Kompleks Makam dan Zawiyah Teungku Chik Krueng Kale

 Ekspedisi Krueng Kale (2)


Postingan ini merupakan publikasi kedua dari ekspedisi Krueng Kale yang dijalankan oleh Aceh Darussalam Academy bersama dengan PEDIR Museum dan MAPESA pada Selasa, 10 Rabi’ul Awal 1442 H/ 27 Oktober 2020.

Situs kedua yang dituju adalah kompleks makam dan zawiyah Teungku Chik Krueng Kale, di Gampong Krueng Kale, Mukim Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berjarak sekira 700 meter dari Dayah Darul Ihsan yang didirikan oleh Teungku Haji Muhammad Hasan (Abu Hasan Krueng Kale) dan 1 kilometer dari kompleks makam Teungku di Krueng Kale Muhammad Sa’id.

Seorang keturunan Teungku Chik Krueng Kale, yang juga penjaga makam, Teungku Rajudin, mengatakan, nama Teungku Chik Krueng Kale bernama Syaikh Isma’il.

“Teungku Chik Krueng Kale hidup sebelum agresi Belanda ke Aceh. Menurut cerita, ketika Belanda menduduki Krueng Kale pada tahun 1893, mereka menjadikan kompleks makam dan dayah sebagai pos konsentrasinya. Maka dari itu, pelacakan dokumen dan sumber sejarah tentang kawasan ini pada masa Belanda mesti diberikan perhatian,” kata Teungku Rajudin.

Bangunan dari cungkup (Bahasa Aceh; Keuramat) Teungku Chik Krueng Kale dihiasi dengan ornamen yang khas pada setiap sudut (gaseue, bue teungeuet, selengkapnya baca: J.Kremee, Aceh, J.Brill 1931) dan bagian diri tengah dari kontruksi. Sisi utara dan selatan terdapat juga ornamen boh ru yang berukir indah. Sudut timur dari cungkup makam terdapat inskripsi kalimat tauhid yang indah. Inskripsi tersebut berbunyi:

لا إله إلا الله محمد لا إله إلا الله محمد رسول الله لا إله إلا الله محمد رسول الله

Beberapa meter ke arah barat dari cungkup makam, terdapat balai pengajian yang merupakan zawiyah peninggalan Teungku Chik Krueng Kale.

“Pasca kemerdekaan, bangunan zawiyah dan aktivitas pendidikan sudah tidak lagi berlangsung. Bahkan pada masa DI/TII manuskrip (naskah-naskah tulis tangan) peninggalan dari Teungku Chik Krueng Kale sudah rusak dan hancur, sehingga kemudian dibakar. Saat ini, bagian dari bangunan zawiyah yang masih asli adalah tiang-tiang dan bagian dinding bawah yang dipenuhi seni ukir yang sudah dimakan zaman,” kata Teungku Rajudin.

Dalam kompleks ini ditemukan pula dua sumur berbahan batu bata, 1 sumur batu kali yang diturab dan kolam-kolam air dengan struktur batu bata yang difungsikan sebagai tempat pengambilan air wudhuk. Temuan penting lainnya juga teknologi teknik fisika dasar 'water level' untuk mengalirkan air dari sumur yang dialirkan ke dalam kulah (bak) air melalui wadah tuangan.

Batu-batu nisan dengan tipologi khas mukim 26 dijumpai dalam jumlah banyak di kompleks ini, beberapa di antaranya sudah terbongkar dan tidak posisi asalnya. Terdapat juga dua gundukan dengan batu nisan dengan tipologi yang sama masih pada posisi asalnya. Batu-bata dalam berbagai ukuran juga berserakan, sebagian ditumpuk dengan bekas kontruksi lama.

Dengan temuan-temuan penting yang terdapat di Gampong Krueng Kale, khususnya pada kompleks zawiyah dan makam Teungku Chik Krueng Kale, perlu ada perhatian yang serius dari semua pihak, terutama menggalakkan kajian-kajian yang akan mengungkapkan keberadaan tokoh-tokoh dan informasi sejarah yang ada di Gampong Krueng Kale dan sekitarnya.

Berikut gambar-gambar dari kompleks makam dan zawiyah Teungku Chik Krueng Kale Syaikh Isma’il yang berada di Gampong Krueng Kale, Kemukiman Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Gambar-gambar direkam oleh Irfan M Nur


Lihat video Kompleks Makam dan Zawiyah Teungku Chik Krueng Kale Syaikh Isma’il


 

Tim ekspedisi:
Masykur Syafruddin (Luengputu Manuskrip Aceh)
Anharullah Anharullah
Dedy Afriadi (Dedy Kalee)

Postingan ini disiarkan oleh Luengputu Manuskrip Aceh(Direktur PEDIR Museum).


Postingan ini disiarkan pertama sekali oleh Fanpage Aceh Darussalam Academy

Postingan terkait:


Gallery Foto

























































Post a Comment

0 Comments