Mutiara Hikmah dari Bandar Lamuri

Menyaksikan siaran langsung yang ditayangkan Tuan Arhas Pirada

Di satu sisi, tayanglah pula kembali harapan-harapan yang selalu menggerogoti kesehatan mental!.
Bertahun-tahun sejak kawasan situs sejarah Lamuri populer dan telah dikunjungi pihak-pihak bertanggung jawab, namun kawasan itu sampai kini masih belum mudah dan nyaman untuk dikunjungi, dan belum pula dipresentasikan sebagaimana layaknya sebuah kawasan bersejarah. Gejala "mati rasa" terhadap lembaran hidup bangsa di masa lampau ternyata memang sudah sampai ke tingkat paling serius!
Di sisi yang lain, kegiatan kunjungan siswa-siswa ke kawasan tersebut dengan harus melewati semak-semak berduri dan lapangan yang sama sekali tidak memberikan rasa nyaman, sebagaimana disaksikan dalam tayangan, adalah sesuatu yang dapat membangkitkan harapan bahwa suatu hari nanti, keadaan tentu akan berubah kepada yang lebih baik!
Kepada siswa-siswi yang berkunjung ke kawasan situs Lamuri, saya ingin mengatakan bahwa Ananda semua disambut dengan hangat di tanah para leluhur telah disemayamkan sejak ratusan tahun yang lalu. Perhatikanlah ungkapan yang terpahat pada salah satu batu nisan di sana, yang tidak tentang kematian, apalagi tangisan dan ratapan, tapi tentangmu Ananda; sebuah pesan yang jelas untukmu.
Baris pertama:
العلم في الصغر كالنقش في الحجر
"Ilmu di waktu kecil bagai mengukir pada batu."
Ungkapan ini merupakan hadits marfu' riwayat Al-Baihaqiy. Islam adalah tuntunan yang mengutamakan ilmu pengetahuan, dan menuntut ilmu telah dianjurkan sejak seseorang masih kanak-kanak.
Baris kedua:
العلم في الكبر كالنقش في الكدر
"Ilmu di waktu tua bagai mengukir pada air keruh."
Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima, salah satunya, mudamu sebelum tuamu.

Dikutip dari group Mapesa

Post a Comment

0 Comments