Sabi' Khan, Tokoh [Lamuri] yang Bersemayam di Peulimbang


Meskipun Sendiri di Plimbang

Salah satu sungai di antara Krueng Pandrah dan Krueng Peudada di Kabupaten Bireuen adalah Krueng Nalan. Naluri saya mengatakan, nama seperti ini tampaknya menyimpan banyak hal yang belum tersingkap!
Di tepi kanan Krueng Nalan terletak wilayah Plimbang. Sekarang: Kecamatan Peulimbang. Pada Peta Administrasi Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen, 2012, muara sungai disebut Kuala Peulimbang. Ini berbeda dengan apa yang terdapat pada peta diterbitkan Dinas Topografi di Batavia (Topografichen dients) pada 1936. Peta topografi itu hanya menyebutkan Krueng Nalan dan Kuala Nalan. Perbedaan ini tampaknya beralasan karena suatu perubahan geomorfologis telah terjadi dalam rentang waktu antara 1936-2012. Hari ini, sebuah aliran sungai lain dari arah Gampong Seuneubok Plimbang telah menyandarkan muaranya di Kuala Nalan. Keterkenalan Plimbang yang mengatasi Nalan pada masa kemudian, barangkali, telah membuat kuala bersama itu lebih dikenal dengan Kuala Peulimbang. Sebelumnya, sebagaimana terlihat pada peta 1936, sungai dari arah Plimbang yang ditandai sebagai Krueng Nadoi bermuara persis di dekat muara Krueng Nalan, atau dengan kata lain, di titik pantai yang sama di mana Krueng Nalan bermuara. Di luar persoalan ini, Nalan dan Nadoi adalah dua nama yang semakin menarik perhatian!
Di masa lampau, Nalan adalah sebuah wilayah pemerintahan keujruen di bawah Samalanga. Keujruen adalah gelar pemerintah di negeri taklukan (vasal) Aceh, dan digunakan pula untuk gelar kepala departemen seperti Keujruen Blang (mengurusi persawahan), Keujruen Meuh (mengurusi penambangan emas), Keujruen Kuala (mengurusi wilayah khusus muara sungai).
Sekitar 1887, Teuku Chik Bugis, ulebalang Samalanga, menyerahkan wilayah Plimbang dalam Keujruen Nalan kepada menantunya, Maharaja Muda Lhokseumawe, Teuku 'Abdullah, untuk budi daya lada dengan penghasilan ekspor dibagi 2/3 (sumber: Mededeelingen Betrefende de Atjehsche Onderhoorigheden, 1902). Sehingga, tidak mengherankan jika di Kecamatan Peulimbang sekarang masih ditemukan nama gampong: Seuneubok Seumawe. Nama-nama gampong lain semisal Seuneubok Aceh, Seuneubok Nalan, Seuneubok Plimbang, Seuneubok Punti tentu juga dikarenakan aktifitas penanaman lada di daerah sekitar Krueng Nalan.
Sejarah lebih lampau tentang Keujruen Nalan belum dapat dijelaskan. Tetapi, Tuan Arhas, koordinator Mapesa di wilayah Kabupaten Bireuen, telah memberitahukan tentang sepasang batu nisan dari permulaan abad ke-15 yang ditemukan di Gampong Seuneubok Plimbang.
Tahun lalu, medio Agustus 2021 (7 Muharram 1443), Tim Mapesa yang dipimpin langsung Ketua Mapesa, Tuan Mizuar Mahdi, melakukan kunjungan singkat ke lokasi. Kedua batu nisan yang berada dalam sebuah kebun masyarakat tampak sebagaimana wajarnya penanda kubur. Dari lokasi ini, Kuala Peulimbang atau Kuala Nalan dapat terlihat di arah jarum jam 10.
Tim Mapesa dapat memastikan bahwa kedua batu nisan bergaya Lamuri dan berasal dari abad ke-9 H (ke-15 M). Lamuri merupakan sebuah mamlakah (kerajaan) Islam sebelum kesultanan Aceh di mana reruntuhan dan jejak-jejak sejarahnya ditemukan sampai dengan waktu ini di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Dengan membentangkan kekuasaannya di atas sebuah teluk indah yang memiliki nilai strategis di dunia pelayaran, Lamuri mencapai puncak kejayaannya hampir di sepanjang abad ke-9 H (ke-15 M). Teluk itu, hari ini, dikenal dengan Teluk Krueng Raya.


Dari seluruh sisi, baik bahan, bentuk, dimensi, inskripsi, maupun dekorasinya, kedua batu nisan tidak diragukan adalah batu nisan Lamuri. Keganjilan semata-mata muncul dari konteksnya.
Apakah kedua batu nisan telah menempati konteksnya hari ini sejak zaman pembuatannya?
Tidak ada batu nisan seera lainnya yang ditemukan di lokasi, bahkan tidak ada satu batu nisan peninggalan sejarah lain pun yang terlihat selain beberapa batu bulat yang hanya dapat menandai bahwa bidang tanah itu pernah digunakan untuk kuburan. Informasi tentang keberadaan makam-makam tua di sekitar lokasi atau dalam wilayah itu juga belum diketahui. Beberapa warga yang sempat dijumpai dalam kunjungan singkat Mapesa, malah, memberikan keterangan bahwa kedua batu nisan itu pada awalnya ditemukan di tepi laut lalu dipindahkan ke konteksnya yang sekarang. Terkait keterangan ini, informasi dapat dipertanggungjawabkan mengenai praktik penyalahgunaan batu nisan kuno sebagai jangkar perahu, perlu dipertimbangkan!
Di beberapa tempat terpisah, keberadaan satu kubur tunggal yang ditandai dengan batu nisan Lamuri adalah suatu hal yang dapat diterima. Misalnya, di kompleks pemakaman kesultanan Sumatra di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Ini dapat diterima karena satu kubur tunggal dengan batu nisan Lamuri di kompleks tersebut berada di antara sejumlah kubur dari era yang sama. Di tempat-tempat lain, berada di antara kubur-kubur dari masa setelahnya. Tetapi, satu kubur tunggal ditandai batu nisan Lamuri dan hanya satu-satunya kubur yang ditandai dengan batu nisan yang khas, ditambah dengan tidak ditemukannya kelompok makam yang dapat diasosiasikan dengannya, ini adalah suatu hal yang ganjil dan anomali! Keterasingan dalam konteks waktu dan tempat untuk sebuah kubur ditandai batu nisan yang khas, dan bahkan semua kubur, jelas merupakan suatu hal yang tidak umum. Hanya kondisi-kondisi tertentu dan sangat khusus yang memungkinkan keterasingan itu terjadi.
Keganjilan yang muncul disebabkan konteks keberadaan kedua batu nisan tidak mungkin tidak menimbulkan keraguan, dan pada gilirannya, menimbulkan pertanyaan: apakah mungkin Keujruen Nalan atau Plimbang memiliki sejarah selampau permulaan abad ke-15?
Untuk waktu ini, tentu, tidak ada alasan untuk menutup kemungkinan. Sebab, dari satu sisi, sejarah Aceh, secara umum, terabaikan oleh pewarisnya sehingga begitu banyak hal yang kemudian mengejutkan setelah tersingkap dengan baik! Dari sisi yang lain, pengetahuan tentang daerah Keujruen Nalan, mulai muara sampai hulu Krueng Nalan, atau Kecamatan Peulimbang, hari ini, sangat jauh dari memadai untuk dapat memberikan apapun penegasan.
Keujruen Nalan, terutama wilayah Plimbang, pernah terkenal dengan budi daya lada. Penghasilan lada dari wilayah ini, tampaknya, telah mendatangkan kemakmuran yang menyenangkan sampai-sampai seorang Maharaja Muda Lhokseumawe lebih memilih tinggal di Plimbang daripada kembali ke Lhokseumawe untuk menjadi Maharaja.
Teuku 'Abdullah adalah Maharaja Muda Lhokseumawe ketika itu. Saat ayahnya, Teuku Mahmud, meninggal dunia, ia masih kecil. Karena masih kanak-kanak, pemerintahan Lhokseumawe dipegang pamannya, Teuku Muhammad Sa'id, dan Teuku 'Abdullah sebagai Maharaja Muda (putra mahkota). 'Abdullah kemudian menikah dengan putri Teuku Chik Bugis, Ulebalang Samalanga. Oleh mertuanya, ia diserahkan wilayah Plimbang untuk membuka usaha budi daya lada. Setelah beberapa lama memantapkan dirinya dalam usaha tersebut, Teuku 'Abdullah dipanggil oleh pamannya, Teuku Muhammad Sa'id, untuk diserahkan apa yang menjadi kewenangannya sebagai Maharaja Lhokseumawe. Namun, Teuku 'Abdullah lebih bersedia untuk tetap menjadi Maharaja Muda Lhokseumawe dan tinggal di Plimbang sebagai pengusaha lada. Ia baru menjadi Maharaja Lhokseumawe setelah pamannya meninggal dunia pada 1897 (Disunting dari: Mededeelingen Betrefende de Atjehsche Onderhoorigheden, 1902).
Wilayah Plimbang, atau Keujruen Nalan secara umum, tampaknya, tidak hanya menyimpan kisah-kisah semisal itu. Nama-nama sungai seperti Nalan dan Nadoi tambah membangkitkan rasa ingin tahu tentang daerah subur ini. Keberadaan sepasang batu nisan Lamuri di Plimbang, meskipun diselimuti suatu keganjilan, tidak mungkin dianggap sebagai sesuatu yang muncul secara sporadis atau di luar konteksnya sebelum penyelidikan yang lebih luas dan seksama dilakukan.
Kedua batu nisan memang sangat khas Lamuri dari berbagai sisinya, namun bunyi inskripsi juga memberikan beberapa hal khusus. Jenis khath yang digunakan merupakan modifikasi dari beberapa jenis khath, dan tampak terang sebagai sebuah khath yang diornamentasi (muzakhraf).
Pada batu nisan yang ditempatkan pada kaki kubur, inskripsi berbunyi:
1. هذا قبر العبد
2. الضعيف سابع خان
3. قاربت له الآخرة
1. وقت العشاء يوم سبع من شهر
2. ذو الحجة سنة ثمان مائة
3. واثنان وعشرين من الهجرة
Terjemahan:
Inilah kubur hamba yang lemah, Sabi' Khan. Akhirat mendekatinya pada waktu 'Isya' hari 7 (9) dari bulan Dzulhijjah, tahun 822 Hijriah.


Kalimat "al-'abdu adh-dha'if" (hamba yang lemah) lazim ditemukan pada batu-batu nisan Lamuri yang terdapat di kawasan situs Gampong Lamreh, dan merupakan kekhususan yang menonjol. Tapi, nama atau gelar "Sabi' Khan" yang secara harfiah berarti khan atau raja ketujuh adalah sesuatu yang baru ditemukan. Gelar "khan" pada batu nisan Lamuri tidak pernah dijumpai di Lamreh atau di mana pun sebelum ini. Sabi' Khan dapat bermakna khan atau raja dalam urutan yang ketujuh, atau dapat juga dipahami sebagai khan di wilayah yang ketujuh. Jika itu bermakna khan di wilayah ketujuh, apakah wilayah ketujuh yang dimaksud adalah daerah Keujreun Nalan, atau daratan di antara Krueng Nalan dan Krueng Nadoi?
Kalimat selanjutnya, "qarabat lahu-l-akhirah", akhirat menjadi dekat baginya, adalah sebuah kiasan (Arab: kinayah) yang bermakna: ia telah meninggal. Kiasan seperti ini tidak pernah dijumpai sebelumnya, baik di kawasan situs Lamreh maupun lainnya. Kiasan yang paling umum digunakan pada batu nisan Lamuri untuk menyatakan meninggal adalah "nuqila mi ad-dunya" (نقل من الدنيا), dipindahkan dari dunia. Kalimat "qarabat lahu-l-akhirah", dengan demikian, juga merupakan suatu hal yang khusus ditemukan pada batu nisan ini.
Almarhum wafat pada waktu 'Isya', tanggal 7, سبع, dan seperti biasanya, antara tulisan سبع dan تسع (9) terkadang membingungkan. Hanya jarak antara huruf pertama dan kedua yang dapat memastikan apakah itu 7 atau 9. Jika jarak huruf pertama dan kedua terlihat setelah tiga gigi huruf "sin", maka itu adalah 7, سبع. Sebaliknya, jika jarak antara huruf pertama dan kedua terlihat setelah satu gigi pertama (gigi huruf ta'), maka itu adalah 9, تسع. Tapi, tidak jarang pada inskripsi batu nisan, jarak di antara dua huruf ini tampak sangat kabur. Jika disebutkan nama hari, barangkali masih ada kesempatan untuk menemukan tanggal yang lebih akurat.
Untuk tanggal pada batu nisan ini, saya lebih cenderung meyakini bahwa itu adalah 7, سبع, dengan kemungkinan yang terbuka untuk 9, تسع. Dan, jika ini adalah tanggal 7, maka itu sehari sebelum hari Tarwiyah. Jika tanggal 9, maka hari 'Arafah. Sebab, Almarhum meninggal dunia dalam bulan Dzulhijjah (bulan haji) tahun 822 Hijriah, yang bertepatan dengan penanggalan masehi: Ahad, 2, atau Selasa, 4, Januari 1420.
Dengan penanggalan wafat tersebut, Sabi' Khan merupakan tokoh [Lamuri] yang meninggal dunia setelah Malik Syamsuddin dan Malik 'Alawuddin wafat di bulan Ramadhan tahun hijriah yang sama. Batu nisan kubur kedua Malik (raja) itu berada di kawasan situs Lamuri, Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Inskripsi pada batu nisan di kepala kubur berbunyi:
1. نصر من الله
2. وفتح قريب
3. وبشر المؤمنين
1. الله تعالى
1. القهار
1. إنه لقول كريم
2. في كتاب مكنون
3. لا يمسه إلا المطهرون
Terjemahan:
"Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat [waktunya]. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin." (Al-Qur'an, surah Ash-Shaf: 13). Allah Ta'ala (Yang Maha Tinggi). Yang Maha Menundukkan. "Dan ini sesungguhnya Al-Qu'ran yang sangat mulia. Dalam Kitab yang terpelihara. Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan." (Al-Qur'an, surah Al-Waqi'ah: 77-79)


Ayat 13 surah Ash-Shaf sering ditemukan terpahat pada batu nisan peninggalan sejarah di Aceh. Pada saat turunnya, ayat ini memberitakan tentang pertolongan dan kemenangan yang akan Allah berikan kepada orang-orang Mu'min. Sebagian mufassir mengatakan, itu adalah kemenangan di atas Quraisy dan pembebasan Makkah. Sebagian yang lain mengatakan, pembebasan Romawi dan Persia (Ibnu Katsir). Ayat ini dengan terang menanamkan keyakinan pada orang-orang Mu'min bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya akan datang dalam apapun usaha mereka mendakwahkan Islam. Pemahatan ayat ini pada batu-batu nisan kubur sudah sepatutnya untuk menampilkan apa yang diyakini pemilik kubur begitu pula usahanya dalam dakwah. Bahkan, pemahatan tersebut terkesan sebagai suatu pernyataan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan dari-Nya memang terbukti benar. Pemilik kubur telah menyaksikannya sendiri.
Untuk Sabi' Khan, pernyataan itu ditegaskan lagi lewat sebuah pernyataan yang menandakan kerendahan hati. Sesungguhnya bukanlah dia yang menaklukkan, tapi Allah Ta'ala-lah Yang Maha Menundukkan, Allah Ta'ala Al-Qahhar.
Sampai dengan waktu ini, kalimat Allah Ta'ala Al-Qahhar, الله تعالى القهار, pada batu nisan Lamuri, hanya ditemukan di sini. Ini tentunya juga merupakan hal khusus. Kalimat tersebut ditulis dengan khath berornamen dan tampak dalam tampilan semacam lambang--saya membayangkan jika kalimat itu dilukiskan di bendera atau panji-panji, bahkan di layar kapal; panji bertulis الله تعالى القهار!
Ayat-ayat lainnya yang terpahat pada batu nisan adalah dari surah Al-Waqi'ah: 77-79. Batu nisan ini adalah satu dari dua batu nisan di mana ditemukan ayat-ayat tersebut sampai dengan sejauh ini. Satu batu nisan lainnya adalah batu nisan Lamuri yang ditemukan di kawasan situs Lamreh. Batu nisan di Lamreh ditemukan ex situ dan dalam kelompok batu nisan yang sudah sangat kacau. Sulit, kerenanya, untuk menentukan kubur siapakah yang ditandai dengan batu nisan tersebut.
Mengenai ayat-ayat ini, saya telah membicarakannya dalam tulisan lain jauh sebelum ini (periksa, Mapesa Aceh: Nisan-nisan Kerajaan Lamuri di Lamreh dan Kuta Leubok, Aceh Besar, Bagian (2). Di sana, saya mengungkapkan bahwa relevansi ayat-ayat ini dengan tema kematian tidak dapat dipahami. Saya lantas mengalihkan perhatian kepada ayat-ayat yang mendahuluinya (ayat 75-76) di mana Allah menyatakan tidak bersumpah dengan tempat-tempat terbenam bintang walaupun itu suatu sumpah yang agung. Karena ayat-ayat tersebut menyinggung tentang tempat-tempat terbenam bintang, saya pikir, ini punya kaitan dengan keletakan Lamreh. Saat itu, saya kira, pemahatan Al-Waqi'ah: 77-79 pada batu nisan adalah untuk mengisyaratkan sesuatu tentang astronomi yang terkait dengan keletakan Lamreh.
Dalam penyelidikan saya pada waktu itu, saya benar-benar tidak tersadar dengan satu persoalan yang mencuat dari dalam ayat ini, yaitu tentang makna:
لا يمسه إلا المطهرون
"Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan."
Para ulama mengacu kepada ayat ini sebagai dasar larangan menyentuh Al-Qur'an dalam keadaan tidak suci dari hadats dan najis. Menurut sebagian mereka, orang yang tidak suci hatinya dari kemusyrikan dan kekufuran. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hamba-hamba yang suci dalam ayat ini adalah para malaikat, para rasul dan nabi. Namun dalam hal ini, Imam Ath-Thabari melihat bahwa yang dimaksud dengan mereka yang suci adalah umum, tidak khusus para malaikat, para rasul dan nabi, tapi juga semua orang yang suci dari dosa-dosanya (Tafsir Ath-Thabari).
Penjelasan Imam Ath-Thabari menyadarkan saya akan suatu relevansi antara ayat-ayat tersebut dengan tujuan pemahatannya di batu-batu nisan kubur. Pemahatan ayat 77-79 dari surah Al-Waqi'ah, tampaknya, ingin mengisyaratkan bahwa pemilik kubur adalah salah seorang yang diharapkan berada di antara orang-orang yang diampuni dan disucikan dari dosa-dosanya (al-muthahharun). Relevansi ini tampak lebih meyakinkan bagi saya daripada apa yang pernah saya utarakan sebelumnya. Dan, kali ini, suatu hal yang juga ikut terpikirkan, apakah pembuat batu nisan atau perancang teks pada batu nisan juga merujuk pendapat Ath-Thabari yang wafat pada 310 H (923 M)? Dalam perjalanan sejarah Islam sudah tentu sangat banyak hamparan maha luas di mana lintas generasi dapat bertemu!
Inskripsi pada kedua batu nisan ini dengan terang memperlihatkan beberapa kekhususan yang bisa saja mewajarkan keberadaan Sabi' Khan yang jauh dari Mamlakah Lamuri di Lamreh sejak permulaan abad ke-9 H (ke-15 M). Tapi walau bagaimanapun, dan meskipun sendiri di Plimbang, batu nisan itu adalah penanda kubur seorang pengusung panji الله تعالى القهار (Allah Ta'ala Yang Maha Menundukkan).
Punge Blangcut, 8 Rabi'ul Akhir, 1444.

Posting Komentar

0 Komentar