Menyambut Mentari Pagi Bersama Sang Sultan

Kompleks Makam Jirat Tgk Meureuhom
Gp. Meunasah Hagu, kec. Pante Raja, kab. Pidie Jaya

Bermodalkan informasi yang dipublikasi oleh tim CISAH (Central for Information SamudraPasai Heritage) dan sedikit kabar dari masyarakat setempat. Pagi yang cerah ini (13/6), Saya seorang diri mencoba menelusuri lokasi makam Sultan Munawar Syah, seorang Sultan anak dari penguasa Lamuri Sultan Muhammad Syah. Juga kakek daripada Sultan Ali Mughayyat Syah; Sultan yang mampu mengusir Portugis dan mempersatukan seluruh wilayah dalam sebuah kerajaan besar yang dinamai dengan Aceh Darussalam.

Bukit yang terjal dengan semak belukar tak menyurutkan hati saya untuk menghadap yang Mulia sekedar menjenguk dan menghadiahkan Al Fatihah atas jasa dan kegigihannya dalam mempertahankan negeri dari rongrongan kafir Portugis.

Kedua sisi nisan Sultan Munawar Syah yang memuat Epitaf

Nun jauh dari wilayah kekuasaannya sekitar Aceh Besar kini, ia menyusun strategi dan berperang hingga ajal menjemput dan dimakamkan di atas bukit Gampong Hagu, Pante Raja (sekarang masuk dalam wilayah administratif kabupaten Pidie Jaya). Dimana masyarakat setempat menyebutnya "Jirat Tgk Meureuhom".

Longlongan anjing hingga salah arah membuat petualangan saya pagi ini menjadi kesan tersendiri.

Bukit yang terjal dengan semak belukar mengharuskan saya mencari keberadaan makam beliau dengan informasi yang kurang.

Pohon jati dan pokok bambu adalah dua kunci utama bagi saya dalam ekspedisi ekstrem ini. Sekitar 15 menit berputar-putar di atas bukit, akhirnya saya berhasil menemukan pokok bambu yang disekelilingi banyak pohon jati.

Tak jauh dari pokok bambu, hanya sekitar 120 m. Di bawah pohon jati, akhirnya saya menemukan tempat sang Sultan beristirahat.

Sang Sultan yang telah dilupakan oleh anak negeri ini tidak sendirian, ia ditemani oleh dua orang lainnya.

Terlihat ada 3 makam. Dimana satu makam yang terletak ditengah-tengah terlihat batu nisannya telah patah dan tiada informasi dan tulisan apapun. Satu nisan lagi terlihat ada tulisan. Terkilas terbaca "Hadza qabru.. inilah qubur.."

Salah satu nisan type yang terlihat kata Hadzal Qabru
Sisi yang memuat epitaf

Untuk makam Sultan sendiri penuh dengan tulisan. Dimana informasinya telah lama dipublikasikan oleh tim CISAH setelah berhasil dibacakan oleh ahli epigrafi Islam lulusan Al Azhar Kairo, Mesir; Ustad. Taqiyuddin Muhammad, Lc.

 Bermodalkan kata kunci "Sultan Munawar Syah Pante Raja" akan kita temui tentang informasi Sultan yang mana keturunannya berhasil menjadikan Aceh sebagai kekuatan politik yang kuat di kawasan Asia Tenggara.


Laporan Muhajir ibnu Marzuki

Nisan kepala dan kaki milik Sultan Munawar Syah bin Sultan Muhammad Syah Lamuri

Post a Comment

0 Comments