Warga Gampong Pande, Banda Aceh,
Memperlihatkan salah satu dirham yang
ditemukan di lokasi situs. (Foto: misykah.com)

BANDA ACEH - Salah satu mata uang emas (dirham) yang ditemukan di lokasi  situs Gampong Pande, Senin (11/11/2013), tercetak nama seorang sultan besar dalam sejarah Aceh. Pada sebelah muka dirham tersebut tertulis: 'Alawuddin bin 'Ali Malik Azh-Zhahir dan bagian belakangnya: As-Sulthan Al-'Adil.

Dirham itu diperlihatkan seorang warga Pande, Heri Wijaya, kepada peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad dan Misykah.com, Kamis (14/11/2013).

Sultan 'Alawuddin adalah putra Sultan 'Ali Mughayat Syah yang dianggap sebagai pelopor kebangkitan Kerajaan Aceh Darussalam di awal abad ke16 Masehi. "Sesuai data inskripsi yang berhasil diungkap dari nisan makam Sultan 'Alwuddin yang berada di kompleks makam Kandang XII, Banda Aceh, menunjukkan bahwa ia adalah seorang sultan agung di kawasan Asia Tenggara dalam abad tersebut," ujar Taqiyuddin.

Tertulis pada nisan makam Sultan 'Alawuddin, antara lain: "Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni berketurunan terhorman dan terkenal; seorang yang utama dan masyhur, yang selalu berharap kepada rahmat Allah Yang Maha Memiliki lagi Maha Pengampun; sultannya para sultan di setiap masa, yang ia seorang mujahid di jalan Tuhan sekalian alam, pemberantas orang-orang yang kafir dan musyrik dan pecinta orang-orang miskin dan fakir."

Dari catatan konkrit ini, kata Taqiyuddin, diketahui bahwa Almarhum merupakan seorang sultan yang besar dan sangat berkuasa. Hal ini dipertegas dengan pernyataan bahwa dia adalah seorang mujahid (ghaziy) di jalan Allah dan penakluk orang-orang kafir dan musyrik. Namun demikian, ia juga seorang yang menyayangi kaum lemah.

Makam Sultan 'Alauddin Ri'ayat Syah berdampingan dengan makam ayahnya Sultan 'Ali Mughayat Syah
di kompleks Kandang XII Banda Aceh. (Foto: Mizuar Mahdi)

"Begitulah seorang sultan dalam sejarah Islam, yang dengan kehadiran dan peran-perannya telah memperkuat dan semakin mengakarkan Islam dalam kehidupan rakyatnya. Sultan ini wafat pada hari Jum'at setelah subuh tanggal 8 Jumadil Awal 979 Hijriah (27 September 1571 Masehi)," ujar ahli epigrafi ini.

Gelar "Malik Azh-Zhahir" yang dicantumkan setelah nama 'Alawuddin bin 'Ali pada dirham tersebut, kata Taqiyuddin, juga menujukkan bahwa dalam aspek-aspek tertentu, para penguasa Aceh Darussalam kala itu masih mempertahankan tradisi yang berlaku di zaman Sumatra Pasai.(syah)

Sumber: CISAH

Post a Comment

0 Comments