Momen-momen Indah


Momen-momen Indah

Tidak tahu persis, tapi saya menduga tilawatul-Qur'an yang terdengar di setiap sebelum azan berasal dari Masjid Raya Baiturrahman. Tilawatul-Qur'an itu sepertinya dipancarkan langsung lewat radio. Masjid-masjid lain sekitar Banda Aceh membuka siaran tersebut, menyalurkannya ke pengeras suara, dan dalam waktu hampir serentak tilawatul-Qur'an bergema mengisi semua ruang dan celah.
Di wilayah barat Banda Aceh seperti Punge, Lamjabat, Surin, Bitai dan lainnya, perambatan gelombang bunyi yang membawa bacaan Al-Qur'an tertangkap jelas, dan terkesan seperti tengah memperagakan bagaimana ayat-ayat Allah sampai ke suatu tempat lalu ke lainnya hingga pelosok yang jauh di segala penjuru.
Tidak tahu setinggi mana bacaan Al-Qur'an itu akan terdengar di udara, dan entah sejauh mana gemanya akan tertangkap telinga di atas permukaan laut. Tapi yang jelas, perasaan batin menggambarkannya sebagai momen-momen di mana lembah Aceh, dan terutama kotanya, seperti tengah disirami anugerah, dipulihkan kehidupannya, diresuplai kekuatannya, dan disegarkan. Dalam masa di mana momen-momen spiritual yang menggembirakan ruh semakin menyusut di bekas Bandar Aceh Darussalam, bacaan Al-Qur'an tiap sebelum azan adalah di antara momen-momen indah yang masih tersisa.
Bacaan Al-Qur'an sebelum azan adalah kebiasaan yang telah berlangsung lama. Untuk sejak sekitar 40 tahun lalu, saya dapat memastikannya, tapi saya yakin, itu sudah berlangsung lebih lama. Bacaan Al-Qur'an sebelum azan juga sudah lama dipahami sebagai penanda untuk surut dari apapun aktivitas dan bersiap-siap untuk shalat. Sebagai penanda akan masuk waktu shalat, bacaan Al-Qur'an sebelum Shubuh, Maghrib dan Jum'at menempati tingkat kepentingan teratas bagi masyarakat luas mengingat tenggang waktu pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut terbatas, dan orang-orang perlu bersiap-siap lebih awal. Teguran dalam Bahasa Aceh semisal "Hai pue lom?! Di mesjid ka ibeut!" (Tunggu apa lagi?! Di masjid sudah mengaji!) adalah teguran yang tidak asing untuk mengingatkan waktu shalat yang akan segera tiba.
Meskipun sudah merupakan kebiasaan, saya tidak mengira bahwa suatu hari kemudian--dan hari tersebut sudah berlalu sejak beberapa tahun silam--saya akan menyadari bahwa bacaan Al-Qur'an sebelum azan ternyata merupakan momen-momen di mana jiwa negeri dan kota yang sudah berusia tua ini memperoleh kekuatannya, menambah rimbun daun-daunnya, serta mengokohkan pokoknya untuk terus bertahan di tengah berbagai arus yang coba menumbangkan. Jiwa itu, pada hakikatnya, telah lama bersemayam; semenjak negeri dan kota ini mengukuhkan ketinggian Islam ratusan tahun yang silam. Dalam gema wahyu Ilahi yang meratai semua penjuru lembah, perasaan batin diarahkan untuk melihat dengan terang jiwa yang telah lama bersemayam itu.
Tilawatul-Qur'an di Masjid Raya Baiturrahman pastilah oleh para qari' terpilih. Mereka tidak hanya memiliki suara merdu yang selaras dengan kewibawaan Al-Qur'an, tapi juga mampu mengantarkan kesan makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang mereka baca. Itu tentunya karena mereka memahami dan menjiwai ayat-ayat suci yang mereka baca. Bagi saya sendiri, bacaan Al-Qur'an oleh para qari' Masjid Raya Baiturrahman--walaupun saya belum memperoleh kehormatan untuk mencium tangan mereka--jauh lebih berharga dan bermakna dari banyak ceramah atau pengajian yang isinya tidak bersubstansikan Al-Qur'an dan Sunnah seperti diajarkan oleh seluruh ulama Islam. Semoga Allah senantiasa Melimpahkan rahmat dan lindungan-Nya kepada para qari' serta Menganugerahkan bagi negeri ini keramaian Ahlul-Qur'an.
أهل القرآن أهل الله وخاصته
"Ahlul-Qur'an adalah auliya Allah dan orang-orang khusus-Nya" (Petikan hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad dari Anas bin Malik--Radhiya-Llah 'anhu)
Saat kota dan berbagai tempat sedang semak dengan wajah-wajah tanpa gagasan yang bermunculan di mana-mana, dan membuat suasana kota tercekik oleh aktivitas politis lewat cara pemograman alam bawah sadar (Psikologi: priming) yang membosankan, bacaan Al-Qur'an sebelum azan adalah momen-momen yang membebaskan, melegakan, mengarahkan kembali fokus kepada Yang Maha Agung, Maha Tinggi, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan karena itu, bacaan Al-Qur'an sebelum azan menjadi momen-momen paling indah dalam keseharian kota dan negeri ini.
Bacaan Al-Qur'an mengarahkan fokus kepada Maha Pencipta, dan menyadarkan kemahakuasaan-Nya yang mutlak. Begitulah, kiranya, dulu ketika kota dan negeri ini dibangun dan dimakmurkan. Bacaan Al-Qur'an mengisi segala ruang di mana kehidupan Muslim berdetak supaya fokus selalu tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di setiap waktu, baik dalam kegembiraan maupun kemalangan. Saat seorang sultan yang adil, bijak, kuat, dicintai dan dikagumi rakyatnya meninggal dunia, orang-orang yang hidup di zaman itu tidak mau kehilangan fokus. Mereka juga, tampaknya, tidak ingin generasi setelah mereka kehilangan fokus. Mereka seperti ingin memberitahukan lewat media yang mampu melintasi zaman bahwa sebagaimana ketauhidan telah menghidupkan jiwa kota dan negeri ini, maka bacaan Al-Qur'an adalah satu-satunya hal yang mampu mengusir duka dan menggembirakannya. Untuk itu, pemahat andal telah ditugaskan untuk mengukir ayat-ayat Surah Yasin secara lengkap pada badan makam peringatan Sultan 'Ala'uddin Ri'ayah Syah ibnu Sultan 'Ali Mughayah Syah--semoga Allah merahmati keduanya.
يس (1) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4) تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (6)
Arti: Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, agar engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai. (Surah Yasin: 1-6)
Itu supaya fokus perhatian Mu'min selalu terarah kepada Maha Pencipta!
Dengan diliputi rasa syukur atas karunia momen-momen indah itu, selalu saja terlintas harapan andai kata pengurus setiap masjid di mana pun dapat memberikan perhatian lebih besar ke sisi 'ubudiyyah dan spiritual dibanding sisi fisik dan sarana, atau setidaknya, berimbang. Berbagai kebiasaan yang baik semisal tadarus menggunakan pengeras suara di malam-malam Ramadhan, baiknya, memperoleh perhatian dan penertiban yang seksama supaya tidak berubah menjadi gangguan, apalagi sampai menurunkan kehormatan Al-Qur'an yang merupakan perbuatan munkar.
اللهم اجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وجلاء أحزاننا، وذهاب همومنا وغمومنا
"Tuhan kami, jadikanlah Al-Qur'an yang agung sebagai musim semi hati kami, cahaya yang menerangi dada kami, pengobat duka kami, dan pengusir gundah dan cemas kami!"
Gambar:
Ayat-ayat permulaan Surah Yasin pada badan makam Sultan 'Ala'uddin.
Punge Blangcut, 21 Ramadhan 1444




Posting Komentar

0 Komentar