Janji Laksamana

Janji Laksamana

Pedang-pedang musuh mendadak mengepung batang lehernya dari seluruh arah. Satu ujung pedang yang lain tepat mengarah ke tengah dadanya. Seketika itu gerakannya terhenti. Perlahan ia menoleh ke sekitarnya.

Dentuman dan bunyi aduan senjata yang tadinya menyala menjilat lapis langit kini telah mereda. Kobaran pekik, sekarang, tergantikan oleh suara angin yang mengibas kain-kain layar yang telah koyak moyak.

Di atas permukaan laut, mengapung hamburan pecahan kayu dan mayat-mayat bersama kepul asap yang masih tersisa.

Ia menghela nafas dan menundukkan kepala. Tapi itu hanya sejenak sebelum ia kembali tegak menatap wajah musuhnya untuk memastikan bahwa suatu hal yang harus segera mereka tahu, sesungguhnya tidak ada rasa gentar di dalam sana. Justru sebaliknya, sesuatu yang sudah sekian lama ia tunggu-tunggu, sekarang, telah tiba. Seperti ada senyum yang terbatinkan di balik wajah yang sama sekali tidak kuyu ketika suara terangnya mengumandangkan kebanggaan yang teraduk dengan kegembiraan:

“Ini Laksamana, ditaklukkan untuk pertama kalinya!”

P. J. Veth dalam Atchin en zijne betrekkingen tot Nederland (1873: 74) menyebutkan bahwa di akhir pertempuran laut Aceh lawan Portugis pada 1628 itu, Laksamana ditawan, dipenjara lalu dikirim ke Portugal.

“Tetapi,” kata Veth, “kematian Laksamana membuat rakyat Lisbon tidak senang melihat dia dalam kemenangan!”

Ternyata, suka cita atas kemenangannya itu, atas keberhasilannya memperoleh kesyahidan, sama sekali tidak dapat disembunyikan di depan khalayak Lisbon. Tampaknya memang tidak ada seorang Mu’min pun yang akan mampu menutupi perasaan suka cita atas kesyahidan yang membanggakan, “wa lau karihal kafirun” (sekalipun orang-orang kafir membencinya)!

Sekarang, terlintas pula dalam benak akan bagaimanakah kegembiraan Laksamana jelang memperoleh kemenangannya itu di kota yang pada suatu masa yang lalu pernah dihuni oleh Muslimin; sebuah kota di Semenanjung Iberia yang telah dibuka oleh Panglima Besar Islam Thariq bin Ziyad pada 714 M, dan dinamai dengan Lisybunah?! Adakah semangatnya ketika itu telah membumbung tinggi dan pergi menyatu dengan kebesaran Islam dan sejarah umatnya?!

Bagaimanapun itu, yang pasti, Laksamana telah memenuhi janjinya.

Al-Ahzab, 23:

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).”

Lambaroe, Muharram 1441.

Oleh: Musafir Zaman
Dikutip dari group facebook Mapesa

Posting Komentar

0 Komentar